Tuesday, October 27, 2009

Ketika Fesbuk bikin Suntuk

Membaca salah satu note teman yang berjudul "Di Balik Fenomena Facebook", telah membuat saya tersenyum, tertawa, malu, berfikir, merenung. Saya mengamini semua yang dituliskannya. Ada plus minus tentunya ketika kita mengakses situs ini. Fenomena fesbuk telah menyita sebagian perhatian kita. Orang berlomba-lomba meng-update status. Berlomba-lomba memberi komentar. Saling banyak-banyakan berfoto ria, bernarsis-narsisan. Tak terkecuali saya. Fesbuk membuat jadi mabuk!!

Fesbuk pun telah beralih fungsi menjadi tempat curhat, tempat melaporkan kejadian selama 24 jam penuh, mulai dari buka mata sampai mau menutup mata kembali. Semua terpampang di wall/dinding semu bagi yang rajin melaporkan apa saja yang dilakukan dan dirasakannya selama satu hari penuh. Belum lagi yang iseng meng-upload foto-foto jaman jadul agar ramai diberi komentar oleh teman-temannya. Juga foto-foto iseng lainnya yang tidak layak dipampang di tempat umum.

Semua tergantung pribadi masing-masing, ingin menggunakan sebagai media apa fesbuk tersebut. Untuk tujuan kebaikan, just for fun, atau iseng-iseng belaka. Tergantung niatnya saja.

Sebuah contoh kasus misalnya seseorang meng-upload foto-foto lama yang telah berlalu sekian tahun. Foto jaman SMA, masa kuliah, atau foto kumpul-kumpul dengan teman satu gank. Memasang foto sah-sah saja. Tidak ada yang melarang. Merupakan hak pribadi masing-masing pengguna. Namun apa yang terjadi bila foto-foto yang dipampang misalnya foto-foto ketika salah satu temannya itu telah berkeluarga seperti saat sekarang ini. Apalagi antara dia di jaman dulunya ketika remaja dan sekarang jauh berbeda. Dulu mungkin dia yang merupakan "anak gaul", kini telah bergeser dan sedikit perubahan ke arah yang lebih baik. Dan foto yang ditampilkan adalah foto-foto dengan pose saling pegang, bergandengan tangan atau duduk saling berdekatan dengan teman-teman perempuannya atau sebaliknya. Apakah pernah terpikirkan perasaan pasangannya yang melihat foto-foto itu? Apakah tujuan utamanya menampilkan kembali foto-foto tersebut? Hanya sekedar mengembalikan kenangan yang pernah terukir? Ingin bernostalgia tentang masa-masa yang telah dilewati? Atau hanya untuk memancing ribuan komentar? Apakah pernah terbersit di pikiran, jika sang pasangan yang fotonya ditampilkan tersebut tidak menyukai hadirnya foto-foto itu di muka umum? Apalagi misalnya si pasangan temannya itu ternyata memiliki dunia pergaulan yang berbeda dengan temannya itu. Apakah tidak sebaiknya menyimpan rapat semua yang tidak pantas ditampilkan kembali? Terpikirkankah hal kecil seperti ini dapat menjadi sebuah bara api dalam sebuah rumah tangga temannya? Bisa jadi hal kecil seperti ini menjadi pemicu timbulnya keributan. 

Bagi sebagian orang mungkin tidak menjadi sebuah masalah. Mungkin hal yang sangat sepele. Toh hanya sebuah foto kok.....Namun tiap orang tidak memiliki sudut pandang yang sama. Tiap orang memiliki pemikiran masing-masing tentang baik dan buruknya. Bagi saya pribadi, sebaiknya tidaklah patut menampilkan foto-foto yang kemungkinan besar dapat mengusik perasaan orang lain, apalagi kalau yang ditampilkan foto-foto ketika masih "jaman jahiliyah". Tutup dan simpan saja semua album kenangan itu. Tidak layak untuk konsumsi khalayak umum yang masing-masing berbeda karakter dan cara pandang. Biarkanlah teman kita hidup tenang dengan kehidupannya sekarang. Biarkan kejelekannya terkubur bersama masa lalunya dan menjadi pengingat agar tidak terulang kembali. Mari sama-sama jaga aib teman, saudara, pasangan kita. Tak sepantasnya diumbar-umbar. Jagalah kehormatan, jaga izzah, jaga etika, dan jaga adab.


Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. (HADITS)


Wallahu alam...
Ternyata fesbuk pun bisa bikin suntuk!!!! fuihhhh.........


Jkt, 29 Okt 09
(Ketika aku kesel)


Misteri Jodoh

Bagiku dan mungkin bagi sebagian besar wanita lajang atau siapapun dia, berbicara masalah jodoh, dan lagi-lagi jodoh, adalah sesuatu yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Jodoh adalah misteri Ilahi. Misteri dari sesuatu yang belum diketahui dengan pasti. Misteri menimbulkan tanda tanya. Misteri mengusik keingintahuan kita sebagai manusia. Seperti sebuah rahasia besar yang harus diungkap.

Kita berteman dengan banyak orang, menjalin persahabatan dengan beberapa orang, berpacaran sekian tahun dengan seseorang, berinteraksi dengan berbagai kalangan, namun pada akhirnya yang menjadi jodoh adalah seseorang yang berada di luar lingkaran. Atau mungkin juga dengan seseorang yang tidak diduga sama sekali keberadaannya selama ini. Atau bisa juga dengan seseorang yang memang benar-benar dekat dalam suatu komunitas. Atau barangkali dengan seseorang yang selama ini dibenci...eh malah jadi jodoh. Wallahu alam....

Begitu pula diriku. Siapa yang sangka perkenalan dan pertemanan singkatku dengan dia membuahkan hasil akhir berupa pertemanan hidup yang diikat oleh sebuah perjanjian kuat di hadapan Allah. Siapa dapat menduga jalan yang aku tempuh selama ini dalam menemukan dan menjemput belahan jiwa mulai dari 6 tahun kemarin, beranjak dari sebuah majelis ilmu ke majelis ilmu lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu acara dan event ke acara yang lain, dari ajang reuni satu ke ajang reuni yang lainnya. Semua dirambah tanpa kenal lelah. Demi dia penggenap separuh dien. Dari diperkenalkan teman-teman sampai om dan tanteku turun tangan pula. Semua sarana yang dapat mendekatkan aku dan sang jodoh dicoba semua.

Akhirnya, jodohku malah melalui orang tua kami masing-masing. Aku dan dia dijembatani alias dicomblangi oleh orang tua kami sendiri. Ternyata, tempat tinggal dia yang kini menjadi suamiku tidak jauh dari rumah orang tuaku di Bandung. Ternyata dia satu kampus dengan adikku di Unpad, walaupun tidak satu jurusan. Ternyata dia anak Bandung asli yang mulai dari orok sampai tumbuh jenggot terus-terusan berada di Bandung (kecuali saat ini, karena sedang tugas di luar kota). Ya ampun...kemana saja selama ini aku dan dia? Berkali-kali aku bolak balik Bandung-Jakarta, tapi tidak pernah bertemu dengan sosoknya yang menurut pengakuannya walaupun hitam tapi manis. Berulang kali aku pulang ke Bandung dan berkunjung ke kampus adikku, tapi tidak pernah menangkap sosoknya yang imut-imut itu. Sekian lama dan sekian tahun aku mencarinya malah semakin tidak kutemui. Grrrrrrrr...!!!

Banyak persamaan-persamaan lain yang aku temui antara aku dan dia. Ternyata asal usul nenek moyang dia dari pihak Ibunya juga dari Banten sama dengan asal usul dari pihak mamaku. Mungkin kalau ditarik-tarik garis keturunan, bisa jadi kami adalah saudara jauh yang terputus di satu garis. Yang satu ini belum aku temukan.

Ternyata yang lainnya adalah kami terlahir sama-sama sebagai anak pertama. Kami berdua sama-sama dilangkahi oleh adik yang kedua. Dan ternyata......karakter diri dan cara bicaranya amat mirip dengan penyiar favoritku di salah satu stasiun radio. Dulu aku sempat berdoa dalam hati..."Senengnya kalau punya suami seperti penyiar ini...ketawaaa melulu..." Ealah...dan ternyata lagi-lagi benar-benar mirip kegokilannya dengan si penyiar itu. Dan ternyata yang terakhir adalah bahwa kami berdua ternyata sama-sama klik dan sepakat melangkah ke jenjang yang lebih serius walau belum saling tatap fisik secara langsung.

Itulah jodoh...tak bisa ditebak kapan datangnya, dengan cara bagaimana. Tapi dibalik itu semua Allah beri keyakinan lebih untuk saling menerima pasangan apa adanya dia.

Mengapa kami tidak dipertemukan ketika usiaku tidak mendekati warning (fuihh)? Mengapa dia berpacaran dengan sekian gadis sebelum bertemu denganku? Kenapa ngga dari dulu aku bertemu dia dan langsung segera menikah? Mungkin kami sudah memiliki anak-anak yang lucu-lucu...Tapi kata Allah, kita ngga boleh berandai-andai. Dan itulah saat yang tepat Allah pertemukan aku dengannya dengan cara yang indah pula.

Yah itulah misteri. No one knows... 



Ada sebuah percakapan singkat via YM yang sempat aku simpan. Percakapan singkat dengan salah satu temanku di sebuah komunitas buku. Sebut saja namanya Ina.

Ina : Assalamu'alaikum ..tok...tok...tok

Aku : Alaikumsalam, pa kabar?

Ina :  baik....
aku baru aja baca blognya mbak dessy....subhanaallah...tau ga? aku mpe merinding lho bacanya. Salut...berani ambil keputusan. Tapi insya Allah berbuah baik mba...Niat mba kan baik yah...aku jadi terharu aja...mpe pengen nangis 

Aku : Subhanallah...masa sih mba Ina?

Ina : Yup

Aku : Mudah-mudahan mba Ina diberi juga yang terbaik yaa...

Ina : Nih masih aja merinding...amin...
Aku sih dah kepengen banget. Mamah dah sampe puasa-puasa buat aku. Sholat siang malam. Tapi belum ada hasil. Kadang aku juga ga percaya ma jodoh.

Aku : Jangan ngga percaya.

Ina : Soalnya di umur aku yang udah banyak gini, kok belum ada tanda-tanda dikasi jodoh.

Aku : Aku aja kemaren hampir hopeless....tapi harus yakin.

Ina : Jangankan nikah, ada cowo yang mau jadi pacar aku aja ngga ada. Iya yaahh...

Aku : Sabar yaa...Ntar tiba kok masa itu.

Ina : Tapi kenapa ya mba... lamaaa sekali...

Aku : Aku aja baru besok mau ketemu calon, tanggal 15.

Ina : 16 lamaran, 17 akad??

Aku : tanggal 17 dicancel. 15 baru ketemuan. Tanggal 17 lamaran resmi, 21 akad.

Ina : oohh...

Aku : Karena gedungnya full di tanggal 17.

Ina : ooh....jadi juga mba dirayain? hmmm....doain aku ya mba.

Aku : Pastilah...Insya Allah

Ina :  Btw, boleh nanya pribadi mba?

Aku :  Silakan

Ina : Kenapa mba bisa ambil keputusan yang besar dalam waktu kilat, itu kan buat sekali dalam seumur hidup.

Aku : Karena aku udah ketemu semua keluarganya, dan mereka menerima. Trus dari obrolan, aku dan dia merasa nyambung. Chemistryku cocok dengan dia. Keluarganya juga memperlihatkan itikad baik. Mereka datang ke rumah, padahal belum pernah ketemu secara langsung dengan dia.

Ina : Maksudnya?? trus...ga takut menyesal di kemudian hari?

Aku : Karena calonku itu masih di Aceh, karena jarak juga. Iya sih...tapi karena udah merasa sama-sama cocok...go on aja jadinya.

Ina : ooh...hebat!!

Aku : Keluarga juga awalnya ngga setuju dengan acara dadak-dadakan begini.

Ina : Pastilah

Aku : Tapi aku merasa....inilah jalannya.

Ina : Cuma salut...mba dessy bisa membuat mereka yakin.

Aku : Nothing impossible...

Ina : Yup betul

Aku : Padahal aku termasuk orang yang lamban ambil keputusan. Tapi ntah kenapa dengan dia jadi beda. Itulah mungkin yang dinamakan jalan dari Allah.

Ina : ya...mungkin itu satu pertanda

Aku : Wallahu alam

Ina : Emang harus seperti itu. btw, usia mba dessy berapa?

Aku : udah 30...

Ina :  Hah? Masih muda dong mba...hihi...

Aku : Ih...udah tua dong

Ina : Aku ternyata lebih senior dari mba dessy

Aku : Panggil dessy aja dong. emang mba Ina piro?

Ina : He..he...he...Aku 32...ya udah panggil Ina aja ya...

Aku : ok...Gpp nih?

Ina : Gpp...

Aku : Yang penting yakin aja mba Ina...Kalo ada yang deketin...selidikin aja...pake mata-mata yang lain.

Ina : Gitu yah...hmmm...I c..iya emang, harus ada pihak ketiga.

Aku : Iya, kita ngga bisa jalan sendiri. Harus ada tim suksesnya.

Ina : Des...amalan apa yang dijalanin selain sholat 5 waktu? Tahajud ya? Aku susah banget neh...tidur aja jam 2. Karena selalu baca dulu. Kalo tahajud kan musti tidur dulu.

Aku : Wah sekarang tahajudku malah jarang neh. Mungkin pas aku pernah aku sakit hati, aku langsung doa ke Allah. Aku rasa pas saat itu doaku dikabulkan.

Ina : iya yah...apalagi sekarang dah mau nikah. Aku kapan ya Des? hiks...Kejadiannya kayak kamu juga gpp...Ga ketemu dulu tapi langsung nikah.

Aku : amin...aku doain Na...Insya Allah secepatnya. Yakin ya...

Ina : Amin

Aku : Jangan ngga percaya keajaiban...segala sesuatu atas kehendak Allah kok.

Ina : Yup...aku percaya. Karena udah terbukti dengan kamu.

Aku : Amin...

Ina : Amin ya Rabbal alamin...des..aku sholat ashar dulu ya...ntar kita sambung lagi...

Aku : ok...makasi ya Na...doain dessy juga ya...c u...

Ina : Pasti...

(Percakapan sore itu, 14 Mei 09, satu hari jelang pertemuan perdanaku dengan Kang Reza, suamiku kini)

Dan biarkan misteri tetap menjadi sebuah misteri.....

Wednesday, October 21, 2009

Hari ini 5 bulan yang lalu

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Kau datang bersama ayah ibumu
Dihantarkan oleh sanak saudara
Juga handai taulan
Membawa berbagai bingkisan
Juga mahar kawin

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Begitu tampannya dirimu
Bertopikan blangkon putih
Dibalut pakaian putih bersih
Dengan janggut tercukur rapi
Senyum manis menghias wajah
Berjalan melewati para tamu dengan gagah

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Kau duduk tegak
Sinar matamu pancarkan kekuatan
Kau jabat erat tangan waliku
Kau ucapkan janji di hadapan penghulu
Juga saksi yang hadir
Dan para malaikat yang memenuhi ruangan
Kau ikrarkan komitmen
Di hadapan Allah azza wa jalla

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Aku resmi menjadi istrimu
Kau resmi menjadi suamiku
Kita telah menjadi pasangan
Yang Allah pilihkan
Ahhh bahagianya....

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Untuk pertama kali kau kecup keningku
Kau sematkan cincin tanda kasih sayang
Betapa meronanya wajahku ketika itu

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Kita berdua telah mengikat janji
Untuk hidup bersama
Berjuang bersama
Mengarungi bahtera bersama
Menuju satu tujuan
Hingga ajal menjemput

Doaku...
Semoga kelak kita bersama lagi
Berkumpul kembali
Dalam jannahNya yang Maha Indah
Bersama anak cucu kita juga orang tua
Dan orang-orang yang kita sayangi
Amin.....

Rabu, 21 Oktober 09
(5 bulan silam, saat paling indah dalam hidupku)

Monday, October 19, 2009

Dia ingin cerai



Tiada kusangka dan kuduga sama sekali. Dia akan mengambil keputusan besar itu, sebuah keputusan yang aku tidak kira akan secepat ini dia ambil, setelah pernikahan kami berjalan selama 5 bulan. Dia berniat ingin langsung talak 3. Tiada kata rujuk lagi.

"Akang udah yakin dengan keputusan itu?", tanyaku penuh selidik.

"Yakin...hati akang udah mantap. Doain ya..."

"Ngga pengen rujuk lagi suatu saat??", masih mencoba mencari jawaban yang lain.

"Insya Allah ngga....mudah-mudah niat akang dipermudah." jawabnya dengan yakin.

Lama ia tak bicara....sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Tampak ia begitu menikmati hisapan demi hisapan...

"Emang akang udah bersama dia berapa lama?"

Dia mengernyitkan dahi. "Intensnya kira-kira sejak kelas 1 SMA. Hitung aja, sejak 94 sampe sekarang. Berarti udah 15 tahun yaa...." jawabnya sambil mencoba mengembalikan memorinya.

"Ngga nyesel dengan keputusan akang sekarang?? Kok bisa secepat itu prosesnya?", lagi-lagi aku mengungkapkan keraguanku.

"Proses ini udah lama. Tiap hari hati akang selalu bergejolak. Terjadi pertentangan batin. Duh...ternyata ngga mudah." jawabnya dengan lemah.

"Kalo nanti kita pulang ke Bandung....dan mama akang nanyain gimana? Ntar dikira gara-gara Dessy akang talak dia."

"Ya dijawab aja. Kalo akang udah cerai. Udah ditalak 3...gitu aja kok repot." dengan enteng dan lugasnya dia menjawab.

Diambilnya sisa rokok 1 batang terakhir yang tersisa di hari itu. Dilumatnya perlahan ke atas tanah. Sambil menatapnya lekat-lekat.

Aku tiada berkata apa-apa lagi. Inilah yang aku tunggu-tunggu sejak perkenalan hingga pernikahan kami sekarang ini.

"Ntar kalo akang ngumpul-ngumpul ma temen-temen....bakalan tergoda lagi ngga??" aku tidak juga puas dengan jawabannya tadi. Dan kembali mengajukan pertanyaan hampir sama.

"Insya Allah ngga dong sayang. Mencium baunya aja akang pasti udah benci. Moga seterusnya begitu yaa...."

Tampak ia menghancurkan sisa rokok tadi sampai keluar semua isinya hingga lumat selumat-lumatnya.

"Moga ini menjadi simbol akang bener-bener pisah dengan si rokok. Akang udah niat, mulai besok akan berhenti merokok. Doain ya sayang. Akang melakukan semua karena Allah. Akang mau hidup sehat, akang mau memperbaiki diri, akang ingin jadi lebih baik."

Terharu aku mendengar kata-katanya. Tak terasa menitik air mataku. Doaku diijabah Allah. Lagi-lagi Allah memang Maha Baik.

"Ini dua batang terakhir hari ini. Tadi sih udah akang buang ke tempat sampah, tapi akang ambil lagi. Mubazir...itung-itung perpisahan terakhirlah..." lanjutnya lagi.

Dasar si tukang ngeles...udah niat berhenti...masih aja ada acara perpisahan.

"Ya udah...akang nikmati aja sisa-sisa terakhir akang bersama dia. Moga seterusnya ngga bakalan nyentuh-nyentuh dia lagi ya...Wah bener-bener menikmati dong ya....perpisahan gitu lohhh." Aku menggoda dia, memberi dispensasi keringanan.

"Dessy seneng banget akang udah bener-bener mau cerai ama si tembakau itu." Tak kuasa aku menahan rasa bahagia.

"Ih...kamu seneng banget akang mau berhenti ngerokok." dia mulai menggodaku lagi.

"Ya iya atuh....Allah tuh lebih mencintai mukmin yang sehat dan kuat daripada yang lemah kang..." mulai deh aku berkata-kata layaknya sang usatazah.

"Makin sayang deh ma akang....jadi makin kangen...." manjaku mulai keluar lagi.

"Akang juga sayang....doain akang bisa istiqomah ya..."

"Pasti dong...didoain selalu. Ini juga bagian dari doa Dessy setiap hari. Moga ini menjadi titik balik akang ya. Insya Allah dipermudah. Yakin ya..." tak kuasa aku menahan rasa senang.




Subhanallah....walaupun baru sebatas niat, tapi aku yakin Malaikat telah mencatat niat baik suamiku menjadi sebuah kebajikan. Semoga realisasinya juga segera menjadi nyata. Ya Rabbi...hamba bermohon kebaikan selalu untuk belahan jiwa hamba. Jaga dia ya Allah....

Rasa bahagia tak terlukis. Akhirnya dia bersedia berhenti merokok setelah proses yang cukup lama. Sepertinya aku tidak perlu membekali dirinya lagi dengan buku-buku tentang bahaya rokok dan sejenisnya kalau pulang ke Aceh lagi. (Maaf suamiku...itu bagian dari ikhtiar seorang istri tuk suaminya...He...he....he...)


Ahad, 18 okt 09
Malam yang indah....
Makasi suamiku....u r the best

Friday, October 16, 2009

Tentang R

Romantis...
Suamiku termasuk pria romantis dan manis. Bukan berarti setiap hari dia kerap mengatakan I love you dan kata-kata gombal lainnya. Atau senantiasa memberikan bunga dan kejutan-kejutan yang membuatku berbunga-bunga. Tidak sama sekali. Tapi dia tahu bagaimana memperlakukan wanita, dia mengerti bagaimana menghargai wanita, dan sedapat mungkin tidak ingin menyakiti hati wanita. Mungkin sifat ini pula yang acapkali membuatku cemburu dengan teman-teman wanitanya di masa lalu.

Dan yang sangat aku hargai dari dirinya adalah dia begitu menyayangi ibunya. Apapun dia korbankan untuk sang bunda tercinta. Itu pula salah satu alasanku menerima dirinya...terlepas dia anak kesayangan sang Ibu atau bukan. Setiap pria yang menyayangi ibunya, pasti dia akan menyayangi pula istrinya. Yang berbuat baik kepada ibunya, Insya Allah kelak memperlakukan istrinya dengan baik pula.

Satu hal lagi yang membuatku begitu tersentuh saat dia melamarku via telepon 6 bulan yang lalu. Aku ingat malam itu dia mengucapkan dengan sikap pria dewasanya bahwa dia akan mempersuntingku. Dia berhasil membuat jantungku sejenak berhenti berdetak. Masih terngiang di telingaku ketika malam itu dia menyanyikan lagu-lagu romantis dengan petikan gitarnya. (Woww...serasa yang lain menumpang di dunia ini. Yang belum menikah...segeralah menikah, biar tidak iri.)

Empati
Rasa ini yang membuat dia disenangi dan disayangi orang-orang terdekatnya. Dia rela berkorban menyisihkan hartanya demi teman dan orang yang memerlukan, walau kadang pada akhirnya dia sendiri tidak menikmati apa yang dia miliki.

Pernah suatu malam saat kami makan berdua di sebuah restoran. Dia bilang, "Duh...coba orang tua kita ikut makan bareng yaa....Akang jadi inget mereka kalo lagi makan enak begini." Aku terenyuh sekali mendengar kata-katanya. Dia merasa tidak enak bila harus makan enak sendirian tanpa mengikutsertakan keluarganya. Ohh suamikuu....

Zzzzzzzzz
Suamiku termasuk tukang molor. Apalagi kalau tiba hari libur. Sudah bisa dipastikan dia akan betah berjam-jam di atas kasur. Dan yang akan membuatku marah bila dia telat bangun untuk sholat shubuh. Grrrrrrrr....awassss yaaa!!!!

Ada saja alasan untuk berkelit
Si tukang ngeles nomor satu yang pernah aku kenal. Kalau membicarakan sesuatu dan ingin berkelit...ada saja alasan yang dia kemukakan untuk mematahkan pendapatku. Tapi ini terjadi bila kami berdiskusi untuk sesuatu yang tidak begitu penting dan sambil bercanda. Alasan-alasan yang terkadang tidak masuk akal dan tidak terpikirkan olehku bisa dengan mudahnya terlontar dari bibirnya dan membuatku tertawa terbahak-bahak.


Antusias banget ketika membicarakan poligami
Poligami adalah topik yang begitu dia sukai ketika ngobrol bersamaku. Aku tidak tahu apakah dia serius atau hanya sekedar bercanda menggoda diriku. Begitu bersemangat dan menggebu-gebu untuk mencari berjuta alasan dalam hal yang satu ini. Fuiihh....

Funny
Manusia gokil yang bisa membuatku tidak pernah berhenti tertawa sambil menahan sakit perut kalau dia mengeluarkan gurauan dan tingkah lakunya yang super gila. Tontonan favorit suamiku jaman dulu adalah film-film Dono Kasino Indro dan lawakan yang diperankan oleh Jojon dkk. Terbayang toh bagaimana gokilnya suamiku ini.

Dessy soulmate-nya kini
Masa-masa jahiliyah suamiku di masa lalu sempat membuatku berpikir....Am I the one? Nama-nama mulai dari EV, NA, OL, IR, INT 1, INT 2, IT, AR, IS dan entah berapa nama yang belum aku dengar, terkadang membuatku dihantui rasa cemburu. Rentetan nama-nama wanita di masa lalunya acap kali membuatku ngambeg. Sekaligus geleng-geleng kepala. Astagfirullah.... Semoga suamiku menjadi pria baik dan setia dengan belahan jiwanya kini. Aku tidak tahu adakah dari teman-teman wanitanya yang merasa dikecewakan atau tidak dengan pernikahanku dengan dirinya. Wallahu 'alam.

Hobi main PS
Paling BT kalau dengar dia sudah asyik dengan barang mainan satu itu. Padahal kini dia sudah punya PS (Permata Sari) yang baru. Tapi kok ya masih aja senang main itu sih?? Suamiku...kembalilah pada jalan yang benar....

Anak gaul bandung
Duniaku dan dunianya yang jauh berbeda bagaikan bumi dan langit. Aku baru menyadarinya. Suamiku yang di masa kuliahnya senang balapan mobil, ketua klub mobil, didekati banyak kaum hawa (terbukti dengan cerita-cerita mamanya dan nama-nama mantannya yang bejibun) dan hobi kumpul dengan teman-teman ganknya satu kompleks. Lagi-lagi aku hanya bergumam....itulah jodoh. Kadang perbedaan-perbedaan itu yang membuat kami saling mengisi satu sama lain. Aku menjadi anak yang begitu lugu dan culun manakala mendengarkan cerita pergaulannya di masa lalu. Nyata benar bedanya.

Suamiku pria hebat di bidang otomotif....berani diadu kalau sudah membawa mobil.
Tidak sradak sruduk, kalem, tenang, stabil dan sabar ketika di jalanan. Mamaku saja bisa memujinya...two thumbs up for u hon....

Kini....suamiku telah berubah wujud menjadi pria yang lebih dewasa, perlahan mulai menata diri dan hatinya untuk lebih dekat kepada Sang Khaliq. Aku bersyukur sekali dengan perubahan yang ada dirinya. Walau tidak signifikan, aku sangat menghargai usahanya. Kini dia sudah mulai gandrung baca-baca buku agama, juga buku-buku lain yang membuka wawasannya. (Lanjutkan kang...Lebih cepat lebih baik!!)

Nonton film
Hobi lainnya yang membuat dia betah di depan tv adalah nonton film yang ditayangkan di Trans TV. Kencanku dengan dirinya pasca nikah juga dihabiskan dengan menonton. Film jenis komedi adalah yang paling disukainya. 3 judul film kami tonton bareng, Benci Disko, Arn The Knight Templar, dan Ketika Cinta Bertasbih 2. Di film terakhir, aku lihat dia berkali-kali mengusap air mata menyaksikan film KCB2. Ternyata, suamiku melankolik juga....

Yez...iyez...(nama kecil dia)
Ngajago pisann....Iyezz!!! Teriakan mamanya kalau ada yang menangis. Ketika kecil selalu menjadi biang keributan, menjadi kepala suku, sekaligus penyebab tangisan anak-anak lain dan sepupu-sepupunya. Termasuk biang kerok nomor satu! Duuhh...mudah-mudahan anakku tidak mengikuti kelakuan bapaknya.






Jkt, 16 okt 09

Buat suamiku...Reza Afdhany
Love u... kamu adalah anugerah dari Allah...seperti apapun dirimu.
Berbuatlah yang terbaik tuk keluarga yaa....