Wednesday, January 20, 2010

Jerat-jerat Utang

dakwatuna.com (By Muhammad Nuh)
Dunia bagi seorang mukmin adalah arena ujian. Adakalanya ia sukses mengarungi hidup. Sabar atas segala cobaan yang silih berganti menghantam bagaikan badai. Tapi, tak tertutup kemungkinan bisa gagal dan jatuh menyakitkan.
Ada banyak cobaan hidup. Di antaranya berkisar masalah uang. Salah satu masalah yang kerap dijumpai berkenaan dengan uang adalah utang. Karena, kian hari utang menjadi sesuatu hal yang hampir tak bisa lagi terhindarkan.
Hidup di dunia moderen nyaris berhimpit dengan utang. Bahkan, untuk sebagian orang, utang menjadi gaya hidup. Orang bisa dikatakan maju jika mampu berutang. Semakin banyak utang, semakin tinggi status sosialnya. Orang kian dimanja dengan utang. Sekaligus ditipu dan dijatuhkan dengan utang. Na’uzdubillah min dzalik!
Seorang mukmin adalah manusia yang tidak tertutup kemungkinan tergiring dalam pola hidup seperti itu. Bisa banyak sebab yang menjadikan utang begitu dekat. Bahkan, menjadi incaran. Mungkin, masalah kemampuan ekonomi sehingga utang menjadi pilihan terakhir.
Masalahnya, mampukah seorang mukmin mengendalikan utang dalam kematangan dirinya. Utang beredar dalam batasan sarana yang hanya sebagai salah satu pilihan. Bukan sebagai tujuan. Jika utang menjadi tujuan, ia akan mengendalikan diri seseorang sehingga terpuruk dalam jurang kehancuran.
Betapa utang punya nilai bahaya yang lebih dahsyat daripada sebuah senjata yang mematikan. Bisa lebih ganas dari hewan buas mana pun. Di antara bahaya yang mengiringi belitan utang pada seseorang adalah:
1. Membuat diri menjadi hina
Harga diri seorang mukmin begitu tinggi. Tak seorang pun yang mampu merendahkannya. Karena, mukmin punya keterikatan dengan Dzat Yang Maha Tinggi dan Agung. Dan, seorang mukmin yang meninggal dunia demi mempertahankan kemuliaan itu, ganjarannya adalah surga.
Namun, kemuliaan itu kadang memudar manakala ada cacat dalam diri seorang mukmin. Di antara cacat itu adalah ketidakberdayaan membayar utang. Saat itu juga, terselip dalam diri seorang mukmin itu perasaan rendah. Bahkan, hina. Bayang-bayang ketidakmampuan itu menjadikan dirinya tak lagi berdaya di hadapan orang lain. Terutama, orang yang memberi utang. Ia tak lagi mampu menangkis marah, celaan, bahkan gugatan hukum sekali pun.
2. Mudah berdusta
Dusta adalah sesuatu yang tak mungkin dilakukan seorang mukmin. Rasulullah saw mengatakan seorang mukmin mungkin saja bermaksiat. Tapi, ia tak mungkin berdusta.
Lain halnya ketika utang sudah mengepung. Mau bayar tak ada uang. Mau menghindar terlanjur janji. Akhirnya, ada satu pilihan aman. Dan pilihan itu adalah berdusta. “Besok, ya!” Atau, “Oh iya. Saya lupa!” Itulah ungkapan-ungkapan yang kerap keluar tanpa lagi terkendali. Suatu saat, ucapan bohong itu menjadi biasa. Dan, orang-orang pun memberikan cap pada kita bukan hanya sebagai pengutang. Melainkan, juga sebagai pembohong. Nau’dzubillah!
Pernah para sahabat bertanya kenapa Rasulullah begitu banyak berdoa agar terhindar dari utang. Beliau saw bersabda, “Sesungguhnya jika seseorang terlilit utang ia akan berbicara lalu berdusta, dan berjanji lalu mengingkari.” (Mutafaq ‘alaih)
3. Memutuskan hubungan silaturahim
Seorang mukmin dengan mukmin lainnya memang seperti satu tubuh. Satu anggota tubuh sakit, yang lain pun ikut sakit. Tapi, ada satu hal yang membuat tubuh itu menjadi cerai berai. Tak ada satu hal yang paling rawan mampu menceraiberaikan keutuhan tubuh itu kecuali masalah uang. Dan di antara masalah uang itu adalah utang.
Tiba-tiba, seorang saudara menjadi asing dengan saudara lainnya disebabkan karena utang. Muncullah sesuatu yang sebelumnya tak mungkin ada. Ada rasa benci, marah, bahkan permusuhan. Terbanglah perasaan simpati, cinta, dan rindu layaknya seorang mukmin dengan saudara seakidahnya. Persaudaraan yang begitu sulit dan lama terbina, bisa terhapus hanya dengan satu masalah: utang.
4. Terjebak tindak kriminal
Pada tingkat tertentu, utang mampu menjerumuskan seorang mukmin pada tindakan yang sama sekali di luar perkiraannya. Sama sekali tak pernah tersirat kalau ia akan tega melakukan tindakan yang lebih buruk. Mungkin, di sinilah setan menuai sukses atas langkah-langkahnya.
Orang yang sudah dikendalikan utang tidak lagi merasa ragu melakukan tindak kriminal. Di antaranya, penipuan dan pencurian. Bayang-bayang hitam tentang utangnya menjadikan pandangan nuraninya menjadi keruh. Bahkan, gelap sama sekali. Tak ada satu tindakan yang lebih mendominasi dirinya kecuali bayar utang, dengan cara apa pun. Atau, tindakan yang tidak kalah parah: lari dari utang dengan cara apa pun.
Pada tingkatan ini, seorang mukmin mengalami kemerosotan kualitas diri yang luar biasa. Kejujurannya hilang, kemuliaannya sebagai mukmin menguap entah kemana, cahaya imannya pun kian redup. Dan, kenikmatan hidup tak lagi terasa. Bumi Allah yang begitu luas terasa sempit dan menyesakkan.
5. Meninggalkan beban kepada ahli waris
Alangkah berat duka anggota keluarga yang ditinggal pergi ayah atau ibu selamanya. Mereka begitu kehilangan seorang yang amat dicintai. Bahkan, seseorang yang menjadi andalan ekonomi keluarga.
Penderitaan pun kian berat manakala mereka tahu kalau almarhum mewariskan utang. Bagi mereka, tidak ada tawar menawar, kecuali membayar utang. Masalahnya, mampukah mereka membayar? Atau, utang menjadi warisan turunan.
6. Tertunda masuk surga
Ternyata, bahaya utang tidak melulu dalam wilayah dunia. Di akhirat pun, para pengutang akan mendapat cela yang tidak mengenakkan. Rasulullah saw pernah menasihati para sahabat soal ini. Beliau bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi, kemudian hidup lagi dan terbunuh lagi sedangkan ada tanggungan utang padanya maka ia tidak akan masuk surga sampai melunasi utangnya.” (Nasai, Ath-Thabrani, Al-Hakim)

Thursday, January 14, 2010

Perjuangan mengantarkan seorang khalifah

Aku teringat saat itu, Sabtu siang yang panas kami masih berjalan-jalan di seputaran Tanah Abang. Namun ketika jelang tengah malam, si calon ibu yang sedang hamil besar, yang tak lain adalah adikku, mengalami pecah ketuban. Cairan bening mengalir terus dari sela kedua kakinya. Kepanikan melanda. Maklum, aku tidak berpengalaman dalam hal ini. Karena memang belum pernah mengalami sendiri. Ada apa gerangan? Kenapa?? Mules-mules kah? Beribu tanya melanda.

Serta merta si calon bapak, sang suami siaga, langsung menyalakan mobil, bergegas memasukkan perlengkapan bersalin, memapah adikku ke dalam mobil. Aku duduk di sampingnya, membimbing sambil terus berdoa untuk keselamatan dia dan si jabang bayi. Kedua ibu dan bapak mertuanya pun turut bergegas masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, mobil melaju membelah keheningan malam. Tak henti-hentinya aku mengingatkan adikku untuk terus berzikir dan berdoa.

Tiba di Rumah Bersalin, 22.45
Syukurlah adik iparku telah melakukan survey kira-kira rumah bersalin mana yang akan dituju. Ketika di dalam mobil langsung menuju sasaran. Tiba di tempat, adikku langsung di bawa ke ruang bersalin, dan ibu bidan mengatakan baru pembukaan pertama, harus menunggu sampai pembukaan berikutnya. Proses menuju pembukaan berikutnya harus disertai rasa mules ditunggu maksimal hingga subuh keesokan hari. Jika normal, akan ditangani langsung oleh ibu bidan. Bila tidak, harus diserahkan kepada dokter.

Di atas tempat tidur, 05.30
Pembukaan tidak juga naik, masih tetap di pembukaan pertama, tanpa disertai rasa mules. Bu bidan mengatakan, bukan wewenang beliau untuk ambil tindakan berikutnya. Akhirnya dikonsultasikan ke dokter kandungan, pagi ini adikku harus diinduksi, untuk merangsang agar mules.

Pukul 06.30
Cairan induksi mulai dialirkan ke tubuhnya, melalui selang infus.
(Ya Allah...permudah....beri keselamatan, doaku dalam hati tiada henti)

Pukul 10.00
Dokter kandungan datang untuk memeriksa kondisi adikku. Beliau mengatakan, bila tidak terjadi pembukaan hingga 8 jam kemudian, terpaksa harus operasi caesar.
(Lakukan yang terbaik dok...yang penting keduanya selamat, kataku.)

Pukul 13.00
Cairan induksi telah habis satu botol. Dilanjutkan dengan botol kedua. Rasa sakit mulai melanda adikku. Berkali-kali dia menjerit menahan sakit yang luar biasa. Dua kali dia memuntahkan apa yang sudah dimakan sebelumnya. Kontraksi perlahan mulai memperlihatkan aksinya.

Pukul 14.00
SMS dari Jeddah, pesan singkat dari seluruh keluarga yang sedang menunaikan ibadah haji.  Mereka mendoakan keselamatan dan kemudahan dalam persalinan adikku. Mamaku berdoa khusus dalam thawaf wada'nya ketika itu. (Ya Allah....permudah, perlancar, beri keselamatan untuk anak dan calon cucuku.....)

Pukul 14.30
Tepat 8 jam kemudian....
Adikku tidak dapat menahan sakit yang terus menerus terjadi. Kontraksi mulai terjadi tiap beberapa menit. Alhamdulillah pembukaan terus bertambah.  Aku tidak dapat menahan tangis, turut merasakan apa yang dirasakan adikku.

"Aa...maafin Deby yaaa...." jerit tangisnya ketika itu. Air mataku menitik, tak kuasa membendung air mata yang terus saja mengalir.. Subhanallah....antara hidup dan mati di hadapanku kini. Perjuangan seorang ibu yang akan melahirkan seorang khalifah ke bumi ini.
(Beri adik saya kekuatan ya Allah......pintaku)

Ibu Bidan mulai bersiap-siap membantu.
"Ayooo....ibu...mulai ngeden yaa...." (dengan sabar si ibu Bidan membimbing adikku).

"Atur nafasnyaa.....tiup....yaaa....teruss....ngedennya di pantat yaa....jangan di leher." (Aba-aba terus diberikan)

Adikku dengan semangat mengejan. Berusaha mengeluarkan si bayi dari perutnya.

"Yaa...istirahat dulu. Atur nafas lagi. Ayoo....sekarang mulai lagi."

Aku dan suami adikku tetap berada di sampingnya. Terus memberi semangat. Si rambut kepala bayi mulai tampak di ujung jalan keluar. Aku berteriak..."Allahu akbar!!"

"Ayooo...semangat. Baca doa terus....Bentar lagi lahir...."
(aku layaknya seorang supporter pertandingan)

Kira-kira 10 menit kemudian dokter datang. Segera bergegas membantu persalinan. Kedua asistennya telah siap di posisi masing-masing. Gunting telah berada di tangan sang dokter. Aku tidak sempat memperhatikan apa yang dilakukan si dokter. Tak lama....suara tangis bayi terdengar dengan nyaringnya. Kamera HP langsung jeprat jepret dari tanganku mengabadikan momen luar biasa yang baru pertama aku saksikan langsung dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana seorang anak manusia lahir dari rahim bundanya, dengan proses normal.

Tepat pukul 14.51, hari Ahad, 13 Desember 2009,  Azka Alfahrezy Alen, ksatria suci yang dibanggakan, buah cinta adikku lahir dengan selamat. Kulitnya bersih, matanya bening, dan suara tangisnya memenuhi ruangan. SUBHANALLAH, ALLAHU AKBAR, ALHAMDULILLAH....pekikku. Dengan berat 3.1 kg, panjang 50 cm, wajahnya tampak menggemaskan.

Sang bapak, juga menjerit takbir. Anak pertamanya telah hadir kini. Membawa harapan baru buat keluarga. Penyejuk mata dan hati, kebanggaan keluarga dan umat kelak.

Doa seluruh keluarga, dukungan moral dan materil, tiada yang dapat membalas kecuali Allah azza wa jalla.

Alhamdulillah...adikku dapat melahirkan dengan proses normal, tanpa harus operasi. Padahal sebelumnya sudah diprediksi harus operasi caesar. Apalagi mulut rahim adikku berada di belakang. Namun keajaiban ini terjadi tak lepas dari doa yang mengguncang Arsy Allah.....terutama doa mamaku yang sedang berangkat ke tanah suci, aku yakin itu.

Selamat datang nak....jadilah pemuda soleh, pemimpin yang adil dan bijaksana kelak. Amin....

Jakarta, 15 Januari 2010
(satu bulan sudah engkau berada di tengah-tengah kami...tak sabar menantimu tumbuh)




Wednesday, January 6, 2010

Rasaku kini

Hari yang kembali sepi. Hari-hariku kembali ke sedia kala. Kembali ke rutinitas awal. Suamiku, si belahan jiwa kembali lagi ke bumi Serambi Mekkah untuk menjemput rizki. Cuti cukup lama menurut sebagian orang, tapi bagiku terasa amat pendek. Begitu cepatnya waktu itu berlalu. Rasanya tak ingin berpisah lama dengan dirinya.

Biasanya ketika tiba waktuku pulang kantor, aku selalu ingin cepat tiba di rumah, menemuinya dengan suka cita, mencium tangan dan pipinya, mengganggu dirinya di depan layar tivi, membuatkan secangkir teh hangat tuk dirinya, sambil menggelitiki pinggangnya atau mengusap-usap jenggotnya yang bikin gatal kulit. Tiap malam biasanya jalan berdua mencari jajanan sambil bergandengan tangan. Atau mendengarkan lagu-lagu jadul di kamar. Hmmm....sekarang sendiri lagi.

Aku merasakan cinta dan sayang untuk dirinya kian tumbuh subur seiring waktu. Tawa dan candanya kian membuat buncah kerinduan. Suaranya yang khas selalu mengusik telingaku, melahirkan rasa ingin selalu dekat dirinya.

Tak terasa pernikahan kami telah memasuki bulan ke delapan kini. Perlahan aku dan dia mulai memahami karakter masing-masing. Mulai kenal apa yang disukai dan tidak disenangi. Semoga saja rasa yang kami rasakan akan tetap seperti ini adanya. Menyayangi dan mencintai hanya karena Allah. Saling menjaga kehormatan di kala jauh. Saling menjaga amanah satu sama lain. Aku tetap ingin jadi yang terbaik buat dia, suamiku, seseorang yang Allah pilih untuk aku. Begitu pula dengan dia....Semoga saja.


Jakarta, 6 Januari 2010
Saat akang kembali lg ke NAD