
Salah satu cerita yang ingin aku bagikan...yuk baca di sini....
Layaknya pasangan lain yg baru saja menikah, tentu memiliki berjuta harapan dan keinginan. Mungkin salah satu dari harapan tersebut adalah memiliki keturunan. Apalagi bagi kami pasangan yang sudah tidak muda lagi dari sisi usia. Hitung-hitungan matematika usia bermain-main di kepala. Belum lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu juga yang kerap ditujukan ketika bertemu dengan sanak saudara. Ada pula yang berpandangan negatif bahwa kami sengaja menunda kehadiran anak dalam kehidupan kami saat ini. Ada lagi yang menganggap aku kurang subur, siklus haid tidak normal, sehingga sulit untuk hamil. Sedih rasanya di 'judge' seperti itu. Dokter saja belum pernah periksa dan belum mendiagnosa apapun tentang reproduksiku. Tapi mereka di luar sana seolah-olah lebih mengetahui isi dalam tubuhku. Bagi perempuan, terutama aku, anggapan-anggapan yang tidak berdasar tanpa ada bukti menjadi hal yang menyakitkan dan menyinggung sisi feminitasku.
Hingga semua yang dapat meningkatkan kesuburan disarankan dan disuruh coba. Yang pengobatan alternatif pun telah berkali-kali disodorkan. Hiksss.....
Aku sadar, mungkin itu semua salah satu bentuk rasa sayang dan perhatian yang diberikan untuk kami berdua. Terkadang aku berontak, kenapa harus selalu aku yang disarankan untuk begini dan begitu, dan suamiku tidak. Banyak faktor pula yang mungkin bisa menjadi tertundanya kehamilan yang aku inginkan. Selama 1.5 tahun pernikahan, kami terpisah jauh Aceh-Jakarta. Frekuensi bertemu pun 2-3 bulan sekali. Bisa jadi pula, saat bertemu bukan pada masa subur. Sehingga pembuahan itu belum pernah terjadi. Faktor lelah dan kualitas sperma atau sel telur bisa pula menjadi pemicu. Dan yang terutama dikembalikan lagi pada Sang Pencipta, belum saat yang tepat menurut Dia bagi kami untuk menimang buah hati.
Seminggu jelang lebaran adalah masa paling membahagiakan. Suamiku akhirnya dipindahkan ke Jakarta. Dua bulan kemudian sejak kami tinggal bersama, tak sabar rasanya ingin memeriksakan diri ke dokter kandungan berdua dengan suami. Ingin memastikan kesuburan kami berdua. Memastikan bahwa tidak ada hal serius yang perlu ditakutkan.
Awal November
RSIA Hermina menjadi pilihan. Selain dekat, dokter kandungannya juga banyak. Tinggal pilih.
Diagnosa awal :
Alhamdulillah rahimku tidak ada masalah menurut penglihatan dari USG si dokter. Ukuran, bentuk, dan letak semua normal. Beliau juga mengatakan bersih dari kista. Siklus haid juga normal. Kata dokter, siklus yang normal itu antara 21-35 hari. Sedangkan siklusku rata-rata 24 hari. Sampai di sini, alhamdulillah tidak ada masalah dengan organ reproduksiku. Sementara dokter tidak memberi resep obat apapun untuk aku konsumsi.
Mulailah dokter mengajari kami cara menghitung masa subur dan kapan sebaiknya "kumpul". Langsung dicatat di agenda dan kalendar jadwal "itu". Haha....
Sekarang giliran suamiku yang ditanya-tanya si dokter. Kesimpulan, he must stop smoking if he wants a baby. (yess...akhirnya dokter ngomong juga. Istrinya sudah tidak didengar lagi). Janji setahun kemarin juga tak berhasil dibuktikannya ketika ingin bercerai dari si R*K*K. Mulutku sampai berbuih juga tak digubris.
Sebagai kelanjutan pemeriksaan, sperma suamiku juga harus diperiksa di lab. Tujuannya untuk mengetahui kuantitas dan kualitas sperma. Syarat tes ini, tidak berhubungan intim selama 2-3 hari, sperma dikeluarkan di bawah jam 9 pagi. Bagaimana cara mengeluarkannya? Bisa minta bantuan istri, atau dikeluarkan sendiri. Asal jangan minta tolong suster aja yaa....
Saat pengambilan sampel sperma disediakan ruangan khusus kok. So...dont worry untuk para calon bapak.
Hasil inilah yang paling mendebarkan. Tidak sabar menanti hasilnya....
Bila tidak ada masalah apa-apa...tinggal mengikuti sistem kalender berdasarkan masa subur.
For your info...
Keterbukaan suami istri dan kerelaan kedua belah pihak sangat diperlukan bila sama-sama ingin segera memiliki keturunan. Sama-sama saling terbuka dan bersedia mengikuti prosedur yang diberikan oleh dokter. Jangan egois..!!
--Bersambung--
Detik-detik menanti hasil
1 November 2010