
"Des...udah dapat kabar belum?" suara salah satu karyawan di kantor terdengar di ujung telepon.
"Kabar apa?" jawabku sambil tetap mengerjakan tugas kantor.
"Pak Danny meninggal."
"Pak Danny siapa? Pak Danny mana?" jawabku tersentak cukup kaget. Tiba-tiba badanku bergetar.
"Pak Danny....pak Danny kita..." tergugup suaranya.
"Yang bener. jangan main-main. Beneran pak Danny yang meninggal??" aku masih tak percaya. Berulang aku meyakinkan telingaku berfungsi dengan baik.
"Iya...bener. Tadi jam 12 siang. Jatuh di kamar mandi. Udah ayo segera ke Bogor. Tutup aja kantornya."
"Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun..." aku lemas. Tak bisa berkata apa-apa lagi.
Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali
Siang itu. Tak ada firasat apapun. Aku terhenyak cukup lama. Benarkah dia? Benarkah kabar itu? Beliau dikabarkan meninggal pada jam 12 siang, terjatuh di kamar mandi. Kepalanya mengeluarkan darah cukup banyak. Stroke? Serangan jantung? Pembuluh darah pecah? Bisa jadi itu adalah salah satu penyebabnya dilihat dari sisi medis. Kemungkinan serangan jantung kalau menurut pendapat pribadiku. Karena yang aku tahu beliau telah mengidap sakit jantung sejak lama.
Setitik penyesalan menghinggapi diriku. Aku tidak sempat berkunjung bersilaturahim ke rumahnya pasca lebaran kemarin. Salah satu kebiasaan burukku. Menunda. Akhirnya rasa penyesalan itu menggerogoti hati. Aku tidak sempat bertatap muka untuk terakhir kalinya. Aku terakhir bertemu dengan beliau dan keluarga ketika mereka menghadiri resepsi pernikahanku. Selebihnya hanya kontak via telepon untuk urusan pekerjaan. Aku tiada menduga sama sekali, bahwa ketika itu sisa usianya hanya tinggal 6 bulan saja sejak bulan Mei. Aku tiada menyangka bahwa itulah pertemuan terakhirku dengan beliau. Dan beberapa rekan kantor masih sempat berbicara dengan beliau beberapa jam sebelum meninggalnya. Semua tidak ada yang menduga. Semua terjadi begitu cepat. Dan berakhir dengan cepat pula.
Walaupun kami satu kantor, namun kami berbeda kota. Beliau menetap di Bogor dan mengurus kelengkapan proyek kantor dari Bogor. Sehingga frekuensi bertemu amat sangat jarang. Kecuali via telepon dan mesin fax.
Aku ingat kata-kata terakhirnya beberapa minggu ketika beliau meneleponku. Kata-katanya begitu menyentuh hati, seolah-olah dia adalah orang tuaku sendiri.
"Gimana...sehat Des?" tanyanya ketika itu.
"Alhamdulillah sehat pak. Cuman kemarin-kemarin agak kurang enak badan." jawabku.
"Tapi sekarang enak kan...udah ada yang memperhatikan. Ada yang ngejagain. Makanya jangan sakit-sakit. Salam buat Aa nya yaa...." kata-kata terakhirnya yang terekam dalam memoriku.
Ahh...bapak...terlalu cepat dirimu pergi. Kau pergi di puncak kesibukan pekerjaan. Banyak PR menanti. Masih banyak amanah yang belum tertunaikan. Masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan. Masih banyak rencana yang belum terwujud. Namun, jatah waktu yang Allah beri telah habis. Usai sampai di sini. Tak seorangpun dapat mencegahnya. Kami harus menerimanya dengan ikhlas.
Usia, adalah batas waktu yang Allah berikan untuk makhluknya. Ketika masa itu habis, mau tidak mau, suka atau tidak suka kita harus menerima dan melakoninya. Tapi acapkali kita sebagai manusia melupakan makna usia yang Dia beri. Seringkali melalaikannya. Menganggap remeh waktu yang Dia berikan. Termasuk aku. Yang juga kerap melalaikan waktu.
Seandainya hari ini adalah hari terakhir kita dalam hidup, apa yang akan kita lakukan?
Kalau aku, yang akan aku lakukan adalah :
- Memaksimalkan ibadah, semua bentuk ibadah
- Melunasi hutang-hutang yang ada
- Mengembalikan barang-barang pinjaman yang masih tertinggal
- Memasang wajah terbaik dengan senyuman termanis pada siapapun, terutama suamiku.
- Meminta maaf pada semua orang yang merasa tersakiti oleh diriku
- Melakukan hal terbaik untuk orang-orang yang aku sayangi
- Melayani suami dan memberikan yang terbaik untuk suami tercinta
- Menyelesaikan semua pekerjaan tanpa menunda-nunda
- Silaturahim ke teman-teman dan saudara-saudara
- Memberi kenangan indah dan manis untuk orang-orang yang akan ditinggalkan
Hiks...tetapi apakah diriku sudah siap untuk menghadapi itu semua?
Duhai Ilahi...beri hamba waktu yang tepat untuk itu semua. Jika itu terjadi kelak, aku ingin menyambutnya dengan suka cita. Bahagia untuk bertemu dengan Mu, kekasih sesungguhnya. Amin
Jakarta, 17 November 2009
(Selamat jalan Pak Danny, semoga Allah memberi tempat terbaik bagimu)