Monday, March 22, 2010

Serambi Mekkah (day-1)


Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Banda Aceh. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh.

Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya.

Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968).

Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.(WIKIPEDIA)

Perjalanan yang tidak diduga dan diharapkan sama sekali. Suamiku, Kang Reza, yang biasanya tiap 2 bulan sekali mendatangi sang istri, untuk kali ini tidak mendapatkan cuti dari kantor. Sebagai pengganti, akulah yang gantian mengunjunginya. Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan, karena kakiku belum pernah menginjak bumi paling barat di Indonesia, Aceh, yang penuh cerita dan tragedi.

Hari itu, Jumat 12 Maret '10, Garuda mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, tepat pukul 9.30 pagi. Arsitektur bergaya mesjid, dengan kubah besarnya menyambut kehadiranku di bumi Serambi Mekkah. Hujan rintik mewarnai kedatanganku pagi itu.

Hari pertama di Banda Aceh, aku mewajibkan diri ke mesjid Baiturrahman, mesjid bersejarah, landmark kota Banda Aceh, saksi bisu kedahsyatan tsunami di Desember 2004.

Suasana nyaman langsung terasa ketika menginjakkan kaki di halaman mesjid nan luas. Luas area mesjid ini lebih kurang 4 ha, dengan luas ruangan dalam mesjid lebih kurang 4.760 m2, dengan lantai marmer buatan Italia, serta mampu menampung 9000 jamaah. Kemegahan mesjid dengan arsitektur nan cantik turut menambah kemolekan mesjid agung ini. Proses perapihan dan mempercantik mesjid terlihat di sana sini. Menurut salah seorang yang pernah datang ke sini...dia mengatakan bahwa Baiturrahman mirip dengan mesjid yang ada di Masjidil Haram....Benarkah?? Dan katanya lagi...tak kalah indahnya....Subhanallah...!!

Suasana hangat kian kental dengan ramainya suara anak-anak yang sedang belajar mengaji di dalam ruang mesjid utama. Serempak mereka mengikuti bimbingan bacaan dari sang guru. Teringat dengan masa kecilku yang juga belajar mengaji ke mesjid. Ahh....aku rindu masa-masa itu.

Baiturrahman, 12 Maret 2010

Makasi kang..karena Allah dan dirimu, aku tiba di Serambi Mekkah

Friday, March 12, 2010

Senja di Tepi Kali (day-1)

Masih berada di Bumi Serambi Mekkah, tak jauh dari mesjid Baiturrahman, tepatnya di jalan Tepi Kali. Ternyata Banda Aceh menyimpan landscape sungai nan anggun, terbentang dengan moleknya, dikangkangi oleh gagahnya jembatan Pante Pirak. Konon nama si sungai adalah Krueng Aceh atau sungai Aceh.

Krueng Aceh, sungai yang tenang dipayungi langit biru menghiasi sore nan teduh. Pepohonan rindang berdiri gagah sepanjang bantaran. Bangku-bangku taman unik berjejer di sepanjang tepi sungai, dialasi lantai kayu nan etnik. Tanaman-tanaman hias yang dijajakan berjajar rapi di sepanjang pinggiran bantaran sungai. Area jogging track turut melengkapi land
scape ini. Berdasarkan hasil pantauan sekilas, penataan landscape sungai adalah hasil kerjasama dan bantuan dari pemerintahan Jepang pasca tsunami.

Sebuah sarana rekreasi yang menyenangkan. Sekaligus tempat melepaskan lelah apalagi ketika pulang kerja dan penat setelah seharian beraktivitas. Tempat ini sepertinya dijadikan pula sebagai ajang tempat bertemu. Pemuda-pemudi Aceh tampak bergerombol bercengkrama. Ada yang tertawa-tawa, berfoto-foto
, membaca buku, melamun, dan saling mengobrol.
Sore cantik, ditemani oleh seorang pria simpatik...membuat orang-orang jadi melirik.. Yups...sore itu aku menikmati kunjungan perdana di bumi Serambi Mekkah. Di Aceh, melihat pria dan wanita berdua-duaan menjadi pandangan aneh. Apalagi aku dan suami tidak menuntun seorang anak, kelihatan sekali seperti remaja kasmaran. Tapi diam-diam di tasku telah tersimpan dengan rapi surat ijin bergandengan tangan dan berduaan. Dimaklum, karena pemerintah setempat memberlakukan syariat Islam di daerahnya. 
Menikmati sore di Aceh tidak lengkap rasanya tanpa meneguk secangkir kopi atau teh. Masih dekat dengan lokasi landscape sungai, sebuah warung kopi yang cukup ramai dikunjungi, dilengkapi pula dengan fasilitas Wifi, tempat ini menjadi tempat ajang nongkrong anak-anak muda Aceh. Ditilik dari bangunan, tidak ada yang istimewa atau menarik, hanya bangunan ruko biasa dan interior yang sangat biasa pula. Namun pengunjungnya cukup ramai sore itu. Nama warung kopinya adalah Chek Yukke. Aku dan suami memesan kopi sanger, kopi khas Aceh. Bagi para pecinta kopi mungkin dapat membedakan cita rasanya. Namun bagiku yang bukan penggemar kopi, rasa kopi tetap sama saja. Rasa kopi sanger ini lebih mirip kopi cappucino. Kue yang dihidangkan sebagai teman minum kopi yaitu kue timphan kue khas Aceh, terbuat dari tepung ketan, santan, dan berinti asokaya (adonan srikaya) yang cukup bergizi, karena kandungan telurnya. Selain kue timphan, terhidang pula kue donat, pisang goreng ditaburi coklat meses, dan tempe goreng tepung. Bila lapar dan ingin makanan berat, tersedia pula beberapa gerobak yang menjual beraneka makanan pelepas lapar. Selain warung Chek Yukke, ada satu tempat makan yang terkenal pula di Banda Aceh, yaitu warung Canai Mamak, tempat makan dan nongkrong sambil menatap layar laptop. Di Canai Mamak pula aku dan suami 
berkesempatan reunian dengan salah satu teman SMP ku yang kebetulan tinggal di Banda Aceh. Terpisah selama 16 tahun...dan akhirnya Allah berkehendak mempertemukan kembali. Ahh senangnya....


Banda Aceh, 12 Maret 2010