Monday, November 30, 2009

December, I'm in love

Lama aku menunggu dan menanti datangnya bulan ini. Tepatnya sejak akhir September lalu. Menunggu terkadang menjadi hal yang sangat membosankan sekaligus juga menyenangkan. Wuuiii....akhirnya tanggal 1 juga. Kian dekat sang hari, justru terasa kian lama kurasakan. Hari demi hari berputar terasa lamban.

Desember, bulan ini banyak dibicarakan dan digonjang ganjingkan manusia sejagad, gara-gara film 2012 sialan itu. So what dengan Desember?!? Yang pasti, di Desember, di bulan ini aku dilahirkan. Di bulan ini aku pernah pula merasakan pilu dan sakit hati. Juga tangis bahagia sekaligus rasa harap-harap cemas.

Desember, pertama aku menangis melihat dunia yang ajaib. Desember 2 tahun lalu aku kembali menangis menyadari bahwa seseorang yang diharapkan pergi dengan yang lain. Di Desember pula aku bahagia menyongsong pernikahan adikku di Januari. Desember juga memberi perasaan harap-harap cemas manakala aku  menanti jawaban dari seseorang setahun kemarin. Walaupun akhirnya jawaban itu bukan yang aku harapkan. Begitu banyak kenangan di Desember ternyata.....

Dan di Desember tahun ini, aku merasakan luapan kegembiraan. Di hari lahirku nanti, aku tak sendiri lagi. Ada seseorang yang begitu berarti akan menemani. Ada dia yang selalu membuatku tertawa juga cemberut. Mmm...kira-kira dia akan ingat hari itu ngga ya?

Di bulan ini, aku pun sedang menantikan kehadiran manusia baru, yang akan meramaikan keluarga besarku. Si kecil si buah hati adikku. Keponakan baru, cucu pertama mamaku, sekaligus cicit pertama di keluarga besar. Aku membayangkan hari-hari yang menyenangkan. Aku telah menjadi seorang uwak!! Wow...
Banyak agenda telah disusun dalam menyambut kedatangannya. Ahh...semakin aku tidak sabar.

Dua orang yang sangat aku sayangi, Suamiku dan Mamaku. Aku menanti kepulangan mereka berdua. Mama pulang dari Mekkah, Tanah Suci, dan suamiku pulang dari bumi Serambi Mekkah. Sama-sama dari Mekkah. Yang satu Mekkah sungguhan, yang satu lagi serambinya alias terasnya. Ha..ha..ha...


Banyak hal-hal kecil yang sesungguhnya dapat membuat diri semakin berucap syukur dan menikmati kebahagiaan. Sederhana memang. Dan itu aku rasakan dari penantian ini. Menanti sang ponakan, mama, dan suami. Tak sabar aku ingin memeluk dan mendekap mesra mereka.....


Jakarta, 1 Desember 09
Segeralah tiba...

Tuesday, November 24, 2009

Tanya tak berkesudahan

Ketika aku belum sekolah, aku ditanya
Ntar gede mau jadi apa?? cita-citanya?

Ketika aku akan lulus sekolah, aku ditanya-tanya lagi
Mau kuliah ke mana? Ambil jurusan apa?

Ketika aku sudah kuliah, pertanyaan lagi
Kapan lulus? Skripsinya sudah selesai??

Ketika aku berhasil lulus, kembali mereka bertanya
Sudah dapat kerja belum?

Ketika aku telah bekerja, tanya itu belum usai
Sudah punya calon pendamping? Jangan asyik kerja aja....

Ketika aku telah memiliki calon suami, pertanyaan kembali dilontarkan
Kapan nikahnya? Ayoo buruan...keburu berumur loh....

Ketika aku telah menikah, ternyata mereka juga masih bertanya
Udah isi belum? udah hamil? Kapan punya baby? jangan ditunda-tunda....

Fuiihh ....sampai kapanpun sepertinya akan ada terus pertanyaan-pertanyaan yang harus terus dijawab. Ntah sampai kapan....

Sampai di sini...aku belum bisa memberi jawaban....
Kita tunggu lagi apa pertanyaan lanjutannya setelah pertanyaan terakhir tadi

Terima kasih untuk semua perhatian yang diberikan
Aku minta doanya selalu yaa....




Jakarta, 25 Nov 09

(saat pertanyaan bertubi2 --> udah hamil belum?)
Mohon doanya aja yaa.....


Thursday, November 19, 2009

Cintaku kepadanya

Scrapbook at WiddlyTinks.com


"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai... Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya" (Kahlil Gibran)

Buat Ale sayang


Scrapbooking at WiddlyTinks.com

Ponakan gantengku....
Rajin sekolah ya
Jangan bolos-bolos aja
Bunda Dessy ngga suka
kalo Ale mulai males sekolah
Kalo Ale di sekolahnya rajin dan pinter...
Ntar Bunda dan Abang ajak jalan-jalan lagi...
Ok sayang....
Miss u...
Harus nurut ma Bunda Ira dan Ayah Okta yaa


love you
Dessy

Wednesday, November 18, 2009

[Lagi] Tentang Kematian

"Des...udah dapat kabar belum?" suara salah satu karyawan di kantor terdengar di ujung telepon.

"Kabar apa?" jawabku sambil tetap mengerjakan tugas kantor.

"Pak Danny meninggal."

"Pak Danny siapa? Pak Danny mana?" jawabku tersentak cukup kaget. Tiba-tiba badanku bergetar.

"Pak Danny....pak Danny kita..." tergugup suaranya.

"Yang bener. jangan main-main. Beneran pak Danny yang meninggal??" aku masih tak percaya. Berulang aku meyakinkan telingaku berfungsi dengan baik.

"Iya...bener. Tadi jam 12 siang. Jatuh di kamar mandi.  Udah ayo segera ke Bogor. Tutup aja kantornya."

"Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun..." aku lemas. Tak bisa berkata apa-apa lagi.

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali



Siang itu. Tak ada firasat apapun. Aku terhenyak cukup lama. Benarkah dia? Benarkah kabar itu? Beliau dikabarkan meninggal pada jam 12 siang, terjatuh di kamar mandi. Kepalanya mengeluarkan darah cukup banyak. Stroke? Serangan jantung? Pembuluh darah pecah? Bisa jadi itu adalah salah satu penyebabnya dilihat dari sisi medis. Kemungkinan serangan jantung kalau menurut pendapat pribadiku. Karena yang aku tahu beliau telah mengidap sakit jantung sejak lama.

Setitik penyesalan menghinggapi diriku. Aku tidak sempat berkunjung bersilaturahim ke rumahnya pasca lebaran kemarin. Salah satu kebiasaan burukku. Menunda. Akhirnya rasa penyesalan itu menggerogoti hati. Aku tidak sempat bertatap muka untuk terakhir kalinya. Aku terakhir bertemu dengan beliau dan keluarga ketika mereka menghadiri resepsi pernikahanku. Selebihnya hanya kontak via telepon untuk urusan pekerjaan. Aku tiada menduga sama sekali, bahwa ketika itu sisa usianya hanya tinggal 6 bulan saja sejak bulan Mei. Aku tiada menyangka bahwa itulah pertemuan terakhirku dengan beliau. Dan beberapa rekan kantor masih sempat berbicara dengan beliau beberapa jam sebelum meninggalnya. Semua tidak ada yang menduga. Semua terjadi begitu cepat. Dan berakhir dengan cepat pula.

Walaupun kami satu kantor, namun kami berbeda kota. Beliau menetap di Bogor dan mengurus kelengkapan proyek kantor dari Bogor. Sehingga frekuensi bertemu amat sangat jarang. Kecuali via telepon dan mesin fax.

Aku ingat kata-kata terakhirnya beberapa minggu ketika beliau meneleponku. Kata-katanya begitu menyentuh hati, seolah-olah dia adalah orang tuaku sendiri.

"Gimana...sehat Des?" tanyanya ketika itu.

"Alhamdulillah sehat pak. Cuman kemarin-kemarin agak kurang enak badan." jawabku.

"Tapi sekarang enak kan...udah ada yang memperhatikan. Ada yang ngejagain. Makanya jangan sakit-sakit. Salam buat Aa nya yaa...." kata-kata terakhirnya yang terekam dalam memoriku.

Ahh...bapak...terlalu cepat dirimu pergi. Kau pergi di puncak kesibukan pekerjaan. Banyak PR menanti. Masih banyak amanah yang belum tertunaikan. Masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan. Masih banyak rencana yang belum terwujud. Namun, jatah waktu yang Allah beri telah habis. Usai sampai di sini. Tak seorangpun dapat mencegahnya. Kami harus menerimanya dengan ikhlas.

Usia, adalah batas waktu yang Allah berikan untuk makhluknya. Ketika masa itu habis, mau tidak mau, suka atau tidak suka kita harus menerima dan melakoninya. Tapi acapkali kita sebagai manusia melupakan makna usia yang Dia beri. Seringkali melalaikannya. Menganggap remeh waktu yang Dia berikan. Termasuk aku. Yang juga kerap melalaikan waktu.

Seandainya hari ini adalah hari terakhir kita dalam hidup, apa yang akan kita lakukan?

Kalau aku, yang akan aku lakukan adalah :
- Memaksimalkan ibadah, semua bentuk ibadah
- Melunasi hutang-hutang yang ada
- Mengembalikan barang-barang pinjaman yang masih tertinggal
- Memasang wajah terbaik dengan senyuman termanis pada siapapun, terutama suamiku.
- Meminta maaf pada semua orang yang merasa tersakiti oleh diriku
- Melakukan hal terbaik untuk orang-orang yang aku sayangi
- Melayani suami dan memberikan yang terbaik untuk suami tercinta
- Menyelesaikan semua pekerjaan tanpa menunda-nunda
- Silaturahim ke teman-teman dan saudara-saudara
- Memberi kenangan indah dan manis untuk orang-orang yang akan ditinggalkan

Hiks...tetapi apakah diriku sudah siap untuk menghadapi itu semua?
Duhai Ilahi...beri hamba waktu yang tepat untuk itu semua. Jika itu terjadi kelak, aku ingin menyambutnya dengan suka cita. Bahagia untuk bertemu dengan Mu, kekasih sesungguhnya. Amin



Jakarta, 17 November 2009
(Selamat jalan Pak Danny, semoga Allah memberi tempat terbaik bagimu)

Monday, November 16, 2009

Suatu Malam yang Sepi



Matanya sembab. Merah. Bengkak. Sisa air mata masih terlihat. Baru saja dia menutup ponsel sederhananya. Kemudian meletakkannya begitu saja. Tanpa pernah mempedulikannya lagi. Terlihat waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Suasana sepi, senyap, tak terdengar suara sedikitpun. Terlihat pancaran mata penuh kesedihan. Entah apa yang dialaminya. Dia tidak terbiasa bercerita. Tidak pernah sedikitpun menceritakan masalah yang dihadapinya. Semua dia simpan rapat sendiri. Seorang diri.

Sepanjang malam dia menangis, menangkupkan kepalanya di atas bantal di sudut pembaringan. Tiada teman. Bermain dengan pikirannya sendiri. Berbincang dengan nuraninya. Percakapan batin. Matanya menerawang. Ntah kemana. Ditatapnya tembok putih di hadapannya. Juga foto-foto kenangan manisnya. Bibirnya bergetar. Mencoba tersenyum.

Tak lama dibentangkannya selembar sajadah. Dibasuhnya wajahnya dengan air. Namun mata itu, masih saja menyisakan kesedihan. Perlahan ditutupnya aurat. Masih dengan suara tangis tertahan. Perlahan mengangkat kedua tangannya, takbiratul ihram. Allahu Akbar. Lamat terdengar bacaan al fatihah dan surah Al Insyiroh. Dia meresapi ayat tiap ayat.

Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu?
dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
yang memberatkan punggungmu?
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.


Dia berhenti sejenak. Tangisnya kian menjadi. Sesudah kesulitan ada kemudahan. Janji Tuhannya, telah tersebut. Apa yang harus ditakutkan?? Dia melanjutkan ayat berikutnya.


Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.


Hanya pada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Bukan pada makhluk. Bukan pada manusia. Bukan pada siapapun. Dia begitu meresapi ayat terakhir. Suara sesenggukan masih terdengar.

Dia sadar, selama ini dia terlalu menggantungkan harapan pada manusia. Berharap yang muluk-muluk. Harap yang berlebihan terhadap sesuatu. 

Kecewa. Kemungkinan itulah yang dia dapatkan.

Dalam sujud panjangnya malam itu, dia mengadukan segala kegalauan dan kegundahan hatinya pada Tuhannya. Masih dengan isak tangis. Menahan semua kesedihan dalam hatinya. Wajahnya basah. Air mata telah menganaksungai.

Hanya dia, dia yang di sana dan Tuhannya yang tahu permasalahan itu. Tuhan menjadi tempat curahan hati atas setiap masalah. Dia lah jawaban. Bukan yang lain. Tidak juga orang terdekat mereka. Tapi Dia. Allah azza wa jalla.


Jakarta, 14 Nov 09

(Saat tak berdaya)



Friday, November 13, 2009

Aku ingin naik haji


Labbaik allahumma labbaik..
Labbaik kalaa syarika laka labbaik..
Innalhamda wa ni’mata laka walmut laa syarii kalah....

aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah!
aku datang memenuhi panggilan-Mu..
aku datang memenuhi panggilan-Mu,
(Tuhan) yang tidak ada sekutu bagi-Mu,
aku datang memenuhi panggilan-Mu
Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kekuasaan adalah kepunyaan-Mu,
tidak ada sekutu bagi-Mu...
----

Air mataku tumpah tak tertahan dari kedua kelopak mataku. Terus mengalir tanpa bisa kutahan sama sekali. Emosiku campur aduk. Antara keinginan, obsesi, cita-cita, juga kerinduan  untuk memenuhi panggilan dari Sang Khaliq. Kerinduan itu kian membuncah. Aku ingin bersegera ke sana. Aku ingin memberi respon atas undanganNya. Hatiku kian jauh terpaut ke tempat di mana Rasulullah membawa risalah islam. Ke tempat dimana jutaan kaum muslim dari seluruh dunia berkumpul untuk menunaikan rukun islam ke lima. Ke tempat dimana semua perbedaan status sosial juga warna kulit terhapus. Di mana umat muslim melakukan bentuk peribadatan yang sama juga berpakaian yang sama. Antara kaya dan miskin, pejabat dan bawahan tidak terlihat sama sekali.

Sebuah keinginan dan kerinduan yang belum dapat terlaksana hingga sekarang. Hanya titip salam dan rindu sekaligus doa yang aku pinta dari para tamu Allah yang akan berangkat ke sana. Doakan agar akupun segera dapat berkunjung. Kunjungan kerinduan. Kerinduan tak tertahan.

Labbaik allahumma labbaik!!
aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah!
Kalimat itu begitu agung. Luar biasa!! Kalimat dari para tamu-tamu Allah yang akan datang berkunjung ke rumahNya. Yang merespon panggilanNya. Yang telah mengorbankan harta benda, jiwa dan raganya untuk mematuhi perintahNya. Tak ada yang tak mungkin bila Allah berkehendak. Siapapun berhak pergi memenuhi panggilanNya, siapapun dia. Apapun pangkat dan jabatannya. Sesungguhnya Allah maha berkehendak lagi Maha Kaya. Niat dan azzam kita lah yang menguatkan itu semua. Bagi para tamu Allah...semoga kelak menjadi haji mabrur...insya Allah. Berbekallah...dan sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Sadar atau tidak, bisa jadi doa-doa dari orang tua, istri, suami,  saudara, anak-anak, tetangga, maupun saudara-saudara muslim yang tidak kita kenal yang telah mengantarkan kita dapat berkunjung ke Baitullah. Bisa jadi itu adalah jawaban atas doa-doa mereka yang Allah kabulkan. Bisa jadi jawaban atas doa panjang kita sepanjang tahun yang cepat dikabulkan ataupun setelah sekian puluh tahun baru dikabulkanNya. Bisa jadi pula yang berangkat adalah yang benar-benar berkeinginan ingin melaksanakan perintahNya, yang setengah hati, tetapi juga yang tidak pernah terpikir sebelumnya malah dapat berangkat ke Masjidil Haram. Wallahu alam...

Nasihat dari ustadz yang sempat aku ingat saat melepas para tamu Allah. Beliau mengatakan, layaknya seorang tamu, hendaklah berlaku baik dan sopan, serta taat mengikuti aturan main si empunya rumah. Bila sang tamu berlaku baik, tentu sang tuan rumah juga akan menjamu dengan hal-hal yang baik pula. Nikmatilah jamuan Allah. Beribadahlah dengan khusyu, berserah dirilah sepenuhnya kepada Allah. Titipkan keluarga, harta benda hanya pada Allah, sesungguhnya Allah lah yang Maha Penjaga atas segala sesuatu.

Lagi-lagi air mataku menitik. Aku pun ingin menjadi salah seorang yang Allah jamu kedatangannya. Tapi bilakah itu tiba ya Rabb? Aku rindu bahkan teramat rindu untuk datang ke tempatmu. Aku ingin naik haji sebelum usiaku mencapai 40 dan sebelum ajal menjemputku.
Perkaya diriku dengan ilmuMu, cukupkan aku dengan rizkiMu ya Rozaq.....Amin


Jakarta, 4 November 09
Selamat jalan mama dan seluruh keluarga....
Moga menjadi haji mabrur...
Doakan kami dan seluruh muslim agar dapat berkunjung jg ke Baitullah

Tuesday, October 27, 2009

Ketika Fesbuk bikin Suntuk

Membaca salah satu note teman yang berjudul "Di Balik Fenomena Facebook", telah membuat saya tersenyum, tertawa, malu, berfikir, merenung. Saya mengamini semua yang dituliskannya. Ada plus minus tentunya ketika kita mengakses situs ini. Fenomena fesbuk telah menyita sebagian perhatian kita. Orang berlomba-lomba meng-update status. Berlomba-lomba memberi komentar. Saling banyak-banyakan berfoto ria, bernarsis-narsisan. Tak terkecuali saya. Fesbuk membuat jadi mabuk!!

Fesbuk pun telah beralih fungsi menjadi tempat curhat, tempat melaporkan kejadian selama 24 jam penuh, mulai dari buka mata sampai mau menutup mata kembali. Semua terpampang di wall/dinding semu bagi yang rajin melaporkan apa saja yang dilakukan dan dirasakannya selama satu hari penuh. Belum lagi yang iseng meng-upload foto-foto jaman jadul agar ramai diberi komentar oleh teman-temannya. Juga foto-foto iseng lainnya yang tidak layak dipampang di tempat umum.

Semua tergantung pribadi masing-masing, ingin menggunakan sebagai media apa fesbuk tersebut. Untuk tujuan kebaikan, just for fun, atau iseng-iseng belaka. Tergantung niatnya saja.

Sebuah contoh kasus misalnya seseorang meng-upload foto-foto lama yang telah berlalu sekian tahun. Foto jaman SMA, masa kuliah, atau foto kumpul-kumpul dengan teman satu gank. Memasang foto sah-sah saja. Tidak ada yang melarang. Merupakan hak pribadi masing-masing pengguna. Namun apa yang terjadi bila foto-foto yang dipampang misalnya foto-foto ketika salah satu temannya itu telah berkeluarga seperti saat sekarang ini. Apalagi antara dia di jaman dulunya ketika remaja dan sekarang jauh berbeda. Dulu mungkin dia yang merupakan "anak gaul", kini telah bergeser dan sedikit perubahan ke arah yang lebih baik. Dan foto yang ditampilkan adalah foto-foto dengan pose saling pegang, bergandengan tangan atau duduk saling berdekatan dengan teman-teman perempuannya atau sebaliknya. Apakah pernah terpikirkan perasaan pasangannya yang melihat foto-foto itu? Apakah tujuan utamanya menampilkan kembali foto-foto tersebut? Hanya sekedar mengembalikan kenangan yang pernah terukir? Ingin bernostalgia tentang masa-masa yang telah dilewati? Atau hanya untuk memancing ribuan komentar? Apakah pernah terbersit di pikiran, jika sang pasangan yang fotonya ditampilkan tersebut tidak menyukai hadirnya foto-foto itu di muka umum? Apalagi misalnya si pasangan temannya itu ternyata memiliki dunia pergaulan yang berbeda dengan temannya itu. Apakah tidak sebaiknya menyimpan rapat semua yang tidak pantas ditampilkan kembali? Terpikirkankah hal kecil seperti ini dapat menjadi sebuah bara api dalam sebuah rumah tangga temannya? Bisa jadi hal kecil seperti ini menjadi pemicu timbulnya keributan. 

Bagi sebagian orang mungkin tidak menjadi sebuah masalah. Mungkin hal yang sangat sepele. Toh hanya sebuah foto kok.....Namun tiap orang tidak memiliki sudut pandang yang sama. Tiap orang memiliki pemikiran masing-masing tentang baik dan buruknya. Bagi saya pribadi, sebaiknya tidaklah patut menampilkan foto-foto yang kemungkinan besar dapat mengusik perasaan orang lain, apalagi kalau yang ditampilkan foto-foto ketika masih "jaman jahiliyah". Tutup dan simpan saja semua album kenangan itu. Tidak layak untuk konsumsi khalayak umum yang masing-masing berbeda karakter dan cara pandang. Biarkanlah teman kita hidup tenang dengan kehidupannya sekarang. Biarkan kejelekannya terkubur bersama masa lalunya dan menjadi pengingat agar tidak terulang kembali. Mari sama-sama jaga aib teman, saudara, pasangan kita. Tak sepantasnya diumbar-umbar. Jagalah kehormatan, jaga izzah, jaga etika, dan jaga adab.


Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. (HADITS)


Wallahu alam...
Ternyata fesbuk pun bisa bikin suntuk!!!! fuihhhh.........


Jkt, 29 Okt 09
(Ketika aku kesel)


Misteri Jodoh

Bagiku dan mungkin bagi sebagian besar wanita lajang atau siapapun dia, berbicara masalah jodoh, dan lagi-lagi jodoh, adalah sesuatu yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Jodoh adalah misteri Ilahi. Misteri dari sesuatu yang belum diketahui dengan pasti. Misteri menimbulkan tanda tanya. Misteri mengusik keingintahuan kita sebagai manusia. Seperti sebuah rahasia besar yang harus diungkap.

Kita berteman dengan banyak orang, menjalin persahabatan dengan beberapa orang, berpacaran sekian tahun dengan seseorang, berinteraksi dengan berbagai kalangan, namun pada akhirnya yang menjadi jodoh adalah seseorang yang berada di luar lingkaran. Atau mungkin juga dengan seseorang yang tidak diduga sama sekali keberadaannya selama ini. Atau bisa juga dengan seseorang yang memang benar-benar dekat dalam suatu komunitas. Atau barangkali dengan seseorang yang selama ini dibenci...eh malah jadi jodoh. Wallahu alam....

Begitu pula diriku. Siapa yang sangka perkenalan dan pertemanan singkatku dengan dia membuahkan hasil akhir berupa pertemanan hidup yang diikat oleh sebuah perjanjian kuat di hadapan Allah. Siapa dapat menduga jalan yang aku tempuh selama ini dalam menemukan dan menjemput belahan jiwa mulai dari 6 tahun kemarin, beranjak dari sebuah majelis ilmu ke majelis ilmu lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu acara dan event ke acara yang lain, dari ajang reuni satu ke ajang reuni yang lainnya. Semua dirambah tanpa kenal lelah. Demi dia penggenap separuh dien. Dari diperkenalkan teman-teman sampai om dan tanteku turun tangan pula. Semua sarana yang dapat mendekatkan aku dan sang jodoh dicoba semua.

Akhirnya, jodohku malah melalui orang tua kami masing-masing. Aku dan dia dijembatani alias dicomblangi oleh orang tua kami sendiri. Ternyata, tempat tinggal dia yang kini menjadi suamiku tidak jauh dari rumah orang tuaku di Bandung. Ternyata dia satu kampus dengan adikku di Unpad, walaupun tidak satu jurusan. Ternyata dia anak Bandung asli yang mulai dari orok sampai tumbuh jenggot terus-terusan berada di Bandung (kecuali saat ini, karena sedang tugas di luar kota). Ya ampun...kemana saja selama ini aku dan dia? Berkali-kali aku bolak balik Bandung-Jakarta, tapi tidak pernah bertemu dengan sosoknya yang menurut pengakuannya walaupun hitam tapi manis. Berulang kali aku pulang ke Bandung dan berkunjung ke kampus adikku, tapi tidak pernah menangkap sosoknya yang imut-imut itu. Sekian lama dan sekian tahun aku mencarinya malah semakin tidak kutemui. Grrrrrrrr...!!!

Banyak persamaan-persamaan lain yang aku temui antara aku dan dia. Ternyata asal usul nenek moyang dia dari pihak Ibunya juga dari Banten sama dengan asal usul dari pihak mamaku. Mungkin kalau ditarik-tarik garis keturunan, bisa jadi kami adalah saudara jauh yang terputus di satu garis. Yang satu ini belum aku temukan.

Ternyata yang lainnya adalah kami terlahir sama-sama sebagai anak pertama. Kami berdua sama-sama dilangkahi oleh adik yang kedua. Dan ternyata......karakter diri dan cara bicaranya amat mirip dengan penyiar favoritku di salah satu stasiun radio. Dulu aku sempat berdoa dalam hati..."Senengnya kalau punya suami seperti penyiar ini...ketawaaa melulu..." Ealah...dan ternyata lagi-lagi benar-benar mirip kegokilannya dengan si penyiar itu. Dan ternyata yang terakhir adalah bahwa kami berdua ternyata sama-sama klik dan sepakat melangkah ke jenjang yang lebih serius walau belum saling tatap fisik secara langsung.

Itulah jodoh...tak bisa ditebak kapan datangnya, dengan cara bagaimana. Tapi dibalik itu semua Allah beri keyakinan lebih untuk saling menerima pasangan apa adanya dia.

Mengapa kami tidak dipertemukan ketika usiaku tidak mendekati warning (fuihh)? Mengapa dia berpacaran dengan sekian gadis sebelum bertemu denganku? Kenapa ngga dari dulu aku bertemu dia dan langsung segera menikah? Mungkin kami sudah memiliki anak-anak yang lucu-lucu...Tapi kata Allah, kita ngga boleh berandai-andai. Dan itulah saat yang tepat Allah pertemukan aku dengannya dengan cara yang indah pula.

Yah itulah misteri. No one knows... 



Ada sebuah percakapan singkat via YM yang sempat aku simpan. Percakapan singkat dengan salah satu temanku di sebuah komunitas buku. Sebut saja namanya Ina.

Ina : Assalamu'alaikum ..tok...tok...tok

Aku : Alaikumsalam, pa kabar?

Ina :  baik....
aku baru aja baca blognya mbak dessy....subhanaallah...tau ga? aku mpe merinding lho bacanya. Salut...berani ambil keputusan. Tapi insya Allah berbuah baik mba...Niat mba kan baik yah...aku jadi terharu aja...mpe pengen nangis 

Aku : Subhanallah...masa sih mba Ina?

Ina : Yup

Aku : Mudah-mudahan mba Ina diberi juga yang terbaik yaa...

Ina : Nih masih aja merinding...amin...
Aku sih dah kepengen banget. Mamah dah sampe puasa-puasa buat aku. Sholat siang malam. Tapi belum ada hasil. Kadang aku juga ga percaya ma jodoh.

Aku : Jangan ngga percaya.

Ina : Soalnya di umur aku yang udah banyak gini, kok belum ada tanda-tanda dikasi jodoh.

Aku : Aku aja kemaren hampir hopeless....tapi harus yakin.

Ina : Jangankan nikah, ada cowo yang mau jadi pacar aku aja ngga ada. Iya yaahh...

Aku : Sabar yaa...Ntar tiba kok masa itu.

Ina : Tapi kenapa ya mba... lamaaa sekali...

Aku : Aku aja baru besok mau ketemu calon, tanggal 15.

Ina : 16 lamaran, 17 akad??

Aku : tanggal 17 dicancel. 15 baru ketemuan. Tanggal 17 lamaran resmi, 21 akad.

Ina : oohh...

Aku : Karena gedungnya full di tanggal 17.

Ina : ooh....jadi juga mba dirayain? hmmm....doain aku ya mba.

Aku : Pastilah...Insya Allah

Ina :  Btw, boleh nanya pribadi mba?

Aku :  Silakan

Ina : Kenapa mba bisa ambil keputusan yang besar dalam waktu kilat, itu kan buat sekali dalam seumur hidup.

Aku : Karena aku udah ketemu semua keluarganya, dan mereka menerima. Trus dari obrolan, aku dan dia merasa nyambung. Chemistryku cocok dengan dia. Keluarganya juga memperlihatkan itikad baik. Mereka datang ke rumah, padahal belum pernah ketemu secara langsung dengan dia.

Ina : Maksudnya?? trus...ga takut menyesal di kemudian hari?

Aku : Karena calonku itu masih di Aceh, karena jarak juga. Iya sih...tapi karena udah merasa sama-sama cocok...go on aja jadinya.

Ina : ooh...hebat!!

Aku : Keluarga juga awalnya ngga setuju dengan acara dadak-dadakan begini.

Ina : Pastilah

Aku : Tapi aku merasa....inilah jalannya.

Ina : Cuma salut...mba dessy bisa membuat mereka yakin.

Aku : Nothing impossible...

Ina : Yup betul

Aku : Padahal aku termasuk orang yang lamban ambil keputusan. Tapi ntah kenapa dengan dia jadi beda. Itulah mungkin yang dinamakan jalan dari Allah.

Ina : ya...mungkin itu satu pertanda

Aku : Wallahu alam

Ina : Emang harus seperti itu. btw, usia mba dessy berapa?

Aku : udah 30...

Ina :  Hah? Masih muda dong mba...hihi...

Aku : Ih...udah tua dong

Ina : Aku ternyata lebih senior dari mba dessy

Aku : Panggil dessy aja dong. emang mba Ina piro?

Ina : He..he...he...Aku 32...ya udah panggil Ina aja ya...

Aku : ok...Gpp nih?

Ina : Gpp...

Aku : Yang penting yakin aja mba Ina...Kalo ada yang deketin...selidikin aja...pake mata-mata yang lain.

Ina : Gitu yah...hmmm...I c..iya emang, harus ada pihak ketiga.

Aku : Iya, kita ngga bisa jalan sendiri. Harus ada tim suksesnya.

Ina : Des...amalan apa yang dijalanin selain sholat 5 waktu? Tahajud ya? Aku susah banget neh...tidur aja jam 2. Karena selalu baca dulu. Kalo tahajud kan musti tidur dulu.

Aku : Wah sekarang tahajudku malah jarang neh. Mungkin pas aku pernah aku sakit hati, aku langsung doa ke Allah. Aku rasa pas saat itu doaku dikabulkan.

Ina : iya yah...apalagi sekarang dah mau nikah. Aku kapan ya Des? hiks...Kejadiannya kayak kamu juga gpp...Ga ketemu dulu tapi langsung nikah.

Aku : amin...aku doain Na...Insya Allah secepatnya. Yakin ya...

Ina : Amin

Aku : Jangan ngga percaya keajaiban...segala sesuatu atas kehendak Allah kok.

Ina : Yup...aku percaya. Karena udah terbukti dengan kamu.

Aku : Amin...

Ina : Amin ya Rabbal alamin...des..aku sholat ashar dulu ya...ntar kita sambung lagi...

Aku : ok...makasi ya Na...doain dessy juga ya...c u...

Ina : Pasti...

(Percakapan sore itu, 14 Mei 09, satu hari jelang pertemuan perdanaku dengan Kang Reza, suamiku kini)

Dan biarkan misteri tetap menjadi sebuah misteri.....

Wednesday, October 21, 2009

Hari ini 5 bulan yang lalu

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Kau datang bersama ayah ibumu
Dihantarkan oleh sanak saudara
Juga handai taulan
Membawa berbagai bingkisan
Juga mahar kawin

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Begitu tampannya dirimu
Bertopikan blangkon putih
Dibalut pakaian putih bersih
Dengan janggut tercukur rapi
Senyum manis menghias wajah
Berjalan melewati para tamu dengan gagah

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Kau duduk tegak
Sinar matamu pancarkan kekuatan
Kau jabat erat tangan waliku
Kau ucapkan janji di hadapan penghulu
Juga saksi yang hadir
Dan para malaikat yang memenuhi ruangan
Kau ikrarkan komitmen
Di hadapan Allah azza wa jalla

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Aku resmi menjadi istrimu
Kau resmi menjadi suamiku
Kita telah menjadi pasangan
Yang Allah pilihkan
Ahhh bahagianya....

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Untuk pertama kali kau kecup keningku
Kau sematkan cincin tanda kasih sayang
Betapa meronanya wajahku ketika itu

Hari ini, 5 bulan yang lalu
Kita berdua telah mengikat janji
Untuk hidup bersama
Berjuang bersama
Mengarungi bahtera bersama
Menuju satu tujuan
Hingga ajal menjemput

Doaku...
Semoga kelak kita bersama lagi
Berkumpul kembali
Dalam jannahNya yang Maha Indah
Bersama anak cucu kita juga orang tua
Dan orang-orang yang kita sayangi
Amin.....

Rabu, 21 Oktober 09
(5 bulan silam, saat paling indah dalam hidupku)

Monday, October 19, 2009

Dia ingin cerai



Tiada kusangka dan kuduga sama sekali. Dia akan mengambil keputusan besar itu, sebuah keputusan yang aku tidak kira akan secepat ini dia ambil, setelah pernikahan kami berjalan selama 5 bulan. Dia berniat ingin langsung talak 3. Tiada kata rujuk lagi.

"Akang udah yakin dengan keputusan itu?", tanyaku penuh selidik.

"Yakin...hati akang udah mantap. Doain ya..."

"Ngga pengen rujuk lagi suatu saat??", masih mencoba mencari jawaban yang lain.

"Insya Allah ngga....mudah-mudah niat akang dipermudah." jawabnya dengan yakin.

Lama ia tak bicara....sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Tampak ia begitu menikmati hisapan demi hisapan...

"Emang akang udah bersama dia berapa lama?"

Dia mengernyitkan dahi. "Intensnya kira-kira sejak kelas 1 SMA. Hitung aja, sejak 94 sampe sekarang. Berarti udah 15 tahun yaa...." jawabnya sambil mencoba mengembalikan memorinya.

"Ngga nyesel dengan keputusan akang sekarang?? Kok bisa secepat itu prosesnya?", lagi-lagi aku mengungkapkan keraguanku.

"Proses ini udah lama. Tiap hari hati akang selalu bergejolak. Terjadi pertentangan batin. Duh...ternyata ngga mudah." jawabnya dengan lemah.

"Kalo nanti kita pulang ke Bandung....dan mama akang nanyain gimana? Ntar dikira gara-gara Dessy akang talak dia."

"Ya dijawab aja. Kalo akang udah cerai. Udah ditalak 3...gitu aja kok repot." dengan enteng dan lugasnya dia menjawab.

Diambilnya sisa rokok 1 batang terakhir yang tersisa di hari itu. Dilumatnya perlahan ke atas tanah. Sambil menatapnya lekat-lekat.

Aku tiada berkata apa-apa lagi. Inilah yang aku tunggu-tunggu sejak perkenalan hingga pernikahan kami sekarang ini.

"Ntar kalo akang ngumpul-ngumpul ma temen-temen....bakalan tergoda lagi ngga??" aku tidak juga puas dengan jawabannya tadi. Dan kembali mengajukan pertanyaan hampir sama.

"Insya Allah ngga dong sayang. Mencium baunya aja akang pasti udah benci. Moga seterusnya begitu yaa...."

Tampak ia menghancurkan sisa rokok tadi sampai keluar semua isinya hingga lumat selumat-lumatnya.

"Moga ini menjadi simbol akang bener-bener pisah dengan si rokok. Akang udah niat, mulai besok akan berhenti merokok. Doain ya sayang. Akang melakukan semua karena Allah. Akang mau hidup sehat, akang mau memperbaiki diri, akang ingin jadi lebih baik."

Terharu aku mendengar kata-katanya. Tak terasa menitik air mataku. Doaku diijabah Allah. Lagi-lagi Allah memang Maha Baik.

"Ini dua batang terakhir hari ini. Tadi sih udah akang buang ke tempat sampah, tapi akang ambil lagi. Mubazir...itung-itung perpisahan terakhirlah..." lanjutnya lagi.

Dasar si tukang ngeles...udah niat berhenti...masih aja ada acara perpisahan.

"Ya udah...akang nikmati aja sisa-sisa terakhir akang bersama dia. Moga seterusnya ngga bakalan nyentuh-nyentuh dia lagi ya...Wah bener-bener menikmati dong ya....perpisahan gitu lohhh." Aku menggoda dia, memberi dispensasi keringanan.

"Dessy seneng banget akang udah bener-bener mau cerai ama si tembakau itu." Tak kuasa aku menahan rasa bahagia.

"Ih...kamu seneng banget akang mau berhenti ngerokok." dia mulai menggodaku lagi.

"Ya iya atuh....Allah tuh lebih mencintai mukmin yang sehat dan kuat daripada yang lemah kang..." mulai deh aku berkata-kata layaknya sang usatazah.

"Makin sayang deh ma akang....jadi makin kangen...." manjaku mulai keluar lagi.

"Akang juga sayang....doain akang bisa istiqomah ya..."

"Pasti dong...didoain selalu. Ini juga bagian dari doa Dessy setiap hari. Moga ini menjadi titik balik akang ya. Insya Allah dipermudah. Yakin ya..." tak kuasa aku menahan rasa senang.




Subhanallah....walaupun baru sebatas niat, tapi aku yakin Malaikat telah mencatat niat baik suamiku menjadi sebuah kebajikan. Semoga realisasinya juga segera menjadi nyata. Ya Rabbi...hamba bermohon kebaikan selalu untuk belahan jiwa hamba. Jaga dia ya Allah....

Rasa bahagia tak terlukis. Akhirnya dia bersedia berhenti merokok setelah proses yang cukup lama. Sepertinya aku tidak perlu membekali dirinya lagi dengan buku-buku tentang bahaya rokok dan sejenisnya kalau pulang ke Aceh lagi. (Maaf suamiku...itu bagian dari ikhtiar seorang istri tuk suaminya...He...he....he...)


Ahad, 18 okt 09
Malam yang indah....
Makasi suamiku....u r the best

Friday, October 16, 2009

Tentang R

Romantis...
Suamiku termasuk pria romantis dan manis. Bukan berarti setiap hari dia kerap mengatakan I love you dan kata-kata gombal lainnya. Atau senantiasa memberikan bunga dan kejutan-kejutan yang membuatku berbunga-bunga. Tidak sama sekali. Tapi dia tahu bagaimana memperlakukan wanita, dia mengerti bagaimana menghargai wanita, dan sedapat mungkin tidak ingin menyakiti hati wanita. Mungkin sifat ini pula yang acapkali membuatku cemburu dengan teman-teman wanitanya di masa lalu.

Dan yang sangat aku hargai dari dirinya adalah dia begitu menyayangi ibunya. Apapun dia korbankan untuk sang bunda tercinta. Itu pula salah satu alasanku menerima dirinya...terlepas dia anak kesayangan sang Ibu atau bukan. Setiap pria yang menyayangi ibunya, pasti dia akan menyayangi pula istrinya. Yang berbuat baik kepada ibunya, Insya Allah kelak memperlakukan istrinya dengan baik pula.

Satu hal lagi yang membuatku begitu tersentuh saat dia melamarku via telepon 6 bulan yang lalu. Aku ingat malam itu dia mengucapkan dengan sikap pria dewasanya bahwa dia akan mempersuntingku. Dia berhasil membuat jantungku sejenak berhenti berdetak. Masih terngiang di telingaku ketika malam itu dia menyanyikan lagu-lagu romantis dengan petikan gitarnya. (Woww...serasa yang lain menumpang di dunia ini. Yang belum menikah...segeralah menikah, biar tidak iri.)

Empati
Rasa ini yang membuat dia disenangi dan disayangi orang-orang terdekatnya. Dia rela berkorban menyisihkan hartanya demi teman dan orang yang memerlukan, walau kadang pada akhirnya dia sendiri tidak menikmati apa yang dia miliki.

Pernah suatu malam saat kami makan berdua di sebuah restoran. Dia bilang, "Duh...coba orang tua kita ikut makan bareng yaa....Akang jadi inget mereka kalo lagi makan enak begini." Aku terenyuh sekali mendengar kata-katanya. Dia merasa tidak enak bila harus makan enak sendirian tanpa mengikutsertakan keluarganya. Ohh suamikuu....

Zzzzzzzzz
Suamiku termasuk tukang molor. Apalagi kalau tiba hari libur. Sudah bisa dipastikan dia akan betah berjam-jam di atas kasur. Dan yang akan membuatku marah bila dia telat bangun untuk sholat shubuh. Grrrrrrrr....awassss yaaa!!!!

Ada saja alasan untuk berkelit
Si tukang ngeles nomor satu yang pernah aku kenal. Kalau membicarakan sesuatu dan ingin berkelit...ada saja alasan yang dia kemukakan untuk mematahkan pendapatku. Tapi ini terjadi bila kami berdiskusi untuk sesuatu yang tidak begitu penting dan sambil bercanda. Alasan-alasan yang terkadang tidak masuk akal dan tidak terpikirkan olehku bisa dengan mudahnya terlontar dari bibirnya dan membuatku tertawa terbahak-bahak.


Antusias banget ketika membicarakan poligami
Poligami adalah topik yang begitu dia sukai ketika ngobrol bersamaku. Aku tidak tahu apakah dia serius atau hanya sekedar bercanda menggoda diriku. Begitu bersemangat dan menggebu-gebu untuk mencari berjuta alasan dalam hal yang satu ini. Fuiihh....

Funny
Manusia gokil yang bisa membuatku tidak pernah berhenti tertawa sambil menahan sakit perut kalau dia mengeluarkan gurauan dan tingkah lakunya yang super gila. Tontonan favorit suamiku jaman dulu adalah film-film Dono Kasino Indro dan lawakan yang diperankan oleh Jojon dkk. Terbayang toh bagaimana gokilnya suamiku ini.

Dessy soulmate-nya kini
Masa-masa jahiliyah suamiku di masa lalu sempat membuatku berpikir....Am I the one? Nama-nama mulai dari EV, NA, OL, IR, INT 1, INT 2, IT, AR, IS dan entah berapa nama yang belum aku dengar, terkadang membuatku dihantui rasa cemburu. Rentetan nama-nama wanita di masa lalunya acap kali membuatku ngambeg. Sekaligus geleng-geleng kepala. Astagfirullah.... Semoga suamiku menjadi pria baik dan setia dengan belahan jiwanya kini. Aku tidak tahu adakah dari teman-teman wanitanya yang merasa dikecewakan atau tidak dengan pernikahanku dengan dirinya. Wallahu 'alam.

Hobi main PS
Paling BT kalau dengar dia sudah asyik dengan barang mainan satu itu. Padahal kini dia sudah punya PS (Permata Sari) yang baru. Tapi kok ya masih aja senang main itu sih?? Suamiku...kembalilah pada jalan yang benar....

Anak gaul bandung
Duniaku dan dunianya yang jauh berbeda bagaikan bumi dan langit. Aku baru menyadarinya. Suamiku yang di masa kuliahnya senang balapan mobil, ketua klub mobil, didekati banyak kaum hawa (terbukti dengan cerita-cerita mamanya dan nama-nama mantannya yang bejibun) dan hobi kumpul dengan teman-teman ganknya satu kompleks. Lagi-lagi aku hanya bergumam....itulah jodoh. Kadang perbedaan-perbedaan itu yang membuat kami saling mengisi satu sama lain. Aku menjadi anak yang begitu lugu dan culun manakala mendengarkan cerita pergaulannya di masa lalu. Nyata benar bedanya.

Suamiku pria hebat di bidang otomotif....berani diadu kalau sudah membawa mobil.
Tidak sradak sruduk, kalem, tenang, stabil dan sabar ketika di jalanan. Mamaku saja bisa memujinya...two thumbs up for u hon....

Kini....suamiku telah berubah wujud menjadi pria yang lebih dewasa, perlahan mulai menata diri dan hatinya untuk lebih dekat kepada Sang Khaliq. Aku bersyukur sekali dengan perubahan yang ada dirinya. Walau tidak signifikan, aku sangat menghargai usahanya. Kini dia sudah mulai gandrung baca-baca buku agama, juga buku-buku lain yang membuka wawasannya. (Lanjutkan kang...Lebih cepat lebih baik!!)

Nonton film
Hobi lainnya yang membuat dia betah di depan tv adalah nonton film yang ditayangkan di Trans TV. Kencanku dengan dirinya pasca nikah juga dihabiskan dengan menonton. Film jenis komedi adalah yang paling disukainya. 3 judul film kami tonton bareng, Benci Disko, Arn The Knight Templar, dan Ketika Cinta Bertasbih 2. Di film terakhir, aku lihat dia berkali-kali mengusap air mata menyaksikan film KCB2. Ternyata, suamiku melankolik juga....

Yez...iyez...(nama kecil dia)
Ngajago pisann....Iyezz!!! Teriakan mamanya kalau ada yang menangis. Ketika kecil selalu menjadi biang keributan, menjadi kepala suku, sekaligus penyebab tangisan anak-anak lain dan sepupu-sepupunya. Termasuk biang kerok nomor satu! Duuhh...mudah-mudahan anakku tidak mengikuti kelakuan bapaknya.






Jkt, 16 okt 09

Buat suamiku...Reza Afdhany
Love u... kamu adalah anugerah dari Allah...seperti apapun dirimu.
Berbuatlah yang terbaik tuk keluarga yaa....



Monday, September 7, 2009

Pasca ijab qabul

Masa perkenalan yang sesungguhnya justru pada pasca pernikahan. Kalimat itu yang sering aku dengar manakala mengikuti kajian tentang pernikahan, seminar keluarga, dan agenda-agenda kerumahtanggaan. Sekarang aku mengalaminya langsung. Walaupun aku dan suamiku berjauhan dalam jarak, namun intensitas komunikasi kami berdua tidak terputus. Hampir tiap malam kami bertelepon ria, meski tidak ada pembicaraan serius yang harus diomongkan. Dari komunikasi ini aku jadi lebih mengenal dirinya. Kalau dari pra nikah yang aku tahu hanya kulit tipis terluar dari dirinya, sekarang lebih ke dalam lagi, di lapisan kulit lebih dalam. Ibarat lapisan kulit manusia, aku masuk pada lapisan dermis, jika sebelumnya lapisan epidermis telah aku telaah secara menyeluruh.

Pernikahan....seperti Baginda Rasulullah SAW katakan, nikah adalah separuh agama, dan bertaqwalah pada separuh yang lain. Amat sangat wajar bila beliau mengatakan demikian. Separuh agama.....ahh...sudahkah tercapai di setengah yang lain? Untuk benar-benar mencapai setengah yang itu saja tidak mudah. Teramat sulit malah. Perlu keridhoan penuh, keikhlasan hati, kelapangan dada, dan kebersihan hati untuk benar-benar memahami perangai, tabiat, perilaku, kebiasaan pasangan satu sama lain. Dua kepala menyatu, dua pikiran berpadu, dua kepribadian yang bertolak belakang berkumpul dalam sebuah ibadah yang bernama pernikahan.

Semasa masih sendiri, aku bebas menentukan hidupku sendiri, memutuskan sendiri, melangkahkan kakiku kemanapun aku ingin pergi tanpa ada yang melarang. Bebas lepas bagaikan burung yang terbang di angkasa luas. Namun kini, ada manusia lain yang hadir dalam kehidupanku yang wajib aku mintai ijinnya manakala aku harus mengayunkan kaki. Bila ada masalah, aku datang padanya, meminta pendapatnya, walaupun di ujungnya aku dan dia berbeda pandang dan pikiran. Tak pelak terkadang ada masalah yang membuatku tersinggung, membuatku menitikkan air mata, membuatku berpikir..."Apakah dia ridho kepadaku ya Allah?? Menyesalkah dia memperistri diriku? Apakah aku bisa menjadi seperti yang dia inginkan??"

Di satu sisi menurut pandanganku bukan masalah, tapi bagi dia merupakan masalah. Bagi dia bukan masalah, justru bagiku menjadi masalah besar. Salah menafsirkan kalimat pun bisa menjadi masalah. Komunikasi pria dan wanita ternyata memang berbeda seperti yang John Gray ulas dalam bukunya Men are from Mars, Women are from Venus. Maksud hati A...eh dia menafsirkan B. Rumah tangga.....Rumah tangga.....perlu stok sabar dan ikhlas tak terhingga. Menjadi istri atau suami yang baik memang tidak ada sekolahnya.

After married....aku harus  menghormati seseorang melebihi rasa hormatku pada orang tuaku sendiri. Kini, aku lebih takut ketika suamiku marah, ngambeg, diam tiba-tiba, daripada orang tuaku yang marah. Adakah itu dia rasakan? Aku lebih mendahulukan dirinya dalam hal apapun. Aku berusaha mengaplikasikan semua teori yang aku dapatkan ketika belum menikah ke dalam kehidupan yang sekarang. Teori-teori yang aku dapatkan dari guru-guru kehidupan, para alim ulama, orang-orang yang bercerita masalah rumah tangga mereka, dari buku, dari kajian, seminar, maupun acara talkshow yang membahas masalah rumah tangga. Teori tinggal teori....dalam prakteknya tidak semudah yang dibayangkan.

Masa perkenalan dengan pasangan pastilah berlangsung sepanjang hayat selama kita hidup bersamanya. Tentu banyak hal-hal baru yang kita temui lagi dari pribadinya. Setiap manusia berubah detik ke detik. Full of surprises...Ternyata...ternyata...dan ternyata yang lain...Tentu saja aku harus menerima dirinya apa adanya dia, dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Aku harus menghormatinya, karena dia adalah imam dalam hidupku. Aku wajib meminta ijinnya, karena ridhonya yang aku harapkan. Aku wajib  mematuhinya selama tidak bertentangan dengan aturan Sang Khaliq. Suami...begitu mulia kedudukannya....Akan lebih indah lagi bila menjadikan perilaku Rasulullah sebagai tuntunan dalam memimpin biduk rumah tangga.

Rasulullah bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya. (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih)



Suamiku...maafkan bila sering membuatmu kesal, jengkel. Maafkan atas semua perilakuku yang tidak kamu sukai. Kita berdua sedang dalam proses belajar bersama, bergandengan tangan bersama untuk menuju tujuan yang sebenarnya. Bila di tengah jalan ada gangguan, rintangan, adalah hal yang wajar. Tak selamanya jalan yang kita lalui mulus bagaikan jalan tol. Bahkan jalan tol pun memiliki beberapa rintangan, seperti kemacetan yang mengharuskan jalan menjadi tersendat-sendat. Begitu pula perjalanan kita. Apalagi kita baru bergerak dari START....di tengah perjalanan pun belum terlewati. Semoga apa yang kita lalui bersama menjadi bahan pembelajaran agar kita berdua menjadi pribadi yang bijak dan dewasa.

Aku bersyukur menjadi istri kamu, karena kamu adalah pria yang Allah pilihkan dan amanahkan untukku. Aku menanti kehadiranmu selama 6 Ramadhan berlalu.....dan aku tak akan menyia-nyiakan kehadiranmu dalam hidupku.

Suamiku....tetaplah menjadi yang terbaik dalam hidupku...kini dan selamanya....

-------

27 Juli, 6 Agt, 7 Sept 09
(saat2 kita berbeda pendapat)

Friday, September 4, 2009

Baca Quran yuk



Rasa malas....kenapa sering banget available sih?!??. Bentar-bentar datang...bentar-bentar muncul....bentar-bentar singgah. Dan belakangan ini...bukan hanya bentar-bentar...melainkan lama-lama. Akhirnya jadi bercokol dan tinggal menetap...ngga mau pergi-pergi. Udah gitu...kehadirannya jelas menggangu banget. Parasit banget deh....berkembang pula jadi semacam virus yang menggerogoti hati dan fisik. Kalau sudah bereaksi...bisa ditebak gejala yang ditimbulkannya....enggan melakukan ini...enggan melakukan itu...enggan melakukan apapun. Sudah menjadi penyakit kronik....bisakah disembuhkan?? Harus ke klinik mana??

Tak pelak...Ramadhan kali ini pun....yang awalnya begitu bersemangat membuka-buka dan membaca surat cinta dari Sang Maha Rahman....ehhh belakangan ini kok jadi semakin melempem??? Duhh....rasa dosa makin menggelayut... bikin hati tak tenang....semua gara-gara target yang tak tercapai. Dua juz perhari....walahhh...boro-boro...!! Mudah-mudahan aja Ramadhan ini bisa hatam....amin. Berupaya keras mengejar ketertinggalan!!  

Akhirnya....setelah tanya sana sini...dan buka-buka kembali cara-cara dan tips-tips ringan untuk tetap berinteraksi dengan Al Quran...Akhirnya aku menemukan satu poin penting...yaitu..BANGKITKAN kembali MOTIVASI membaca Alquran itu sendiri, yaitu dengan menyadari manfaat yang kita dapatkan dengan seringnya membaca Alquran....

Yuuk mari kita telaah...renungkan bareng-bareng...dan segera baca Quran yaa....


•    Pembela Hari Kiamat
Abu Umamah berkata, “Saya telah mendengar Rosulullah Saw bersabda: "Bacalah Qur'an, karena dia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan menaatinya” (HR. Muslim).

•    Menjadi Manusia Terbaik
'Utsman bin 'Affan berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Sebaik-baik kamu yaitu orang mempelajari Qur'an dan mengajarkannya". (HR. Bukhari).


•    Jadi Syifa atau Obat Jiwa
Al-Quran juga adalah obat atau penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman" (QS. Yunus : 57).

Sahabat Rasulullah, Ibnu Mas'ud, pernah menasihati orang yang jiwanya gelisah, tidak tenteram, fikirannya kusut, makan tak enak, tidur tak nyenyak. Ibnu Mas'ud menasehatinya, antara lain agar orang tersebut mengunjungi tempat orang membaca Al-Quran, lalu ikut membaca atau mendengarkan saja. Setelah orang itu kembali ke rumahnya, diamalkannyalah nasihat Ibnu Mas'ud itu. Dia pergi mengambil wudhu, lalu mengambil Al-Quran, terus dia baca dengan hati yang khusyu. Selesai membaca Al Quran, berubahlah kembali jiwanya, menjadi jiwa yang aman dan tenteram, fikirannya tenang, kegelisahannya hilang sama sekali.

•    Penghilang Penyakit Hati
“(Al-Quran) merupakan penawar (syifa) dan rahmat bagi mereka yang beriman” (QS. Al-Isra’: 82). 
Di dalam al-Asas fit Tafsir oleh Said Hawa disebutkan, “Syifa bermaksud (Quran adalah penawar) yang dapat menghilangkan syak (keragu-raguan), nifak, penyelewengan, kelemahan dan penyakit dalam hati. Quran juga adalah rahmat yang dapat menghasilkan iman, hikmat dan kebahagiaan.”

•    Jiwanya Harum dalam Pandangan Allah
“Perumpamaan orang Mu'min yang membaca Al-Quran adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat; orang mu'min yang tak suka membaca Al-Quran, adalah seperti buah korma, baunya tidak begitu harum, tetapi manis rasanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

•    Berlimpah Rahmat dan Ketenangan
"Kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah peribadatan, membaca Al-Quran secara bergiliran, dan ajar-megajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketenteraman, akan berlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan mengingat mereka" (HR. Muslim dan Abu Hurairah).

•    Mendapatkan Pahala
Membaca Al-Quran, baik mengetahui artinya ataupun tidak, termasuk ibadah, amal shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya; memberi cahaya ke dalam hati yang membacanya sehingga terang benderang, juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga tempat Al-Quran itu dibaca. "Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan sholat dan membaca Al Quran" (HR. Baihaqi dari Anas).

Ali bin Abi Thalib mengatakan, tiap-tiap orang yang membaca Al-Quran dalam sholat akan mendapat pahala 50 kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya; membaca Al-Quran di luar sholat dengan berwudhu, pahalanya 25 kebaikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya; dan membaca Al-Quran di luar sholat dengan tidak berwudhu, pahalanya 10 kali kebaikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya.

•    Kebaikan di Rumah
"Perbanyaklah membaca Al-Quran di rumahmu, sesungguhnya di dalam rumah yang tak ada orang membaca Al-Quran, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di rumah itu, dan akan banyak kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah."  

Wallahu a’lam


Moga dengan mengetahui manfaat dari membaca Alquran dapat semakin memotivasiku untuk lebih giat lagi...fuiihh...surga memang mahal ya...ga mudahh....

Thursday, September 3, 2009

THE QURAN

 
QURAN....

A Book that is full of answers,
A Book that makes you cry,
A Book that makes you notice,
How much harder you can try.
A Book that makes you realize,
What true love really is...

A Book that gives you direction,
for all of life's tough biz.

A Book that gives you hope,
that Someone somewhere's watching over you.

A Book that helps you out,
Through all the times your blue.

A Book that was revealed to our beloved Prophet(SAWS),
over a period of 23 years

Once you put faith into this Book,
You can handle worldly fears.
A gift sent down from Heaven,
A treasure from above,
Written proof that shows us
How blessed we are with Allah (SWT's) love!


(by : Author unknown)


Tuesday, September 1, 2009

After a long time

Lama tak berinteraksi, lama tak saling sapa, lama pula tak bergulat dan bergumul di dalamnya...ternyata telah menumbuhkan benih-benih kerinduan yang kian membuncah. Sekian lama asyik dengan yang lain. Beberapa saat telah mengabaikannya dan berasyik masyuk dengan dia yang lain. Dia telah melenakanku selama beberapa saat...hingga mengabaikan si dia yang sebenarnya memberi banyak hal padaku selama ini.

Dua bulan sudah aku tidak menyentuhnya. Dua bulan pula aku tiada menghiraukannya. Aku benar-benar merasakan kerinduan yang mendalam. Aku kangen bercerita padanya. Aku rindu melaporkan apa yang aku alami saat ini. Aku lama tak berceloteh padanya tentang perasaanku yang sebenarnya. Aku sakaw....Benar-benar sakaw.

Multiply ku sayang...aku kangen kamu 
Maafin yaa....udah lama tidak mengurus dirimu....
Aku lebih banyak bermain-main di luar sana...
Tapi kini aku ingin lebih memperhatikan dirimu
Yang selama ini sangat setia menampung semua perasaanku
Terima kasih telah menjadi bagian dari saksi kehidupanku....

Ternyata kamu sekarang tampil lebih menawan....
Aku makin cinta....




01 Sept 09

Back to MP...!!!