Friday, March 12, 2010

Senja di Tepi Kali (day-1)

Masih berada di Bumi Serambi Mekkah, tak jauh dari mesjid Baiturrahman, tepatnya di jalan Tepi Kali. Ternyata Banda Aceh menyimpan landscape sungai nan anggun, terbentang dengan moleknya, dikangkangi oleh gagahnya jembatan Pante Pirak. Konon nama si sungai adalah Krueng Aceh atau sungai Aceh.

Krueng Aceh, sungai yang tenang dipayungi langit biru menghiasi sore nan teduh. Pepohonan rindang berdiri gagah sepanjang bantaran. Bangku-bangku taman unik berjejer di sepanjang tepi sungai, dialasi lantai kayu nan etnik. Tanaman-tanaman hias yang dijajakan berjajar rapi di sepanjang pinggiran bantaran sungai. Area jogging track turut melengkapi land
scape ini. Berdasarkan hasil pantauan sekilas, penataan landscape sungai adalah hasil kerjasama dan bantuan dari pemerintahan Jepang pasca tsunami.

Sebuah sarana rekreasi yang menyenangkan. Sekaligus tempat melepaskan lelah apalagi ketika pulang kerja dan penat setelah seharian beraktivitas. Tempat ini sepertinya dijadikan pula sebagai ajang tempat bertemu. Pemuda-pemudi Aceh tampak bergerombol bercengkrama. Ada yang tertawa-tawa, berfoto-foto
, membaca buku, melamun, dan saling mengobrol.
Sore cantik, ditemani oleh seorang pria simpatik...membuat orang-orang jadi melirik.. Yups...sore itu aku menikmati kunjungan perdana di bumi Serambi Mekkah. Di Aceh, melihat pria dan wanita berdua-duaan menjadi pandangan aneh. Apalagi aku dan suami tidak menuntun seorang anak, kelihatan sekali seperti remaja kasmaran. Tapi diam-diam di tasku telah tersimpan dengan rapi surat ijin bergandengan tangan dan berduaan. Dimaklum, karena pemerintah setempat memberlakukan syariat Islam di daerahnya. 
Menikmati sore di Aceh tidak lengkap rasanya tanpa meneguk secangkir kopi atau teh. Masih dekat dengan lokasi landscape sungai, sebuah warung kopi yang cukup ramai dikunjungi, dilengkapi pula dengan fasilitas Wifi, tempat ini menjadi tempat ajang nongkrong anak-anak muda Aceh. Ditilik dari bangunan, tidak ada yang istimewa atau menarik, hanya bangunan ruko biasa dan interior yang sangat biasa pula. Namun pengunjungnya cukup ramai sore itu. Nama warung kopinya adalah Chek Yukke. Aku dan suami memesan kopi sanger, kopi khas Aceh. Bagi para pecinta kopi mungkin dapat membedakan cita rasanya. Namun bagiku yang bukan penggemar kopi, rasa kopi tetap sama saja. Rasa kopi sanger ini lebih mirip kopi cappucino. Kue yang dihidangkan sebagai teman minum kopi yaitu kue timphan kue khas Aceh, terbuat dari tepung ketan, santan, dan berinti asokaya (adonan srikaya) yang cukup bergizi, karena kandungan telurnya. Selain kue timphan, terhidang pula kue donat, pisang goreng ditaburi coklat meses, dan tempe goreng tepung. Bila lapar dan ingin makanan berat, tersedia pula beberapa gerobak yang menjual beraneka makanan pelepas lapar. Selain warung Chek Yukke, ada satu tempat makan yang terkenal pula di Banda Aceh, yaitu warung Canai Mamak, tempat makan dan nongkrong sambil menatap layar laptop. Di Canai Mamak pula aku dan suami 
berkesempatan reunian dengan salah satu teman SMP ku yang kebetulan tinggal di Banda Aceh. Terpisah selama 16 tahun...dan akhirnya Allah berkehendak mempertemukan kembali. Ahh senangnya....


Banda Aceh, 12 Maret 2010

4 comments:

  1. lagi bernosltalgia rupanya.. met jalan2 deh :)

    ReplyDelete
  2. iya...cerita bulan lalu pak...sayang kalo ngga ditulis...baru sempat sekarang....
    apa kabar pak dayan?

    ReplyDelete
  3. wah pake surat ijin bergandengan dan berduaan.. :D
    asik ya kaya bulan madu..

    ReplyDelete
  4. kalo ngga gitu bisa ditangkep ama satpol PP nya aceh mba...

    ReplyDelete