Belum lengkap rasanya jika Anda berkunjung ke Banda Aceh, namun tidak menyempatkan diri ke Pulau Weh, dengan ibukota Sabang, kota paling barat di Indonesia. Menurut sejarah, dahulu pulau ini menyatu dengan pulau Sumatera, namun akhirnya terpisah oleh laut karena terjadi letusan gunung berapi terakhir kali pada zaman Pleistosen. Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer (10 mil) di ujung paling utara dari Sumatra. Pulau ini hanya pulau kecil dengan luas 156,3 km², tetapi memiliki banyak pegunungan (sumber : Wikipedia)
Untuk mencapai kota Sabang, perjalanan dari Banda Aceh dimulai dari pelabuhan Uleuleu dengan menaiki kapal feri. Anda dapat memilih feri cepat atau feri lambat (istilah yang dipakai oleh penduduk setempat). Kapal feri cepat dapat tiba di Pulau Weh dengan waktu tempuh hanya 45 menit. Sedangkan kapal feri lambat memakan waktu 1.5 jam penyeberangan. Penyeberangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan dana yang dimiliki. Kapal feri cepat kelas ekonomi tarifnya Rp.60.000,-per orang, sedangkan kapal feri lambat kelas eksekutif memasang tarif Rp. 35.000,- per orang. Perhatikan pula jam-jam keberangkatan, karena setelah jam 4 sore, tidak ada lagi keberangkatan.
Perjalanan menyenangkan akan Anda rasakan manakala kaki Anda menginjak di pelabuhan Uleuleu, karena pemandangannya begitu indah, dengan panorama landscape pegunungan mengelilingi, kemanapun mata Anda memandang. Bagi Anda yang hobi fotografi atau hobi difoto alias narsis, tak ada salahnya untuk terus membidikkan kamera. Kamera apapun yang dipakai, hasilnya akan bagus, karena alamnya memang sungguh indah dari Sang Pencipta.
Tiba di pulau Weh, tepatnya di Pelabuhan Balohan, Sabang, kami langsung naik angkutan umum yang memang sudah tersedia bagi yang tiba di pulau ini. Jangan membayangkan Anda naik kendaraan yang bagus, karena angkutan umum di sini standard dan rata-rata tidak ber-AC, dan tarif yang mereka berikan untuk sampai tempat tujuan rata-rata Rp. 40.000,- per orang. Tapi bila ingin bernego lagi, silakan dicoba. Karena setau saya tidak ada tarif resmi yang ditetapkan. Dan angkutan umumnya kebanyakan adalah mobil jenis Colt L300.
Tujuan awal kami berada di pulau ini sebenarnya adalah pantai Sumur Tiga, penginapan Freddies. Namun apa daya, karena kesalahan dari pihak pegawai bungalow, kamar yang telah kami booking sebelumnya, telah diberikan untuk yang lain. Sempat kesal bukan main, karena kami sudah sangat jatuh cinta dengan lokasinya. Sepi, hening, lautnya cantik, dan romantis sekali.
* Sebuah tips untuk Anda, jangan bosan untuk terus konfirmasi berulang-ulang ke pegawainya bila telah memesan sebelum hari H, karena mereka dengan seenaknya memberikan kamar pada orang lain tanpa konfirmasi lagi kepada pembooking sebelumnya. Satu hal yang kami tidak sukai, mereka tidak memikirkan pelancong yang sudah jauh-jauh hari memesan dan masih bingung harus ke tempat yang mana lagi. Namun ketika si pemilik (orang Perancis) dikomplain masalah tersebut, beliau sangat marah ketika tahu apa yang dilakukan oleh pegawainya. Namun marah saja tidak cukup bukan?
Kita tinggalkan saja cerita tidak mengenakkan di Pantai Sumur Tiga. Akhirnya kami memutuskan untuk ke desa Iboih (atas saran supir yang membawa kami), desa kecil yang dikenal sebagai tempat untuk berenang di bawah laut. Dari pantai Iboih juga dekat dengan pulau Rubiah, sebuah pulau kecil di seberang Iboih, yang terkenal dengan terumbu karangnya. Di pantai Iboih, banyak kegiatan yang dapat dilakukan seperti tracking, snorkling, berenang, ataupun menyelam.
Perjalanan menuju Iboih sungguh indah, melewati perbukitan dan beberapa kali menemui kelokan yang cukup terjal. Disarankan untuk tidak tidur selama berada di mobil, karena sangat disayangkan bila Anda melewatkan suguhan alam yang luar biasa dalam perjalanan. Bukit yang mengelilinginya adalah kawasan suaka alam. Dan yang menakjubkan bagi kami yang sering melihat keramaian dan kemacetan dalam keseharian, tiba-tiba saja dihadirkan dengan kehadiran banyak monyet kecil yang biasanya hanya bisa dilihat dalam pertunjukan topeng monyet. Di Weh, monyet-monyet itu dengan bebasnya berada di pinggir hutan bukit yang kami lewati. Bergaya di pinggir jalan menuju Iboih. Bebas lepas. Bagaimana dengan kendaraan bermotor??? Mobil dan motor yang lewat di jalan bisa dihitung jari.
Perjalanan dari pelabuhan sekitar 1 jam hingga tiba di Iboih. Alhamdulillah masih tersisa kamar. Karena di saat musim liburan long weekend, penginapan penuh oleh turis asing. Tak terbayang seandainya tidak mendapatkan tempat. Karena jalan menuju penginapan harus melalui jalur yg tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. Harus tracking ke lokasi penginapan kurang lebih 300m. Karena bungalow-bungalow dibangun di tengah hutan tropis di sisi pantai. Harga penginapan di tempat ini variatif, berkisar antara Rp. 150.000 - Rp. 350.000 per malam. Harga akan beda bila Anda berniat ingin lebih lama tinggal di pulau ini. Standard room-nya adalah kamar mandi dalam (air ketika itu sedikit payau, tapi bagi kami sangat asin), tempat tidur plus kelambu (banyak nyamuk), dan kipas angin. Bungalow yang lebih mirip rumah pohon, dengan arsitektur dari kayu, dan sangat alami sekali ditambah pula dengan letaknya yang berada di tengah hutan di pinggir pantai. Bagi Anda yang senang petualangan, suasana seperti ini akan sangat berkesan. Apalagi yang berbulan madu seperti kami, sungguh seperti ditinggalkan di pedalaman pulau terpencil, no TV, no radio, no newspaper, tidak memikirkan apapun selain bersenang-senang.
- - - - - - -
Yang wajib dilakukan ketika tiba di Pulau Weh adalah snorkling, alat-alat dapat disewa dengan harga rata-rata Rp. 15.000, mulai dari snorkler, fin (sepatu katak), pelampung. Untuk kegiatan menyelam, ada tempat khusus untuk mendaftar. Keindahan bawah lautnya sangat cantik, dengan ekosistem ikan yang beraneka ragam serta terumbu karang di dalamnya. Sangat sayang bila dilewatkan begitu saja.
Tips untuk yang akan berkunjung ke tempat ini :
- Lebih asyik kalau Anda bawa mobil pribadi, karena banyak tempat yang bisa didatangi, sehingga lebih leluasa dalam waktu dan tidak terburu-buru. Akibat tidak membawa mobil pula, kami tidak sempat mengunjungi tempat-tempat lain seperti Pantai Gapang, dan pantai lainnya yang jaraknya cukup berdekatan, serta tugu 0 km, yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Hiks...
- Bawa perlengkapan yang cukup, mulai dari pakaian, handuk, peralatan mandi (harga kebutuhan sehari-hari sangat mahal di lokasi), juga lotion anti nyamuk, nyamuknya sangat ganas!!
- Disarankan memakai sandal gunung, karena ketika hujan akan becek sekali.
- Bawa kacamata hitam, sunblock, pakaian renang, alat snorkler (bila tidak ingin menyewa).
- Senter (ketika mati lampu sangat mencekam, apalagi ketika sedang makan malam dan penginapan jauh), payung (ketika hujan akan manfaat sekali), buku dan majalah sambil menikmati angin pantai.
- Makanan dan minuman instant, cemilan-cemilan, obat-obatan.
- Uang yang cukup, apalagi bila berniat libur lebih dari 2 hari di tempat ini, biaya makan sangat mahal, rata-rata Rp.30.000 per orang (masakan western), dan yang lokal Rp. 15.000 sekali makan. Dapat dihitung berapa pengeluaran untuk makan dalam seharinya. Sedangkan sarapan, biasanya tersedia dari penginapan, free of charge.
Sekali lagi....sungguh menyenangkan berada di Sabang, tak salah bila salah satu teman kantor suami yang berkebangsaan Australia menjadikan Weh Island sebagai rumah keduanya. Dia telah jatuh cinta dengan Sabang, begitu juga aku...
- - - -
Iboih, 13-15 Maret 2010
Thanks 2 my lovely huzband for a great holiday....
I was happy being there...really enjoy it...
Iboih....the hidden heaven....
