
Bagiku dan mungkin bagi sebagian besar wanita lajang atau siapapun dia, berbicara masalah jodoh, dan lagi-lagi jodoh, adalah sesuatu yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Jodoh adalah misteri Ilahi. Misteri dari sesuatu yang belum diketahui dengan pasti. Misteri menimbulkan tanda tanya. Misteri mengusik keingintahuan kita sebagai manusia. Seperti sebuah rahasia besar yang harus diungkap.
Kita berteman dengan banyak orang, menjalin persahabatan dengan beberapa orang, berpacaran sekian tahun dengan seseorang, berinteraksi dengan berbagai kalangan, namun pada akhirnya yang menjadi jodoh adalah seseorang yang berada di luar lingkaran. Atau mungkin juga dengan seseorang yang tidak diduga sama sekali keberadaannya selama ini. Atau bisa juga dengan seseorang yang memang benar-benar dekat dalam suatu komunitas. Atau barangkali dengan seseorang yang selama ini dibenci...eh malah jadi jodoh. Wallahu alam....
Begitu pula diriku. Siapa yang sangka perkenalan dan pertemanan singkatku dengan dia membuahkan hasil akhir berupa pertemanan hidup yang diikat oleh sebuah perjanjian kuat di hadapan Allah. Siapa dapat menduga jalan yang aku tempuh selama ini dalam menemukan dan menjemput belahan jiwa mulai dari 6 tahun kemarin, beranjak dari sebuah majelis ilmu ke majelis ilmu lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu acara dan event ke acara yang lain, dari ajang reuni satu ke ajang reuni yang lainnya. Semua dirambah tanpa kenal lelah. Demi dia penggenap separuh dien. Dari diperkenalkan teman-teman sampai om dan tanteku turun tangan pula. Semua sarana yang dapat mendekatkan aku dan sang jodoh dicoba semua.
Akhirnya, jodohku malah melalui orang tua kami masing-masing. Aku dan dia dijembatani alias dicomblangi oleh orang tua kami sendiri. Ternyata, tempat tinggal dia yang kini menjadi suamiku tidak jauh dari rumah orang tuaku di Bandung. Ternyata dia satu kampus dengan adikku di Unpad, walaupun tidak satu jurusan. Ternyata dia anak Bandung asli yang mulai dari orok sampai tumbuh jenggot terus-terusan berada di Bandung (kecuali saat ini, karena sedang tugas di luar kota). Ya ampun...kemana saja selama ini aku dan dia? Berkali-kali aku bolak balik Bandung-Jakarta, tapi tidak pernah bertemu dengan sosoknya yang menurut pengakuannya walaupun hitam tapi manis. Berulang kali aku pulang ke Bandung dan berkunjung ke kampus adikku, tapi tidak pernah menangkap sosoknya yang imut-imut itu. Sekian lama dan sekian tahun aku mencarinya malah semakin tidak kutemui. Grrrrrrrr...!!!
Banyak persamaan-persamaan lain yang aku temui antara aku dan dia. Ternyata asal usul nenek moyang dia dari pihak Ibunya juga dari Banten sama dengan asal usul dari pihak mamaku. Mungkin kalau ditarik-tarik garis keturunan, bisa jadi kami adalah saudara jauh yang terputus di satu garis. Yang satu ini belum aku temukan.
Ternyata yang lainnya adalah kami terlahir sama-sama sebagai anak pertama. Kami berdua sama-sama dilangkahi oleh adik yang kedua. Dan ternyata......karakter diri dan cara bicaranya amat mirip dengan penyiar favoritku di salah satu stasiun radio. Dulu aku sempat berdoa dalam hati..."Senengnya kalau punya suami seperti penyiar ini...ketawaaa melulu..." Ealah...dan ternyata lagi-lagi benar-benar mirip kegokilannya dengan si penyiar itu. Dan ternyata yang terakhir adalah bahwa kami berdua ternyata sama-sama klik dan sepakat melangkah ke jenjang yang lebih serius walau belum saling tatap fisik secara langsung.
Itulah jodoh...tak bisa ditebak kapan datangnya, dengan cara bagaimana. Tapi dibalik itu semua Allah beri keyakinan lebih untuk saling menerima pasangan apa adanya dia.
Mengapa kami tidak dipertemukan ketika usiaku tidak mendekati warning (fuihh)? Mengapa dia berpacaran dengan sekian gadis sebelum bertemu denganku? Kenapa ngga dari dulu aku bertemu dia dan langsung segera menikah? Mungkin kami sudah memiliki anak-anak yang lucu-lucu...Tapi kata Allah, kita ngga boleh berandai-andai. Dan itulah saat yang tepat Allah pertemukan aku dengannya dengan cara yang indah pula.
Yah itulah misteri. No one knows...
Ada sebuah percakapan singkat via YM yang sempat aku simpan. Percakapan singkat dengan salah satu temanku di sebuah komunitas buku. Sebut saja namanya Ina.
Ina : Assalamu'alaikum ..tok...tok...tok
Aku : Alaikumsalam, pa kabar?
Ina : baik....
aku baru aja baca blognya mbak dessy....subhanaallah...tau ga? aku mpe merinding lho bacanya. Salut...berani ambil keputusan. Tapi insya Allah berbuah baik mba...Niat mba kan baik yah...aku jadi terharu aja...mpe pengen nangis
Aku : Subhanallah...masa sih mba Ina?
Ina : Yup
Aku : Mudah-mudahan mba Ina diberi juga yang terbaik yaa...
Ina : Nih masih aja merinding...amin...
Aku sih dah kepengen banget. Mamah dah sampe puasa-puasa buat aku. Sholat siang malam. Tapi belum ada hasil. Kadang aku juga ga percaya ma jodoh.
Aku : Jangan ngga percaya.
Ina : Soalnya di umur aku yang udah banyak gini, kok belum ada tanda-tanda dikasi jodoh.
Aku : Aku aja kemaren hampir hopeless....tapi harus yakin.
Ina : Jangankan nikah, ada cowo yang mau jadi pacar aku aja ngga ada. Iya yaahh...
Aku : Sabar yaa...Ntar tiba kok masa itu.
Ina : Tapi kenapa ya mba... lamaaa sekali...
Aku : Aku aja baru besok mau ketemu calon, tanggal 15.
Ina : 16 lamaran, 17 akad??
Aku : tanggal 17 dicancel. 15 baru ketemuan. Tanggal 17 lamaran resmi, 21 akad.
Ina : oohh...
Aku : Karena gedungnya full di tanggal 17.
Ina : ooh....jadi juga mba dirayain? hmmm....doain aku ya mba.
Aku : Pastilah...Insya Allah
Ina : Btw, boleh nanya pribadi mba?
Aku : Silakan
Ina : Kenapa mba bisa ambil keputusan yang besar dalam waktu kilat, itu kan buat sekali dalam seumur hidup.
Aku : Karena aku udah ketemu semua keluarganya, dan mereka menerima. Trus dari obrolan, aku dan dia merasa nyambung. Chemistryku cocok dengan dia. Keluarganya juga memperlihatkan itikad baik. Mereka datang ke rumah, padahal belum pernah ketemu secara langsung dengan dia.
Ina : Maksudnya?? trus...ga takut menyesal di kemudian hari?
Aku : Karena calonku itu masih di Aceh, karena jarak juga. Iya sih...tapi karena udah merasa sama-sama cocok...go on aja jadinya.
Ina : ooh...hebat!!
Aku : Keluarga juga awalnya ngga setuju dengan acara dadak-dadakan begini.
Ina : Pastilah
Aku : Tapi aku merasa....inilah jalannya.
Ina : Cuma salut...mba dessy bisa membuat mereka yakin.
Aku : Nothing impossible...
Ina : Yup betul
Aku : Padahal aku termasuk orang yang lamban ambil keputusan. Tapi ntah kenapa dengan dia jadi beda. Itulah mungkin yang dinamakan jalan dari Allah.
Ina : ya...mungkin itu satu pertanda
Aku : Wallahu alam
Ina : Emang harus seperti itu. btw, usia mba dessy berapa?
Aku : udah 30...
Ina : Hah? Masih muda dong mba...hihi...
Aku : Ih...udah tua dong
Ina : Aku ternyata lebih senior dari mba dessy
Aku : Panggil dessy aja dong. emang mba Ina piro?
Ina : He..he...he...Aku 32...ya udah panggil Ina aja ya...
Aku : ok...Gpp nih?
Ina : Gpp...
Aku : Yang penting yakin aja mba Ina...Kalo ada yang deketin...selidikin aja...pake mata-mata yang lain.
Ina : Gitu yah...hmmm...I c..iya emang, harus ada pihak ketiga.
Aku : Iya, kita ngga bisa jalan sendiri. Harus ada tim suksesnya.
Ina : Des...amalan apa yang dijalanin selain sholat 5 waktu? Tahajud ya? Aku susah banget neh...tidur aja jam 2. Karena selalu baca dulu. Kalo tahajud kan musti tidur dulu.
Aku : Wah sekarang tahajudku malah jarang neh. Mungkin pas aku pernah aku sakit hati, aku langsung doa ke Allah. Aku rasa pas saat itu doaku dikabulkan.
Ina : iya yah...apalagi sekarang dah mau nikah. Aku kapan ya Des? hiks...Kejadiannya kayak kamu juga gpp...Ga ketemu dulu tapi langsung nikah.
Aku : amin...aku doain Na...Insya Allah secepatnya. Yakin ya...
Ina : Amin
Aku : Jangan ngga percaya keajaiban...segala sesuatu atas kehendak Allah kok.
Ina : Yup...aku percaya. Karena udah terbukti dengan kamu.
Aku : Amin...
Ina : Amin ya Rabbal alamin...des..aku sholat ashar dulu ya...ntar kita sambung lagi...
Aku : ok...makasi ya Na...doain dessy juga ya...c u...
Ina : Pasti...
(Percakapan sore itu, 14 Mei 09, satu hari jelang pertemuan perdanaku dengan Kang Reza, suamiku kini)
Dan biarkan misteri tetap menjadi sebuah misteri.....