Beberapa kali aku melihatnya, dia hanya berjalan menyusuri jalan sambil membawa bungkusan kerupuk di bahunya. Panas terik cukup dilindungi dengan sebuah topi lusuh di atas kepalanya. Tongkat penuntun langkahnya tak lepas dari tangannya. Tak dapat aku bayangkan...dia menyusuri jalan seorang diri, memanggul dagangannya, dalam kegelapan. Berharap kerupuknya laris di hari itu. Kejujuran dari pembeli lah yang sangat dia harapkan ketika kerupuknya dibeli. Tak terasa air mata ini menitik ketika memberikan uang membeli kerupuknya. Kusebut nilai nominal uang yang aku berikan dan diapun berulang kali berucap terima kasih. Ahh...gelapnya dunia di matanya tak menghalangi dirinya untuk mencari nafkah yang halal daripada sekedar menadahkan tangan berharap belas kasih manusia. Duhai Ilahi...berilah rizki untuknya...
Di saat ini dari sekian banyak manusia yang sempurna fisiknya, tanpa merasa berdosa, masih saja terlihat bermalas-malasan, enggan mencari nafkah, enggan ikhtiar, jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiripun masih berharap belas kasih dari orang. Becermin dari seorang yang tak sempurna...masih berupaya untuk dirinya. Belajar sabar, ulet, dan gigih dalam menjemput rizki dari Sang Pemberi Rizki.
Bersungguh-sungguhlah..dan Tuhan pun akan bersungguh-sungguh memperhatikan dirimu...
Bapak...aku kagum padamu...
