Monday, November 30, 2009

December, I'm in love

Lama aku menunggu dan menanti datangnya bulan ini. Tepatnya sejak akhir September lalu. Menunggu terkadang menjadi hal yang sangat membosankan sekaligus juga menyenangkan. Wuuiii....akhirnya tanggal 1 juga. Kian dekat sang hari, justru terasa kian lama kurasakan. Hari demi hari berputar terasa lamban.

Desember, bulan ini banyak dibicarakan dan digonjang ganjingkan manusia sejagad, gara-gara film 2012 sialan itu. So what dengan Desember?!? Yang pasti, di Desember, di bulan ini aku dilahirkan. Di bulan ini aku pernah pula merasakan pilu dan sakit hati. Juga tangis bahagia sekaligus rasa harap-harap cemas.

Desember, pertama aku menangis melihat dunia yang ajaib. Desember 2 tahun lalu aku kembali menangis menyadari bahwa seseorang yang diharapkan pergi dengan yang lain. Di Desember pula aku bahagia menyongsong pernikahan adikku di Januari. Desember juga memberi perasaan harap-harap cemas manakala aku  menanti jawaban dari seseorang setahun kemarin. Walaupun akhirnya jawaban itu bukan yang aku harapkan. Begitu banyak kenangan di Desember ternyata.....

Dan di Desember tahun ini, aku merasakan luapan kegembiraan. Di hari lahirku nanti, aku tak sendiri lagi. Ada seseorang yang begitu berarti akan menemani. Ada dia yang selalu membuatku tertawa juga cemberut. Mmm...kira-kira dia akan ingat hari itu ngga ya?

Di bulan ini, aku pun sedang menantikan kehadiran manusia baru, yang akan meramaikan keluarga besarku. Si kecil si buah hati adikku. Keponakan baru, cucu pertama mamaku, sekaligus cicit pertama di keluarga besar. Aku membayangkan hari-hari yang menyenangkan. Aku telah menjadi seorang uwak!! Wow...
Banyak agenda telah disusun dalam menyambut kedatangannya. Ahh...semakin aku tidak sabar.

Dua orang yang sangat aku sayangi, Suamiku dan Mamaku. Aku menanti kepulangan mereka berdua. Mama pulang dari Mekkah, Tanah Suci, dan suamiku pulang dari bumi Serambi Mekkah. Sama-sama dari Mekkah. Yang satu Mekkah sungguhan, yang satu lagi serambinya alias terasnya. Ha..ha..ha...


Banyak hal-hal kecil yang sesungguhnya dapat membuat diri semakin berucap syukur dan menikmati kebahagiaan. Sederhana memang. Dan itu aku rasakan dari penantian ini. Menanti sang ponakan, mama, dan suami. Tak sabar aku ingin memeluk dan mendekap mesra mereka.....


Jakarta, 1 Desember 09
Segeralah tiba...

Tuesday, November 24, 2009

Tanya tak berkesudahan

Ketika aku belum sekolah, aku ditanya
Ntar gede mau jadi apa?? cita-citanya?

Ketika aku akan lulus sekolah, aku ditanya-tanya lagi
Mau kuliah ke mana? Ambil jurusan apa?

Ketika aku sudah kuliah, pertanyaan lagi
Kapan lulus? Skripsinya sudah selesai??

Ketika aku berhasil lulus, kembali mereka bertanya
Sudah dapat kerja belum?

Ketika aku telah bekerja, tanya itu belum usai
Sudah punya calon pendamping? Jangan asyik kerja aja....

Ketika aku telah memiliki calon suami, pertanyaan kembali dilontarkan
Kapan nikahnya? Ayoo buruan...keburu berumur loh....

Ketika aku telah menikah, ternyata mereka juga masih bertanya
Udah isi belum? udah hamil? Kapan punya baby? jangan ditunda-tunda....

Fuiihh ....sampai kapanpun sepertinya akan ada terus pertanyaan-pertanyaan yang harus terus dijawab. Ntah sampai kapan....

Sampai di sini...aku belum bisa memberi jawaban....
Kita tunggu lagi apa pertanyaan lanjutannya setelah pertanyaan terakhir tadi

Terima kasih untuk semua perhatian yang diberikan
Aku minta doanya selalu yaa....




Jakarta, 25 Nov 09

(saat pertanyaan bertubi2 --> udah hamil belum?)
Mohon doanya aja yaa.....


Thursday, November 19, 2009

Cintaku kepadanya

Scrapbook at WiddlyTinks.com


"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai... Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya" (Kahlil Gibran)

Buat Ale sayang


Scrapbooking at WiddlyTinks.com

Ponakan gantengku....
Rajin sekolah ya
Jangan bolos-bolos aja
Bunda Dessy ngga suka
kalo Ale mulai males sekolah
Kalo Ale di sekolahnya rajin dan pinter...
Ntar Bunda dan Abang ajak jalan-jalan lagi...
Ok sayang....
Miss u...
Harus nurut ma Bunda Ira dan Ayah Okta yaa


love you
Dessy

Wednesday, November 18, 2009

[Lagi] Tentang Kematian

"Des...udah dapat kabar belum?" suara salah satu karyawan di kantor terdengar di ujung telepon.

"Kabar apa?" jawabku sambil tetap mengerjakan tugas kantor.

"Pak Danny meninggal."

"Pak Danny siapa? Pak Danny mana?" jawabku tersentak cukup kaget. Tiba-tiba badanku bergetar.

"Pak Danny....pak Danny kita..." tergugup suaranya.

"Yang bener. jangan main-main. Beneran pak Danny yang meninggal??" aku masih tak percaya. Berulang aku meyakinkan telingaku berfungsi dengan baik.

"Iya...bener. Tadi jam 12 siang. Jatuh di kamar mandi.  Udah ayo segera ke Bogor. Tutup aja kantornya."

"Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun..." aku lemas. Tak bisa berkata apa-apa lagi.

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali



Siang itu. Tak ada firasat apapun. Aku terhenyak cukup lama. Benarkah dia? Benarkah kabar itu? Beliau dikabarkan meninggal pada jam 12 siang, terjatuh di kamar mandi. Kepalanya mengeluarkan darah cukup banyak. Stroke? Serangan jantung? Pembuluh darah pecah? Bisa jadi itu adalah salah satu penyebabnya dilihat dari sisi medis. Kemungkinan serangan jantung kalau menurut pendapat pribadiku. Karena yang aku tahu beliau telah mengidap sakit jantung sejak lama.

Setitik penyesalan menghinggapi diriku. Aku tidak sempat berkunjung bersilaturahim ke rumahnya pasca lebaran kemarin. Salah satu kebiasaan burukku. Menunda. Akhirnya rasa penyesalan itu menggerogoti hati. Aku tidak sempat bertatap muka untuk terakhir kalinya. Aku terakhir bertemu dengan beliau dan keluarga ketika mereka menghadiri resepsi pernikahanku. Selebihnya hanya kontak via telepon untuk urusan pekerjaan. Aku tiada menduga sama sekali, bahwa ketika itu sisa usianya hanya tinggal 6 bulan saja sejak bulan Mei. Aku tiada menyangka bahwa itulah pertemuan terakhirku dengan beliau. Dan beberapa rekan kantor masih sempat berbicara dengan beliau beberapa jam sebelum meninggalnya. Semua tidak ada yang menduga. Semua terjadi begitu cepat. Dan berakhir dengan cepat pula.

Walaupun kami satu kantor, namun kami berbeda kota. Beliau menetap di Bogor dan mengurus kelengkapan proyek kantor dari Bogor. Sehingga frekuensi bertemu amat sangat jarang. Kecuali via telepon dan mesin fax.

Aku ingat kata-kata terakhirnya beberapa minggu ketika beliau meneleponku. Kata-katanya begitu menyentuh hati, seolah-olah dia adalah orang tuaku sendiri.

"Gimana...sehat Des?" tanyanya ketika itu.

"Alhamdulillah sehat pak. Cuman kemarin-kemarin agak kurang enak badan." jawabku.

"Tapi sekarang enak kan...udah ada yang memperhatikan. Ada yang ngejagain. Makanya jangan sakit-sakit. Salam buat Aa nya yaa...." kata-kata terakhirnya yang terekam dalam memoriku.

Ahh...bapak...terlalu cepat dirimu pergi. Kau pergi di puncak kesibukan pekerjaan. Banyak PR menanti. Masih banyak amanah yang belum tertunaikan. Masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan. Masih banyak rencana yang belum terwujud. Namun, jatah waktu yang Allah beri telah habis. Usai sampai di sini. Tak seorangpun dapat mencegahnya. Kami harus menerimanya dengan ikhlas.

Usia, adalah batas waktu yang Allah berikan untuk makhluknya. Ketika masa itu habis, mau tidak mau, suka atau tidak suka kita harus menerima dan melakoninya. Tapi acapkali kita sebagai manusia melupakan makna usia yang Dia beri. Seringkali melalaikannya. Menganggap remeh waktu yang Dia berikan. Termasuk aku. Yang juga kerap melalaikan waktu.

Seandainya hari ini adalah hari terakhir kita dalam hidup, apa yang akan kita lakukan?

Kalau aku, yang akan aku lakukan adalah :
- Memaksimalkan ibadah, semua bentuk ibadah
- Melunasi hutang-hutang yang ada
- Mengembalikan barang-barang pinjaman yang masih tertinggal
- Memasang wajah terbaik dengan senyuman termanis pada siapapun, terutama suamiku.
- Meminta maaf pada semua orang yang merasa tersakiti oleh diriku
- Melakukan hal terbaik untuk orang-orang yang aku sayangi
- Melayani suami dan memberikan yang terbaik untuk suami tercinta
- Menyelesaikan semua pekerjaan tanpa menunda-nunda
- Silaturahim ke teman-teman dan saudara-saudara
- Memberi kenangan indah dan manis untuk orang-orang yang akan ditinggalkan

Hiks...tetapi apakah diriku sudah siap untuk menghadapi itu semua?
Duhai Ilahi...beri hamba waktu yang tepat untuk itu semua. Jika itu terjadi kelak, aku ingin menyambutnya dengan suka cita. Bahagia untuk bertemu dengan Mu, kekasih sesungguhnya. Amin



Jakarta, 17 November 2009
(Selamat jalan Pak Danny, semoga Allah memberi tempat terbaik bagimu)

Monday, November 16, 2009

Suatu Malam yang Sepi



Matanya sembab. Merah. Bengkak. Sisa air mata masih terlihat. Baru saja dia menutup ponsel sederhananya. Kemudian meletakkannya begitu saja. Tanpa pernah mempedulikannya lagi. Terlihat waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Suasana sepi, senyap, tak terdengar suara sedikitpun. Terlihat pancaran mata penuh kesedihan. Entah apa yang dialaminya. Dia tidak terbiasa bercerita. Tidak pernah sedikitpun menceritakan masalah yang dihadapinya. Semua dia simpan rapat sendiri. Seorang diri.

Sepanjang malam dia menangis, menangkupkan kepalanya di atas bantal di sudut pembaringan. Tiada teman. Bermain dengan pikirannya sendiri. Berbincang dengan nuraninya. Percakapan batin. Matanya menerawang. Ntah kemana. Ditatapnya tembok putih di hadapannya. Juga foto-foto kenangan manisnya. Bibirnya bergetar. Mencoba tersenyum.

Tak lama dibentangkannya selembar sajadah. Dibasuhnya wajahnya dengan air. Namun mata itu, masih saja menyisakan kesedihan. Perlahan ditutupnya aurat. Masih dengan suara tangis tertahan. Perlahan mengangkat kedua tangannya, takbiratul ihram. Allahu Akbar. Lamat terdengar bacaan al fatihah dan surah Al Insyiroh. Dia meresapi ayat tiap ayat.

Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu?
dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
yang memberatkan punggungmu?
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.


Dia berhenti sejenak. Tangisnya kian menjadi. Sesudah kesulitan ada kemudahan. Janji Tuhannya, telah tersebut. Apa yang harus ditakutkan?? Dia melanjutkan ayat berikutnya.


Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.


Hanya pada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Bukan pada makhluk. Bukan pada manusia. Bukan pada siapapun. Dia begitu meresapi ayat terakhir. Suara sesenggukan masih terdengar.

Dia sadar, selama ini dia terlalu menggantungkan harapan pada manusia. Berharap yang muluk-muluk. Harap yang berlebihan terhadap sesuatu. 

Kecewa. Kemungkinan itulah yang dia dapatkan.

Dalam sujud panjangnya malam itu, dia mengadukan segala kegalauan dan kegundahan hatinya pada Tuhannya. Masih dengan isak tangis. Menahan semua kesedihan dalam hatinya. Wajahnya basah. Air mata telah menganaksungai.

Hanya dia, dia yang di sana dan Tuhannya yang tahu permasalahan itu. Tuhan menjadi tempat curahan hati atas setiap masalah. Dia lah jawaban. Bukan yang lain. Tidak juga orang terdekat mereka. Tapi Dia. Allah azza wa jalla.


Jakarta, 14 Nov 09

(Saat tak berdaya)



Friday, November 13, 2009

Aku ingin naik haji


Labbaik allahumma labbaik..
Labbaik kalaa syarika laka labbaik..
Innalhamda wa ni’mata laka walmut laa syarii kalah....

aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah!
aku datang memenuhi panggilan-Mu..
aku datang memenuhi panggilan-Mu,
(Tuhan) yang tidak ada sekutu bagi-Mu,
aku datang memenuhi panggilan-Mu
Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kekuasaan adalah kepunyaan-Mu,
tidak ada sekutu bagi-Mu...
----

Air mataku tumpah tak tertahan dari kedua kelopak mataku. Terus mengalir tanpa bisa kutahan sama sekali. Emosiku campur aduk. Antara keinginan, obsesi, cita-cita, juga kerinduan  untuk memenuhi panggilan dari Sang Khaliq. Kerinduan itu kian membuncah. Aku ingin bersegera ke sana. Aku ingin memberi respon atas undanganNya. Hatiku kian jauh terpaut ke tempat di mana Rasulullah membawa risalah islam. Ke tempat dimana jutaan kaum muslim dari seluruh dunia berkumpul untuk menunaikan rukun islam ke lima. Ke tempat dimana semua perbedaan status sosial juga warna kulit terhapus. Di mana umat muslim melakukan bentuk peribadatan yang sama juga berpakaian yang sama. Antara kaya dan miskin, pejabat dan bawahan tidak terlihat sama sekali.

Sebuah keinginan dan kerinduan yang belum dapat terlaksana hingga sekarang. Hanya titip salam dan rindu sekaligus doa yang aku pinta dari para tamu Allah yang akan berangkat ke sana. Doakan agar akupun segera dapat berkunjung. Kunjungan kerinduan. Kerinduan tak tertahan.

Labbaik allahumma labbaik!!
aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah!
Kalimat itu begitu agung. Luar biasa!! Kalimat dari para tamu-tamu Allah yang akan datang berkunjung ke rumahNya. Yang merespon panggilanNya. Yang telah mengorbankan harta benda, jiwa dan raganya untuk mematuhi perintahNya. Tak ada yang tak mungkin bila Allah berkehendak. Siapapun berhak pergi memenuhi panggilanNya, siapapun dia. Apapun pangkat dan jabatannya. Sesungguhnya Allah maha berkehendak lagi Maha Kaya. Niat dan azzam kita lah yang menguatkan itu semua. Bagi para tamu Allah...semoga kelak menjadi haji mabrur...insya Allah. Berbekallah...dan sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Sadar atau tidak, bisa jadi doa-doa dari orang tua, istri, suami,  saudara, anak-anak, tetangga, maupun saudara-saudara muslim yang tidak kita kenal yang telah mengantarkan kita dapat berkunjung ke Baitullah. Bisa jadi itu adalah jawaban atas doa-doa mereka yang Allah kabulkan. Bisa jadi jawaban atas doa panjang kita sepanjang tahun yang cepat dikabulkan ataupun setelah sekian puluh tahun baru dikabulkanNya. Bisa jadi pula yang berangkat adalah yang benar-benar berkeinginan ingin melaksanakan perintahNya, yang setengah hati, tetapi juga yang tidak pernah terpikir sebelumnya malah dapat berangkat ke Masjidil Haram. Wallahu alam...

Nasihat dari ustadz yang sempat aku ingat saat melepas para tamu Allah. Beliau mengatakan, layaknya seorang tamu, hendaklah berlaku baik dan sopan, serta taat mengikuti aturan main si empunya rumah. Bila sang tamu berlaku baik, tentu sang tuan rumah juga akan menjamu dengan hal-hal yang baik pula. Nikmatilah jamuan Allah. Beribadahlah dengan khusyu, berserah dirilah sepenuhnya kepada Allah. Titipkan keluarga, harta benda hanya pada Allah, sesungguhnya Allah lah yang Maha Penjaga atas segala sesuatu.

Lagi-lagi air mataku menitik. Aku pun ingin menjadi salah seorang yang Allah jamu kedatangannya. Tapi bilakah itu tiba ya Rabb? Aku rindu bahkan teramat rindu untuk datang ke tempatmu. Aku ingin naik haji sebelum usiaku mencapai 40 dan sebelum ajal menjemputku.
Perkaya diriku dengan ilmuMu, cukupkan aku dengan rizkiMu ya Rozaq.....Amin


Jakarta, 4 November 09
Selamat jalan mama dan seluruh keluarga....
Moga menjadi haji mabrur...
Doakan kami dan seluruh muslim agar dapat berkunjung jg ke Baitullah