Hari itu aku khusus dijemput tanteku ke kost, karena dia, pria yang akan dikenalkan padaku mendadak sms om ku dengan tujuan untuk mengenal diriku lebih jauh juga ingin bertemu langsung dengan mamaku. Dan kebenaran juga saat itu mama sudah berada di sana, karena beberapa hari ke depan akan menghadapi pernikahan adikku di bulan Januari.
Aku tidak mengira sama sekali dia akan meneruskan proses perkenalan setelah melihat fotoku. Terhitung sejak dia melihat fotoku sampai detik ini...lama tidak ada kabar kelanjutannya. Aku sudah tidak pernah memikirkannya lagi. Mungkin dia tidak berniat serius.......
Namun, hari itu...tanpa aku duga....akhirnya dia datang juga ke rumah omku. Dan tanteku yang paling semangat berapi-api sampai harus menjemput diriku khusus. Dia terus menyemangati diriku...dan memberi saran pakaian apa yang sebaiknya aku pakai. Fuiiih.....
Beliau bilang...biar menyesuaikan dengan kelompok kajiannya. "Pake yang warnanya agak gelap ya....namanya juga usaha Des...," lanjutnya lagi.
"Tapi ntar ngga sesuai kenyataan dong tante....ntar dia kecewa lagiii..." sanggahku.
"Ups...ya udah deh...pake aja yang Dessy anggap nyaman...." akhirnya menyerah juga si tante.
Finally, aku pakai baju warna hijau tua, dengan rok warna senada. Apapun yang akan terjadi...terjadilah....aku tidak berani berharap lebih.
Singkatnya....pertemuan itu terjadi. Dan selama dalam perjalanan dari tempat kost ke rumahnya....tanteku tak henti2nya berdoa dan berkhayal tentang pernikahanku. Semua hal sudah dia rancang. Pokoknya benar-benar SEMANGAT....
Aku hanya tertawa dan tersenyum...."Tante jangan terlalu semangat ahhh...belum tentu juga dia mau ama Dessy...."
"Tante yakin Des...dia serius...buktinya sekarang udah datang mau ta'aruf (kenalan, red)," tak mau kalah dia jawab lagi.
Pasrah saja diriku....
Penampilannya seperti yang aku bilang sebelumnya....menggambarkan aktivis pengajian banget. Dengan penampilan mengikuti "Rasulullah", celana cingkrang, berjanggut. Begitu sederhana.
Akhirnya sang mediator dan dia pribadi mengutarakan maksud kedatangannya. Yup..tentu saja ingin mengenal lebih jauh dan serius mencari istri untuk dinikahi.
Aku menyimak tiap kata yang keluar dari bibirnya. Aku tak menampik....bila ia berniat serius...aku siap. Masalah umur pun tak menjadi masalah antara kami. Karena dia jauh lebih muda dari diriku. Juga perbedaan suku, pendidikan, dan masalah perbedaan harakah (pergerakan, red.)
Akhirnya...kata-kata yang terlontar dari bibirku ketika itu, "Insya Allah saya siap menikah. Namun jangan membayangkan saya sempurna dan baik dalam segala hal. Saya masih sangat jauh dari itu semua. Namun yang akan menjadi suami saya harus siap membimbing dan menjadikan saya lebih baik lagi."
Hanya itu yang aku sampaikan....
------------------------
2 minggu setelah itu....dia memberi jawaban via omku...
"Insya Allah ana bersedia menikah dengannya, namun ada beberapa yang ingin ana sampaikan kepada calon istri ana...."
(aku masih ingat....ada 4 poin)
Aku rasa tidak perlu dijabarkan di sini.
Aku merespon tidak lama setelah dia mengajukan komitmen tersebut. Jujur aku tidak langsung memberi jawaban. Mungkin ada kira-kira 4 hari aku baru menjawabnya. Ketika itu aku benar-benar di ambang kebimbangan. Benarkah ia yang Allah beri untukku? Benarkah ia telah siap menjadi imam dan suami bagiku?? Bagaimana dengan perbedaan-perbedaan pandangan yang mungkin belakangan akan muncul di kemudian hari? Beribu ragu menyerang....Sungguh sulit aku memberi jawaban. Dia begitu soleh...sedangkan aku???
Akhirnya aku tidak berkeberatan sama sekali dengan keempat poin yang dia ajukan. Dan aku pun telah siap bila harus meninggalkan "teman-teman dan guru" yang selama ini membersamaiku. Bukan Dessy namanya bila harus langsung menjawab YES....aku pun mengajukan beberapa poin komitmen untuk ke depan. Dan aku mengajukan 8 poin, juga data pribadiku via email si om sebagai mak comblang atau perantaraku.
Sementara menunggu kelanjutan kabar dan follow up selanjutnya....seperti yang sudah-sudah...tante dan mamaku terus saja berkhayal seandainya aku menikah kelak. Aku sendiri menanggapi dengan biasa-biasa dan datar-datar saja. Mengapa?? Karena semuanya belum jelas. Khitbah pun belum ada. Apalagi untuk rencana menikah. Namun tanteku emang yang paling semangat sekali. Apalagi ini atas hasil ikhtiar suaminya. Dia selalu tidak sabar menanyakan kabar kelanjutan prosesku dengan dia. Ahhh....begitu besar harapannya agar aku segera menikah....
-------------
Kemudian, di tanggal 26 Januari 2009, jam 6 pagi, sesaat sebelum aku berangkat dalam sebuah acara di mana aku menjadi panitia di dalamnya....om ku memberitakan kabar yang sudah dapat aku duga....
"Dessy...om mohon maaf. Mungkin ini sudah yang ketiga kalinya om berusaha mengenalkan Dessy. F (nama dia) sudah memberi jawaban kemarin saat selesai sholat Jumat. Namun om belum menemukan waktu yang pas bagaimana harus menyampaikannya...." sejenak dia berhenti berkata.
Mama dan tanteku terdiam.
"Silakan om...sampaikan aja. Dessy siap terima jawaban apapun itu." aku menguatkan hati.
"Mmm...begini....setelah dia lihat biodata Dessy...dia menjadi tidak siap. Dia tidak percaya diri bisa membimbing Dessy. Jadi dia mengatakan mundur dari proses ini." Dengan suara berat omku menyampaikan berita itu.
"Dan dari pembicaraan kemarin...dia menyadari dirinya tidak memiliki leadership yang kuat. Jadi dia khawatir tidak bisa membawa Dessy ke arah seperti yang dia inginkan...apalagi dengan membaca kegiatan Dessy selama ini dari data tsb" lanjut omku lagi.
Air mataku tak tertahan...perlahan menitik. Allahu akbar....Allah maha tau yang terbaik bagiku...kataku dalam hati. Aku memang tidak cukup baik untuk dirinya.
"Ngga papa om. Insya Allah ini yang terbaik....." aku tidak tau harus berkata apa-apa lagi.
Tanteku juga terlihat begitu kecewa. Beliau begitu berharap aku jadi menikah dengan dirinya.
Mamaku pun langsung memberi wewejangan agar aku jangan kecewa terus menerus, jangan menutup diri....karena Allah pasti akan beri. Namun waktunya yang belum tepat.
Orang-orang sekitarku selalu membesarkan hatiku....terutama mama, tante, adik, dan omku.
Kalau masalah hatiku sendiri?? Sedikit kecewa pasti ada....namun karena dari awal aku tidak berani berharap lebih....jadi perasaanku datar-datar saja. Kekecewaan itu terjadi bukan hanya sekali dua kali...namun telah berkali-kali. Aku seakan menjadi kebal.
Aku tau...Allah masih terus menguji kesabaranku dalam hal yang satu ini.
Aku tau...aku masih jauh dari kriteria baik...dan Allah mau aku menjadi wanita lebih baik lagi
Aku tau...banyak hal yang Allah anggap harus aku perbaiki sebelum aku bertemu dengan seseorang yang IA pilihkan....
Ya....DIA masih terus mendidik diriku menjadi wanita solehah...sebelum aku benar-benar bertemu dengan pria soleh itu....
------
Ketika kudengar jawaban itu...
------
Saat Allah menjawab doamu, Ia meminta imanmu
Saat Allah belum menjawab doamu ia meminta kesabaranmu
dan Saat Allah menjawab tapi bukan doamu, Ia memilihkan yang terbaik untukmu
Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang sabar ...
Amin
Saat Allah belum menjawab doamu ia meminta kesabaranmu
dan
Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang sabar ...
Amin
Background Music (Sad Piano) - Instrumental