Wednesday, December 22, 2010

Ketika si buah hati tak kunjung tiba-1

Lama tak menulis di blog, menyisakan banyak hal mengendap di dalam kepala. Begini rasanya bila tak langsung ditumpahkan. Semua mengendap dan perlahan mulai menguap, hilang terlupakan. Sebenarnya banyak hal yang ingin dibagikan untuk teman-teman semua. Ternyata beberapa pekerjaan yang meminta untuk segera selesai telah mengesampingkan kebiasaanku menulis. Kesibukan bersama suami sejak kami tinggal bersama juga berhasil menyita waktuku untuk menulis. Ahh...menulis mungkin sudah menjadi kebutuhan hidupku meski tak terlalu sakaw seperti dahulu. Tapi jari-jari tetap aja gatal pengen membagikan cerita lewat dunia maya.

Salah satu cerita yang ingin aku bagikan...yuk baca di sini....

Layaknya pasangan lain yg baru saja menikah, tentu memiliki berjuta harapan dan keinginan. Mungkin salah satu dari harapan tersebut adalah memiliki keturunan. Apalagi bagi kami pasangan yang sudah tidak muda lagi dari sisi usia. Hitung-hitungan matematika usia bermain-main di kepala. Belum lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu juga yang kerap ditujukan ketika bertemu dengan sanak saudara. Ada pula yang berpandangan negatif bahwa kami sengaja menunda kehadiran anak dalam kehidupan kami saat ini. Ada lagi yang menganggap aku kurang subur, siklus haid tidak normal, sehingga sulit untuk hamil. Sedih rasanya di 'judge' seperti itu. Dokter saja belum pernah periksa dan belum mendiagnosa apapun tentang reproduksiku. Tapi mereka di luar sana seolah-olah lebih mengetahui isi dalam tubuhku. Bagi perempuan, terutama aku, anggapan-anggapan yang tidak berdasar tanpa ada bukti menjadi hal yang menyakitkan dan menyinggung sisi feminitasku. 

Hingga semua yang dapat meningkatkan kesuburan disarankan dan disuruh coba. Yang pengobatan alternatif pun telah berkali-kali disodorkan. Hiksss.....

Aku sadar, mungkin itu semua salah satu bentuk rasa sayang dan perhatian yang diberikan untuk kami berdua. Terkadang aku berontak, kenapa harus selalu aku yang disarankan untuk begini dan begitu, dan suamiku tidak. Banyak faktor pula yang mungkin bisa menjadi tertundanya kehamilan yang aku inginkan. Selama 1.5 tahun pernikahan, kami terpisah jauh Aceh-Jakarta. Frekuensi bertemu pun 2-3 bulan sekali. Bisa jadi pula, saat bertemu bukan pada masa subur. Sehingga pembuahan itu belum pernah terjadi. Faktor lelah dan kualitas sperma atau sel telur bisa pula menjadi pemicu. Dan yang terutama dikembalikan lagi pada Sang Pencipta, belum saat yang tepat menurut Dia bagi kami untuk menimang buah hati. 

Seminggu jelang lebaran adalah masa paling membahagiakan. Suamiku akhirnya dipindahkan ke Jakarta. Dua bulan kemudian sejak kami tinggal bersama, tak sabar rasanya ingin memeriksakan diri ke dokter kandungan berdua dengan suami. Ingin memastikan kesuburan kami berdua. Memastikan bahwa tidak ada hal serius yang perlu ditakutkan.

Awal November
RSIA Hermina menjadi pilihan. Selain dekat, dokter kandungannya juga banyak. Tinggal pilih. 

Diagnosa awal : 
Alhamdulillah rahimku tidak ada masalah menurut penglihatan dari USG si dokter. Ukuran, bentuk, dan letak semua normal. Beliau juga mengatakan bersih dari kista. Siklus haid juga normal. Kata dokter, siklus yang normal itu antara 21-35 hari. Sedangkan siklusku rata-rata 24 hari. Sampai di sini, alhamdulillah tidak ada masalah dengan organ reproduksiku. Sementara dokter tidak memberi resep obat apapun untuk aku konsumsi. 

Mulailah dokter mengajari kami cara menghitung masa subur dan kapan sebaiknya "kumpul". Langsung dicatat di agenda dan kalendar jadwal "itu". Haha....

Sekarang giliran suamiku yang ditanya-tanya si dokter. Kesimpulan, he must stop smoking if he wants a baby. (yess...akhirnya dokter ngomong juga. Istrinya sudah tidak didengar lagi). Janji setahun kemarin juga tak berhasil dibuktikannya ketika ingin bercerai dari si R*K*K. Mulutku sampai berbuih juga tak digubris.  

Sebagai kelanjutan pemeriksaan, sperma suamiku juga harus diperiksa di lab. Tujuannya untuk mengetahui kuantitas dan kualitas sperma. Syarat tes ini, tidak berhubungan intim selama 2-3 hari, sperma dikeluarkan di bawah jam 9 pagi. Bagaimana cara mengeluarkannya? Bisa minta bantuan istri, atau dikeluarkan sendiri. Asal jangan minta tolong suster aja yaa.... 
Saat pengambilan sampel sperma disediakan ruangan khusus kok. So...dont worry untuk para calon bapak. 

Hasil inilah yang paling mendebarkan. Tidak sabar menanti hasilnya....
Bila tidak ada masalah apa-apa...tinggal mengikuti sistem kalender berdasarkan masa subur.

For your info...
Keterbukaan suami istri dan kerelaan kedua belah pihak sangat diperlukan bila sama-sama ingin segera memiliki keturunan. Sama-sama saling terbuka dan bersedia mengikuti prosedur yang diberikan oleh dokter. Jangan egois..!!

--Bersambung--
Detik-detik menanti hasil
1 November 2010

Tuesday, November 30, 2010

Pagi Indah



Terbangun dengan senyum lebar
Mendapati setangkup roti, 
Secangkir susu hangat
Setangkai bunga segar
Buku yang ingin dibaca
Sekeranjang buah segar
Senyuman manis pasangan
Juga kecupan hangat
Indahnya....

Rasa ingin bersamanya selalu
Melewati waktu



For my LH

Thursday, October 28, 2010

Tanpa judul

Tak sepatah katapun terucap
Membisu
Bibir bergetar
Dada bergoncang hebat
Air hangat menetes perlahan

*Hening.....*

--------
Jkt, 281010




Thursday, October 21, 2010

Rasa nan menyesak



Akankah kau pergi gundah?
Gumpalan resah di dada menguaplah..!!
Tolong....segeralah kau enyah
Enyah dari qolbu ku 
Sejauh mungkin

Dan jangan pernah kembali lagi


Datanglah damai, tentram
Kemarilah segera....
Diami qolbuku dengan rasamu

Tetaplah di sana
Temani ku selalu
Jangan kau menghilang sampai kapanpun
Tuhan....
Titiskan padaku sifat RahimMu
Titipkan padaku hati yang bening 
seluas samudera
Jadikan hati ini ikhlas
Atas apapun

----


Jakarta 20-21 Okt 2010
yang telah berburuk sangka....semoga Allah ampuni
Jika pun yg disangkakan benar adanya, moga mjd pemicu 
utk mjd lebih baik lagi...

My LH...luv u so much
U're always there when I need u

Thursday, October 14, 2010

Relax @ Kampung Daun




Sebuah lembah kecil di belahan utara kota Bandung tepatnya di wilayah lingkungan perumahan Vila Triniti, sebelumnya hanyalah sebuah tempat yang ada di alam khayal semata. Lembah kecil yang dilindungi oleh tebing batu yang kokoh merupakan latar belakang panggung teater alam kecil, sebuah paduan suara terbentuk oleh alunan gemericik air, hembusan angin pegunungan yang memainkan daun-daun bambu menjadi pengiring orkestra alam yang tiada banding.

Di tempat inilah Kampung Daun berdiri dengan segala kesederhanaannya. Bangunan-bangunan kecil yang tertata rapi dan penuh dengan karya seni bertebaran bagaikan wadah-wadah yang siap untuk merangkul kerinduan kepada alam.

Sosok para warga kampung bagaikan penari alam keluar dari peraduan, melenggok dengan lincah menyuguhkan suatu makna yang bersahabat, membawakan panganan yang diolah oleh pakar cita rasa merupakan suatu atraksi yang akan memuaskan rasa lapar dan dahaga dari setiap baraya yang berkunjung.

“KAMPUNG DAUN” memberikan sesuatu yang lain berupa paduan nilai seni dan keanekaragaman budaya yang tercipta oleh tangan-tangan terampil para maestro. Hal ini dapat dirasakan oleh setiap baraya yang penasaran untuk menikmati hasil karya anak bangsa yang tak ternilai.

Suasana kental kampung tradisional yang romantis tatkala mentari dan bulan silih berganti mewarnai dedaunan di sepanjang area perkampungan. Serasa dimanja alam yang begitu dekat dengan baraya yang singgah seakan membawa sejuta kenangan bagaikan di kampung halaman.

Inilah segala bentuk kesederhanaan dan kebersahajaan kehidupan, teater alam kecil KAMPUNG DAUN yang selalu ingin merangkul kerinduan setiap baraya dan kebersamaan mewujudkan mimpi indah menjadi kenyataan.

Salam Hangat, Kampung Daun Gallery & Cafe .
(sumber : www.kampungdaun.net)

---------------------------------
Jumat, 01 Okt 2010
(bareng tmn ktr)
recommended!!

Kampung Daun Culture Gallery & Cafe
Jl. Sersan Bajuri Km. 4,7 No. 88 RR1 – Bandung
Phone: 022-2787915, 2784572, 2784573
Fax: 022- 2787881

Special Risoles @ HOR




Jalan-jalan ke Bandung, rasanya tak lengkap bila tak mencicipi jajanannya. Yang bosan dengan brownies kukus, mungkin bisa mencoba camilan enak yang satu ini. Risoles. Ups...jangan under estimate dulu dengan risoles ini. Risol bukan sembarang risol. Karena yang disajikan di sini tidak seperti risoles yang kebanyakan dijual di pasaran. Rasanya pun sangat spesial. Semua menggunakan keju, dan kulitnya juga sangat lembut. Harga yang ditawarkan cukup lumayan, namun cukup worthed dengan rasa yang disajikan di lidah.
Anda bisa menikmatinya di tempat, atau di bawa pulang.
Tertarik ingin mencoba? Silakan kunjungi tempatnya di House of Risoles, Jl. Setiabudi No.312, Bandung (100m dari terminal Ledeng).

Sedikit info....
Begitu memasuki tempat ini, aku langsung jatuh cinta. Rumah bergaya kolonial, dengan kusen putih bersih, halaman nan luas, rumput menghijau, koki dari balik jendela terlihat sibuk di dapur. Tempat yang cozy, dengan arsitektur bergaya Eropa. Sofa cantik, dibalut kain perca warna warni ceria, senada pula dengan bingkai cermin besar di salah satu dindingnya. Jendela putih dengan bukaan lebar dipercantik dengan kain gordin dari bahan lace putih, lampu gantung unik dengan tutupan yang juga berwarna putih. Ahh....sungguh nikmat nongkrong berjam-jam di sana. Ditingkahi pula dengan hujan rintik yang mengguyur Bandung sore itu....Sungguh sore yang indah....!!

Bandung, 01 Oktober 2010
HOR, Setiabudi

Thursday, October 7, 2010

Rindu

Rindu...tak tertahan
Bergelora dalam dada
Membuncah penuh 
Tak terbendung

Rindu tuk kembali 
ke sebuah taman
Nan penuh kedamaian
Taman-taman surga...
yang penuh malaikat dengan sayapnya 
dan senantiasa berdoa
bagi siapapun yang datang

Aku ingin kembali ke sana....
Segera





Jkt, 8 okt 2010
Aku kangen kalian....

Tuesday, August 24, 2010

Selamat jalan Fitri...

Terhenyak dan sangat kaget ketika aku membuka fesbuk pagi ini. Ucapan belasungkawa bertubi-tubi menghiasi layar monitorku. Sedari kemarin sore aku memang tidak terkoneksi lagi, karena tiba-tiba saja si Speedy mati total. Aku masih belum percaya dengan apa yang kubaca.

Air mataku menitik. Kabar duka cita yang tidak aku duga sama sekali. Salah satu sahabatku, teman baik kala SMA, Fitriana, pergi untuk selama-lamanya. Kecelakaan maut yang merenggut nyawanya, sore itu, 24 Agustus 2010, tepat di hari ke 14 Ramadhan. Tabrak lari oleh angkutan umum, dan naasnya si penabrak pergi tak bertanggung jawab. Seketika itu pula dia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. 

Terkenang dengan dirinya, seorang yang humoris, baik, ceplas ceplos....
Lama aku tak berjumpa dengannya setelah kelulusan dari SMA. Thanks to fesbuk yang telah menghubungkan kami kembali. Walaupun aku tak pernah bertemu lagi....namun kehadirannya melalui "jempol" dan komen-komennya acap menghampiri tulisan ku. Pernah pula beberapa kali kami chatting. Dari obrolan kami, jodoh pula yang mungkin sampai usianya kemarin masih dinantikannya. 

Tetapi Allah memiliki takdir dan cerita tersendiri. Allah tentu akan memberinya yang akan jauh lebih baik dan lebih indah di alam sana. Allah lebih sayang dirinya. Allah panggil dia di saat dirinya sedang beribadah puasa. Hanya Allah yang tahu yang terbaik untuk dirinya. 

Berkali-kali aku membuka wall fesbuknya. Meyakinkan diri atas apa yang terjadi. Menelusuri beberapa status dan komen-komennya.

Dan kini...wall nya telah penuh dengan ucapan belasungkawa. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun....

Selamat jalan sahabat...
Selamat jalan Fitri....
Kebaikanmu akan ku ingat selalu....
Maafkan bila ada janji yang tak tertunaikan....
Maafkan bila ada kata yang pernah membuatmu terluka

Aku tau...
Kau tidak bisa membaca lagi tulisanku ini
Namun aku yakin...Allah akan menyampaikannya untukmu....
Aku sangat kehilangan...

Allah sangat sayang kamu...
Allah lebih mencintai kamu...
Semoga rahmah dan ampunanNya memberi kehidupan yang jauh lebih baik
dari apa yang ada di muka bumi ini....

Aku doakan...semoga pangeran terbaikmu menanti di sana...

Amin...

Jakarta, 25 Agt 2010
15 Ramadhan 1431H

Ahh Fitri...begitu cepat kamu pergi. 
Sampai saat ini aku masih tak percaya kamu sudah tiada.....

Tuesday, August 10, 2010

Ramadhan membawa suamiku pulang ke pangkuan

Ramadhan sungguh penuh kebaikan dan kasih sayang Allah. Bulan yang penuh keberkahan. Kehadirannya senantiasa dirindukan bagi yang merindukannya. Saat ini aku merasakan nikmat datangnya Ramadhan itu begitu merasuk langsung dalam jiwa. Kali ini aku benar-benar merasakan kasih sayang Allah diberikan menjelang detik-detik kedatangan sang penghulu bulan. Hatiku bergetar hebat, tersungkur sujud penuh syukur, air mataku tak terbendung. Kabar suka cita mampir ke telingaku tepat satu hari sebelum Ramadhan tiba. 

Pernikahan jarak jauhku selama 1 tahun 3 bulan, dengan segala suka dukanya, alhamdulillah berakhir sudah dengan ijin Allah. Siang itu suamiku memberi kabar via telepon, bahwa dia akan segera dipindahkan ke Jakarta. Tak terperi rasa gembiraku. Aku akan segera berkumpul kembali dengan belahan jiwa dan akan mulai menata kembali rumah tangga kami yang selama ini masih seperti hubungan pacaran saja. Rasanya tak sabar ingin melewati Ramadhan bersama-sama. Sahur, berbuka, tarawih, munajat malam, menghadiri kajian, i'tikaf, ingin kulalui berdua dengannya. Masa yang tidak aku rasakan seperti Ramadhan silam. 

Banyak hal-hal menggembirakan yang tak dapat aku tuliskan karena begitu banyak nikmat Allah yang aku rasakan. Terbukti bahwa janji-janjiNya adalah benar. Kasih sayangNya dapat aku rasakan, doa dan munajatku selama ini Ia dengar. Dan Ia kabulkan pada saat yang sangat tepat. Di kala kegundahan dan kegelisahan melanda, bermacam kekhawatiran meraja diri, juga ketakutan yang tiba-tiba saja menyergap. Namun Allah maha tahu bahkan melebihi diri ini sendiri. 

Sesuatu kepastian yang begitu aku harapkan, diijabah olehNya. Aku sangat malu padaNya, karena begitu banyak doaku yang Ia kabulkan, namun aku acap kali lalai mengucap syukur. Masih sering tidak ikhlas dalam beramal, masih lamban dalam merespon panggilan kebajikan, masih banyak keburukan daripada kebaikan yang aku lakukan. Sungguh teramat malu sangat...... 

Kabar baik yang aku dengar memberi spirit baru ke dalam diri. Ramadhan ini aku bertekad menjadi a new Dessy...reborn to be a good wife and moslemah. Semakin bersemangat menjalani hari-hari. Mencari kerihoanNya. Amin

Terima kasih ya Allah...
Atas kado sangat indah untukku

Terima kasih suamiku...
Telah menjadi qowwamku
Ingin ku segera memeluk dirimu
Menantimu di pintu kedatangan Soekarno Hatta....
Cepatlah pulang yaa...

Jakarta, 10 Agustus 2010
Pukul 1 siang...


Sunday, June 6, 2010

Tuti yang Tumor


Malam ini ntah udah acara ngedate yang ke berapa kalinya ama si pangeran pujaan hatiku. Kayak yang baru pacaran aja...sebelum berangkat tak henti-hentinya mematut-matut diri depan cermin. Putar sana...putar sini....Maklumlah...jarang-jarang kita bisa jalan-jalan berdua bak sepasang muda-mudi yang kasmaran. Setiap momen menjadi waktu yang sangat disayangkan untuk dilewatkan, apalagi kalo suamiku udah datang pulang. Rasanya bahagiaaaa banget. Padahal keluarnya cuman duaan...ngga rame-rame...tetep aja pengen tampil beda di samping suami. Pakaian yang dipakai pun sebenarnya tidak istimewa. Hanya kaos kasual dan rok jeans belelku, plus tali pinggang etnik kesayangan, dan kerudung pink favorit suami. Tas anyaman ala vintage style, dan sandal jepit coklat mewarnai dandananku malam itu. Kayak ABG.... kata suamiku melihat gayaku malam itu. Xixixi....

Dipilihlah mall terdekat dari rumah yang dapat ditempuh dengan kendaraan setia si angkot, dengan waktu tidak lebih dari 15 menit. Cukup nyaman dan efisien di saat kondisi isi dompet dan tabungan yang mulai menipis....

Aku yang jarang banget thawaf mengelilingi mall....lama-lama terasa juga lelahnya. Begitu juga si dia. Tak mau kalah dengan capenya kakiku yang mulai pegal-pegal. Keluar masuk toko, celinguk sana celinguk sini, membuatku dilanda keletihan sangat. Niat awal mencari pengganti sepatu suamiku yang mulai tak layak pakai...tapi karena harga sepatu yang gila-gilaan walaupun sudah didiskon 50%.....akhirnya si sepatu tetap terpajang dengan manisnya di etalase. Moga kau tetap berada di situ dan hargamu tetep diskon.....bisikku ama si sepatu sambil tersenyum meringis. 

Akhirnya....sepatu tidak jadi diangkut...kita memutuskan pergi nonton berdua aja. Film yang aku inginkan....ternyata belum tayang di bioskop. Tiket berdua hanya 30rb. Nonton menjadi acara yang kerap kami lakukan ketika ketemuan. Nonton hemat....
Aku yang pegang kendali dalam memilih film malam itu. Prince of Persia. Sebuah film kolosal. 
Masuk gedung bioskop, film telah tayang selama 10 menit. Setengah jam lewat, 1.5 jam berlalu. Mungkin ceritanya makin seru ya...tapi ntah apa yang menindih mataku. Terasa beraaaaaaaat sekali. Perlahan mataku mulai meredup, persis seperti lampu bohlam yang telah melemah dan akan mati. Sesekali aku masih terjaga dan sebisa mungkin mengikuti jalan cerita film. Namun apa daya....

"Sayang...bangun...filmnya udah habis..." tepuk suamiku.

Mataku mengerjap-ngerjap. Lampu sudah dinyalakan semua. Tergagap-gagap aku berusaha melihat sekitar.

"Akang kok ngga bangunin sihhh...." pelan-pelan mulai mengembalikan kesadaranku yang hilang.

"Istriku gimana sihh...dia yang pilih filmnya...eh dia yang tiduurrr...cape dehh...ntar lain kali akang aja deh yang pilih filmnya..." 

"Hihi....gimana atuh...nontonnya di saat jam tidur dessy....ya resikooo...!!"

"Istriku tuti...tukang tidur..."
--***---

Lippo karawaci, 01 Juni 2010

Wednesday, May 26, 2010

Plesir ke surga tersembunyi (Iboih beach)




Belum lengkap rasanya jika Anda berkunjung ke Banda Aceh, namun tidak menyempatkan diri ke Pulau Weh, dengan ibukota Sabang, kota paling barat di Indonesia. Menurut sejarah, dahulu pulau ini menyatu dengan pulau Sumatera, namun akhirnya terpisah oleh laut karena terjadi letusan gunung berapi terakhir kali pada zaman Pleistosen. Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer (10 mil) di ujung paling utara dari Sumatra. Pulau ini hanya pulau kecil dengan luas 156,3 km², tetapi memiliki banyak pegunungan (sumber : Wikipedia)

Untuk mencapai kota Sabang, perjalanan dari Banda Aceh dimulai dari pelabuhan Uleuleu dengan menaiki kapal feri. Anda dapat memilih feri cepat atau feri lambat (istilah yang dipakai oleh penduduk setempat). Kapal feri cepat dapat tiba di Pulau Weh dengan waktu tempuh hanya 45 menit. Sedangkan kapal feri lambat memakan waktu 1.5 jam penyeberangan. Penyeberangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan dana yang dimiliki. Kapal feri cepat kelas ekonomi tarifnya Rp.60.000,-per orang, sedangkan kapal feri lambat kelas eksekutif memasang tarif Rp. 35.000,- per orang. Perhatikan pula jam-jam keberangkatan, karena setelah jam 4 sore, tidak ada lagi keberangkatan.

Perjalanan menyenangkan akan Anda rasakan manakala kaki Anda menginjak di pelabuhan Uleuleu, karena pemandangannya begitu indah, dengan panorama landscape pegunungan mengelilingi, kemanapun mata Anda memandang. Bagi Anda yang hobi fotografi atau hobi difoto alias narsis, tak ada salahnya untuk terus membidikkan kamera. Kamera apapun yang dipakai, hasilnya akan bagus, karena alamnya memang sungguh indah dari Sang Pencipta.

Tiba di pulau Weh, tepatnya di Pelabuhan Balohan, Sabang, kami langsung naik angkutan umum yang memang sudah tersedia bagi yang tiba di pulau ini. Jangan membayangkan Anda naik kendaraan yang bagus, karena angkutan umum di sini standard dan rata-rata tidak ber-AC, dan tarif yang mereka berikan untuk sampai tempat tujuan rata-rata Rp. 40.000,- per orang. Tapi bila ingin bernego lagi, silakan dicoba. Karena setau saya tidak ada tarif resmi yang ditetapkan. Dan angkutan umumnya kebanyakan adalah mobil jenis Colt L300.

Tujuan awal kami berada di pulau ini sebenarnya adalah pantai Sumur Tiga, penginapan Freddies. Namun apa daya, karena kesalahan dari pihak pegawai bungalow, kamar yang telah kami booking sebelumnya, telah diberikan untuk yang lain. Sempat kesal bukan main, karena kami sudah sangat jatuh cinta dengan lokasinya. Sepi, hening, lautnya cantik, dan romantis sekali.

* Sebuah tips untuk Anda, jangan bosan untuk terus konfirmasi berulang-ulang ke pegawainya bila telah memesan sebelum hari H, karena mereka dengan seenaknya memberikan kamar pada orang lain tanpa konfirmasi lagi kepada pembooking sebelumnya. Satu hal yang kami tidak sukai, mereka tidak memikirkan pelancong yang sudah jauh-jauh hari memesan dan masih bingung harus ke tempat yang mana lagi. Namun ketika si pemilik (orang Perancis) dikomplain masalah tersebut, beliau sangat marah ketika tahu apa yang dilakukan oleh pegawainya. Namun marah saja tidak cukup bukan?

Kita tinggalkan saja cerita tidak mengenakkan di Pantai Sumur Tiga. Akhirnya kami memutuskan untuk ke desa Iboih (atas saran supir yang membawa kami), desa kecil yang dikenal sebagai tempat untuk berenang di bawah laut. Dari pantai Iboih juga dekat dengan pulau Rubiah, sebuah pulau kecil di seberang Iboih, yang terkenal dengan terumbu karangnya. Di pantai Iboih, banyak kegiatan yang dapat dilakukan seperti tracking, snorkling, berenang, ataupun menyelam.

Perjalanan menuju Iboih sungguh indah, melewati perbukitan dan beberapa kali menemui kelokan yang cukup terjal. Disarankan untuk tidak tidur selama berada di mobil, karena sangat disayangkan bila Anda melewatkan suguhan alam yang luar biasa dalam perjalanan. Bukit yang mengelilinginya adalah kawasan suaka alam. Dan yang menakjubkan bagi kami yang sering melihat keramaian dan kemacetan dalam keseharian, tiba-tiba saja dihadirkan dengan kehadiran banyak monyet kecil yang biasanya hanya bisa dilihat dalam pertunjukan topeng monyet. Di Weh, monyet-monyet itu dengan bebasnya berada di pinggir hutan bukit yang kami lewati. Bergaya di pinggir jalan menuju Iboih. Bebas lepas. Bagaimana dengan kendaraan bermotor??? Mobil dan motor yang lewat di jalan bisa dihitung jari.

Perjalanan dari pelabuhan sekitar 1 jam hingga tiba di Iboih. Alhamdulillah masih tersisa kamar. Karena di saat musim liburan long weekend, penginapan penuh oleh turis asing. Tak terbayang seandainya tidak mendapatkan tempat. Karena jalan menuju penginapan harus melalui jalur yg tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. Harus tracking ke lokasi penginapan kurang lebih 300m. Karena bungalow-bungalow dibangun di tengah hutan tropis di sisi pantai. Harga penginapan di tempat ini variatif, berkisar antara Rp. 150.000 - Rp. 350.000 per malam. Harga akan beda bila Anda berniat ingin lebih lama tinggal di pulau ini. Standard room-nya adalah kamar mandi dalam (air ketika itu sedikit payau, tapi bagi kami sangat asin), tempat tidur plus kelambu (banyak nyamuk), dan kipas angin. Bungalow yang lebih mirip rumah pohon, dengan arsitektur dari kayu, dan sangat alami sekali ditambah pula dengan letaknya yang berada di tengah hutan di pinggir pantai. Bagi Anda yang senang petualangan, suasana seperti ini akan sangat berkesan. Apalagi yang berbulan madu seperti kami, sungguh seperti ditinggalkan di pedalaman pulau terpencil, no TV, no radio, no newspaper, tidak memikirkan apapun selain bersenang-senang.

- - - - - - -

Yang wajib dilakukan ketika tiba di Pulau Weh adalah snorkling, alat-alat dapat disewa dengan harga rata-rata Rp. 15.000, mulai dari snorkler, fin (sepatu katak), pelampung. Untuk kegiatan menyelam, ada tempat khusus untuk mendaftar. Keindahan bawah lautnya sangat cantik, dengan ekosistem ikan yang beraneka ragam serta terumbu karang di dalamnya. Sangat sayang bila dilewatkan begitu saja.

Tips untuk yang akan berkunjung ke tempat ini :

- Lebih asyik kalau Anda bawa mobil pribadi, karena banyak tempat yang bisa didatangi, sehingga lebih leluasa dalam waktu dan tidak terburu-buru. Akibat tidak membawa mobil pula, kami tidak sempat mengunjungi tempat-tempat lain seperti Pantai Gapang, dan pantai lainnya yang jaraknya cukup berdekatan, serta tugu 0 km, yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Hiks...

- Bawa perlengkapan yang cukup, mulai dari pakaian, handuk, peralatan mandi (harga kebutuhan sehari-hari sangat mahal di lokasi), juga lotion anti nyamuk, nyamuknya sangat ganas!!

- Disarankan memakai sandal gunung, karena ketika hujan akan becek sekali.

- Bawa kacamata hitam, sunblock, pakaian renang, alat snorkler (bila tidak ingin menyewa).

- Senter (ketika mati lampu sangat mencekam, apalagi ketika sedang makan malam dan penginapan jauh), payung (ketika hujan akan manfaat sekali), buku dan majalah sambil menikmati angin pantai.

- Makanan dan minuman instant, cemilan-cemilan, obat-obatan.

- Uang yang cukup, apalagi bila berniat libur lebih dari 2 hari di tempat ini, biaya makan sangat mahal, rata-rata Rp.30.000 per orang (masakan western), dan yang lokal Rp. 15.000 sekali makan. Dapat dihitung berapa pengeluaran untuk makan dalam seharinya. Sedangkan sarapan, biasanya tersedia dari penginapan, free of charge.

Sekali lagi....sungguh menyenangkan berada di Sabang, tak salah bila salah satu teman kantor suami yang berkebangsaan Australia menjadikan Weh Island sebagai rumah keduanya. Dia telah jatuh cinta dengan Sabang, begitu juga aku...

- - - -


Iboih, 13-15 Maret 2010
Thanks 2 my lovely huzband for a great holiday....
I was happy being there...really enjoy it...
Iboih....the hidden heaven....

Thursday, May 20, 2010

Satu tahun penuh arti

"Tuan putri...sudah siap untuk dipersunting??" Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Masih sangat jelas terdengar bagaimana dia mengucapkannya ketika itu via telepon seluler di penghujung malam. Sebuah peristiwa besar dalam diriku. Teramat takjub aku dengan semua rencana yang telah dipersiapkan Allah untuk tiap fase kehidupanku. Seorang pria yang belum pernah aku lihat wujudnya secara kasat mata tiba-tiba saja ingin menjadikan diriku sebagai istrinya. It's so amazing...isnt it?

Dan setahun berlalu sudah...sejak akad itu dia ikrarkan di hadapan Sang Khaliq. Setahun yang penuh bunga juga duri-duri kecil. Satu tahun berlalu dengan sangat lajunya. Bermacam peristiwa dilewati. Berbagai ujian menghadang. Dan beraneka manisnya cinta direguk. Ada senyum, tawa, tangis, kesal, marah, haru, bahagia, senang, telah campur aduk dalam hari-hari yang aku lewati bersamanya. Dua insan yang tiada pernah saling kenal sebelumnya, namun kini bersatu di bawah satu atap dan selimut. Terkadang aku merasa semua seperti mimpi saja. Aku yang dulu sudah tidak berharap lagi datangnya seorang pria dalam hidupku, berulang kali gagal dan tidak pernah cocok dengan tiap pria yang mendekati maupun yang disodorkan. Dahulu aku berfikir bahwa aku adalah hidupku sendiri, tidak perlu berbagi rasa dan perasaan dengan seorang yang lain, yang selalu egois dan bertanggung jawab untuk diriku saja. Tetapi kini, ada dia, dia yang dikirim Tuhan masuk dalam tiap relung diriku. Aku tak kuasa menolaknya, terlalu sombong bila mengabaikannya. Aku kian menyadari bahwa fitrah manusia lah untuk berpasang-pasangan. Kriteria tinggi yang dulu aku targetkan, harus begini dan begitu ternyata tak menjadi patokan harga mati. Namun apa yang pernah hati kecilku bisikkan, itulah yang tergambar dalam diri pasanganku. Dia seorang yang romantis, humoris, dan supel sekaligus sabar, tak dapat aku pungkiri. Permintaan terhalus dalam relung batinku yang terdalam, dan itu pula yang dijawabNya. 

Jarak yang memisahkan hingga hari ini, membuat rumah tanggaku selama 1 tahun berjalan seperti sepasang remaja yang masih berpacaran saja. Tiada rutinitas layaknya rumah tangga yang hidup bersama. Tiap dua bulan sekali aku menanti-nanti kedatangannya. Bersiap-siap dengan penampilan terbaik. Merencanakan tempat-tempat kencan yang akan aku datangi bersamanya. Menyusun menu yang ingin aku santap berdua dengannya. Aku sering geli sendiri dengan rumah tanggaku. Seperti ABG yang kasmaran, tiap malam aku selalu menanti-nanti telepon darinya, dan bila pagi datang aku bersemangat ke kantor agar dapat ber-chatting ria dengan suamiku. Begitu hampir setiap hari. Sms-sms nakal, manja, dan sms saling mengingatkan senantiasa mampir ke hpku ataupun hpnya. Warna-warninya rumah tanggaku. Namun ketika rasa bad mood menghadang dan ada perasaan tidak suka menyergap, aku bisa membuat suasana menjadi sangat keruh. Saatnya kesabaran aku dan dia diuji. Belajar menguasai amarah dan mengerti keinginan pasangan, juga  dengan lapang dada memaafkan satu sama lain. Pernikahan mengajarkan sangat banyak hal. 

Satu tahun, layaknya perjalanan hidup seorang anak manusia. Di usia ini, adalah awal-awal mulai belajar berjalan, sering kali terjatuh, tersandung, terjerembab, bahkan sakit untuk awalnya. Belajar keseimbangan untuk benar-benar menapakkan kaki menjejak ke bumi. Dan bila masa itu terlewati, maka dunia yang penuh misteri ini akan sanggup dijelajahi dengan kedua kakinya. Peristiwa-peristiwa baru siap untuk dihadapi dan diatasi. Setiap tahapan adalah proses pembelajaran. Tidak semua yang dilewati adalah perjalanan indah, mulus, penuh bunga, dan tanpa rintangan. Ada banyak gejolak dan ujian. 


Satu tahun yang indah.....
Satu tahun yang bergejolak...
Satu tahun yang luar biasa....
Satu tahun yang banyak memberi pembelajaran....
Satu tahun yang mendewasakan....
Satu tahun yang mendidik....
Satu tahun yang akan membawa harapan-harapan baru....
Satu tahun yang penuh ANUGRAH...

Terima kasih ya Allah....
Terima kasih cinta...
Terima kasih untuk semua yang aku nikmati....
Karena kasihMu...aku menjadi pasangannya....
Karena ridhoMu...aku masih bersamanya...
Eratkan dan kekalkan ya Ilahi....

----       ---

Suamiku....

"Aku mencintaimu seperti matahari mencintai titah tuhannya"


Jakarta, 21 Mei 2010
My 1st wedding anniversary  

Friday, May 14, 2010

H-7


Melewati tahun demi tahun, aku akan berjalan bersamamu di hutan lebat menghijau, di pantai berpasir, dan bila waktu kita di dunia telah habis, di surga kelak kau akan tetap menggandeng tanganku.

-Robert Sexton-

----

Ahh...tak sabar rasanya menanti saat-saat jelang hari jadianku dengan sang pujaan hati. Tak terasa...pernikahan kami sudah mau menginjak usia 1 tahun di 21 Mei mendatang. Masih jelas dalam ingatan, satu tahun kemarin, ketika kami berdua belum pernah bertatap wajah secara langsung, hati berdebar-debar menanti-nanti kehadirannya, jantung berdegup kencang manakala dia telah landing di Soekarno Hatta, dan harap-harap cemas ketika sosoknya telah muncul di pintu. Sensasinya sungguh luar biasa. Melihat wujudnya tepat satu pekan jelang hari bersejarah untuk aku dan Kang Reza suamiku. 

^_^      ^_^      ^_^    


Suamiku yang disayang Allah...ku ingin kau ada di sampingku ketika kita merayakan hari jadian kita yang pertama...Ingin menghabiskan waktu bersamamu....

Menjadi istrimu, mendampingi di sisa hidupmu adalah anugerah untukku....
Semoga engkaupun begitu....


H-7...

Jakarta, 14 Mei '10

Thursday, April 29, 2010

Selamat Ulang Tahun Cintaku...


Perjalanan usia menyimpan banyak misteri. Banyak hal terjadi dalam perjalanan tersebut. Ada yang naik, turun, datar, lurus, belok, menyimpang, mulus bak jalan tol, kadang juga berlubang, tersendat, banyak rintangan. Selama perjalanan tersebut banyak hal pula yang dapat dirasakan. Bisa itu bahagia, sedih, susah, kekurangan, juga semua keadaan yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Itulah dinamika kehidupan yang kerap harus ditempuh dan dilalui.


Tak terasa perjalanan itu pula yang telah dilewati oleh separuh jiwaku. Usia kami tak terpaut jauh. Hanya beda beberapa bulan saja. Bila tahun lalu saat ia melewati usia di kepala 3 masih sendiri, kini ia melewatinya bersama diriku. Di tahun lalu ketika ia bertemu dengan  hari lahirnya, kami tengah berjibaku menghadapi kehebohan jelang pernikahan. Ia sibuk di Banda Aceh, aku pun sibuk di Jakarta. Di tahun lalu ia belumlah menjadi seseorang yang halal untukku, kini ia menjadi seseorang yang tau diriku melebihi orang tuaku sendiri. 

Ahh...tapi kini pun aku tidak dapat memberi sesuatu yang spesial atau sebuah kejutan kecil untuknya di hari lahirnya. Raganya tak berada di sisiku. Ku berharap di hari lahirnya aku dapat berdoa dan bermunajat berdua dengannya. Mengucap syukur atas apa yang telah kami nikmati hingga detik ini. Namun jarak ribuan kilometer memisahkan. Juga kondisi. 

Sebenarnya ia tak pernah meminta yang berlebihan dariku sebagai istrinya. Ia hanya ingin aku menjadi wanita dan istri yang soleh untuk dirinya, yang senantiasa berlaku lemah lembut, menyenangkan buat suami. Itu lebih dari cukup bagi dia. 
Tak terasa air mata ini menitik. Bila aku dapat melakukannya, tentu balasan yang aku dapatkan akan lebih dari apapun bahkan dunia dan seisinya. Semoga aku selalu menjadi seorang yang lebih baik lagi. Untuknya, untukNya, juga umat. 

Suamiku...terima kasih atas cinta yang diberikan...juga semua nasehat yang begitu berharga untuk kehidupan kita berdua. Mohon maaf bila istrimu belum dapat berbuat yang  terbaik. Ingatkan aku selalu....

SMS cinta di hari lahir suamiku : 

Hari ini...berkurang setahun usiamu Cintaku...

Doaku semoga Allah memberi keberkahan selalu di sisa usia, banyak kebaikan yang siap ditebarkan, diberi kemudahan dan kelancaran rizki, dibe

ri keturunan yg soleh n solehah, rumah tangga yang diridoi Allah, semakin bijak dan soleh dalam perjalanan usiamu..semoga kita tetap bersama hingga reuni akbar di surga...amin. 

4 my luvly huzband, kang Reza




Jakarta, 28 April 2010
(31 tahun usia suamiku hari ini)

Friday, April 23, 2010

Untung ngga nikah siri

Tok...tok...tok....tok...tok...tok....!!!
Suara gedar gedor terdengar dari luar kamar. Semakin lama semakin kencang suaranya. Heboh banget dalam hatiku. Siapa sih malam-malam begini ketok-ketok kamar orang? Ngga sopan banget.
Langsung aku ngabring ke kamar kecil. Suamiku dengan terkantuk-kantuk membukakan pintu. Ntah apa yang mereka bicarakan di luar...aku tidak mendengar dengan jelas. Setelah suara pintu kamar ditutup kembali...aku keluar dari persembunyian.

"Ada apa kang?" aku langsung loncat dari kamar mandi.

"Ngga...itu tadi anak ibu kost. Dia nanya akang....katanya tadi liat akang bawa perempuan ke dalam kamar. Hihi...masa akang dikira bawa bukan mahrom ke dalam kamar."

"Masya Allah...emang akang ngga lapor bawa istri nginep?"

"Sebelumnya udah bilang...cuman si abang itu emang jarang di rumah...dia ngga tau. Trus si ibu juga lagi ngga di rumah. Jadi deh kita digosipin. Tadi ada tetangga yang lapor kayaknya." jawab suamiku sambil membetulkan kain sarungnya yang nyaris melorot.

"Kok akang ngga liatin aja buku nikah  kita?" tanyaku lagi.

"Akang udah jelasin kok...kita punya bukti kalo kita udah nikah, tapi tadi akang bingung ditaro dimana bukunya. Lagian si abang itu jadi malu sendiri...dia bilang ngga usah diliatin...udah percaya...."

"Hmmm...syukurlah...hampir aja kita digerebek...dikira pasangan mesum lageee....duuhh....untung kita nikah resmi kang...kalo ngga...pakai bukti apa kalau kita udah nikah? hayooo....." jawabku sambil ngeloyor ke tempat tidur.

Wuihh...pengalaman lucu pertama tidur di Banda Aceh, eh malah dikira pasangan mesum. Untung ngga ketangkep ma polisi WH (Wilayatul Hisbah), sebutan untuk polisi syariat di Aceh.

Kamar akang, 12 Maret 2010


Monday, March 22, 2010

Serambi Mekkah (day-1)


Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Banda Aceh. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh.

Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya.

Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968).

Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.(WIKIPEDIA)

Perjalanan yang tidak diduga dan diharapkan sama sekali. Suamiku, Kang Reza, yang biasanya tiap 2 bulan sekali mendatangi sang istri, untuk kali ini tidak mendapatkan cuti dari kantor. Sebagai pengganti, akulah yang gantian mengunjunginya. Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan, karena kakiku belum pernah menginjak bumi paling barat di Indonesia, Aceh, yang penuh cerita dan tragedi.

Hari itu, Jumat 12 Maret '10, Garuda mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, tepat pukul 9.30 pagi. Arsitektur bergaya mesjid, dengan kubah besarnya menyambut kehadiranku di bumi Serambi Mekkah. Hujan rintik mewarnai kedatanganku pagi itu.

Hari pertama di Banda Aceh, aku mewajibkan diri ke mesjid Baiturrahman, mesjid bersejarah, landmark kota Banda Aceh, saksi bisu kedahsyatan tsunami di Desember 2004.

Suasana nyaman langsung terasa ketika menginjakkan kaki di halaman mesjid nan luas. Luas area mesjid ini lebih kurang 4 ha, dengan luas ruangan dalam mesjid lebih kurang 4.760 m2, dengan lantai marmer buatan Italia, serta mampu menampung 9000 jamaah. Kemegahan mesjid dengan arsitektur nan cantik turut menambah kemolekan mesjid agung ini. Proses perapihan dan mempercantik mesjid terlihat di sana sini. Menurut salah seorang yang pernah datang ke sini...dia mengatakan bahwa Baiturrahman mirip dengan mesjid yang ada di Masjidil Haram....Benarkah?? Dan katanya lagi...tak kalah indahnya....Subhanallah...!!

Suasana hangat kian kental dengan ramainya suara anak-anak yang sedang belajar mengaji di dalam ruang mesjid utama. Serempak mereka mengikuti bimbingan bacaan dari sang guru. Teringat dengan masa kecilku yang juga belajar mengaji ke mesjid. Ahh....aku rindu masa-masa itu.

Baiturrahman, 12 Maret 2010

Makasi kang..karena Allah dan dirimu, aku tiba di Serambi Mekkah

Friday, March 12, 2010

Senja di Tepi Kali (day-1)

Masih berada di Bumi Serambi Mekkah, tak jauh dari mesjid Baiturrahman, tepatnya di jalan Tepi Kali. Ternyata Banda Aceh menyimpan landscape sungai nan anggun, terbentang dengan moleknya, dikangkangi oleh gagahnya jembatan Pante Pirak. Konon nama si sungai adalah Krueng Aceh atau sungai Aceh.

Krueng Aceh, sungai yang tenang dipayungi langit biru menghiasi sore nan teduh. Pepohonan rindang berdiri gagah sepanjang bantaran. Bangku-bangku taman unik berjejer di sepanjang tepi sungai, dialasi lantai kayu nan etnik. Tanaman-tanaman hias yang dijajakan berjajar rapi di sepanjang pinggiran bantaran sungai. Area jogging track turut melengkapi land
scape ini. Berdasarkan hasil pantauan sekilas, penataan landscape sungai adalah hasil kerjasama dan bantuan dari pemerintahan Jepang pasca tsunami.

Sebuah sarana rekreasi yang menyenangkan. Sekaligus tempat melepaskan lelah apalagi ketika pulang kerja dan penat setelah seharian beraktivitas. Tempat ini sepertinya dijadikan pula sebagai ajang tempat bertemu. Pemuda-pemudi Aceh tampak bergerombol bercengkrama. Ada yang tertawa-tawa, berfoto-foto
, membaca buku, melamun, dan saling mengobrol.
Sore cantik, ditemani oleh seorang pria simpatik...membuat orang-orang jadi melirik.. Yups...sore itu aku menikmati kunjungan perdana di bumi Serambi Mekkah. Di Aceh, melihat pria dan wanita berdua-duaan menjadi pandangan aneh. Apalagi aku dan suami tidak menuntun seorang anak, kelihatan sekali seperti remaja kasmaran. Tapi diam-diam di tasku telah tersimpan dengan rapi surat ijin bergandengan tangan dan berduaan. Dimaklum, karena pemerintah setempat memberlakukan syariat Islam di daerahnya. 
Menikmati sore di Aceh tidak lengkap rasanya tanpa meneguk secangkir kopi atau teh. Masih dekat dengan lokasi landscape sungai, sebuah warung kopi yang cukup ramai dikunjungi, dilengkapi pula dengan fasilitas Wifi, tempat ini menjadi tempat ajang nongkrong anak-anak muda Aceh. Ditilik dari bangunan, tidak ada yang istimewa atau menarik, hanya bangunan ruko biasa dan interior yang sangat biasa pula. Namun pengunjungnya cukup ramai sore itu. Nama warung kopinya adalah Chek Yukke. Aku dan suami memesan kopi sanger, kopi khas Aceh. Bagi para pecinta kopi mungkin dapat membedakan cita rasanya. Namun bagiku yang bukan penggemar kopi, rasa kopi tetap sama saja. Rasa kopi sanger ini lebih mirip kopi cappucino. Kue yang dihidangkan sebagai teman minum kopi yaitu kue timphan kue khas Aceh, terbuat dari tepung ketan, santan, dan berinti asokaya (adonan srikaya) yang cukup bergizi, karena kandungan telurnya. Selain kue timphan, terhidang pula kue donat, pisang goreng ditaburi coklat meses, dan tempe goreng tepung. Bila lapar dan ingin makanan berat, tersedia pula beberapa gerobak yang menjual beraneka makanan pelepas lapar. Selain warung Chek Yukke, ada satu tempat makan yang terkenal pula di Banda Aceh, yaitu warung Canai Mamak, tempat makan dan nongkrong sambil menatap layar laptop. Di Canai Mamak pula aku dan suami 
berkesempatan reunian dengan salah satu teman SMP ku yang kebetulan tinggal di Banda Aceh. Terpisah selama 16 tahun...dan akhirnya Allah berkehendak mempertemukan kembali. Ahh senangnya....


Banda Aceh, 12 Maret 2010