Friday, June 27, 2008

Air Mata Kepedihan

Air matanya menetes lagi. Menitik kembali dari matanya. Menangis untuk yang kesekian kalinya karena orang yang sama.

Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Ya...merasakan apa yang dirasakan oleh sahabat dekatku ini. Teman dan sahabatku sejak masa-masa kuliah hingga detik ini.

Sebut saja namanya Vina. Pagi itu di sela-sela kesibukanku bersiap-siap berangkat ke kantor, Vina meneleponku. Suaranya terdengar sangat lemah, tidak berenergi, parau, diteruskan dengan suara sesenggukan. Aku hampir tidak bisa mendengar apa yang dia katakan karena diselingi dengan suara isak tangisnya.

Aku sudah menduga apa yang membuatnya seperti itu. She's crying again...and again...Begitu besar rasa cinta dan harapnya pada pria itu. Padahal semua cerita cinta mereka telah usai hampir dua tahun silam.

Dia Andi, pria itu...yang telah membuka luka itu terkoyak kembali. Dia yang juga teman baikku di masa-masa kuliah. Andi dan Vina adalah sepasang kekasih di kelasku selama 4 tahun perkuliahan hingga berlanjut pasca kita menyelesaikan studi. Kalau dihitung-hitung, hubungan dekat mereka telah berjalan selama lebih kurang 8 tahun. Bayangkan....8 tahun!! Namun semua kandas dan berakhir duka bagi Vina. Apakah Andi juga?? Aku tidak tahu pasti.
Andi dan Vina adalah pasangan yang serasi dalam pandangan mata kami teman-temannya. Andi seorang pria yang kalem, baik, pintar, sabar, anak bungsu dari 2 bersaudara. Tipikal pria yang diidamkan banyak wanita. Sedangkan Vina seorang gadis yang pendiam, lembut, sedikit pemalu, tipe yang ngalah, anak pertama dari 3 bersaudara. Pas sekali dengan Andi, bagaikan botol ketemu dengan tutupnya. Klop!!

Namun semua hanya tinggal cerita bagi mereka berdua. Bahkan hingga Andi mengabarkan pernikahannya via milis kampus, salah seorang temanku, Rika namanya, masih menyangka dia akan menikah dengan Vina. Yach...kabar pernikahan Andi lah yang membuat Vina berdarah-darah lagi. Walaupun....kisah mereka telah usai 2 tahun silam.

Aku bagaikan seorang wasit di antara mereka berdua. Ketika hubungan mereka berakhir, baik Vina maupun Andi menghubungi diriku perihal tersebut. Dan ketika Andi akan melaksanakan akad nikah, aku pun termasuk yang dia beritahu terlebih dahulu sebelum dia mengabarkan ke Vina rencana pernikahannya. Andi minta pertimbangan dariku bagaimana dia harus memberitahu kabar tersebut ke Vina.

Aku menyayangi mereka berdua sebagai sahabat-sahabat terbaikku. Namun untuk masalah hati ini....aku pun jadi bingung. Di satu sisi aku bisa memastikan apa yang akan terjadi dengan Vina bila dia mendengar kabar Andi tersebut. Seperti yang telah aku ungkapkan di depan....dia meneteskan air matanya lagi. Tapi...mau tidak mau...siap atau tidak siap...Andi harus memberitahu Vina secara jantan. Dia harus mengabarkan langsung ke Vina. Apapun konsekuensinya. Walaupun mungkin hati Vina akan tersayat-sayat lagi. Tapi aku sudah menganggap itu bagian dari masa lalu mereka berdua. Jadi adalah hal yang wajar bila siapapun yang  akan melangkah duluan ke pelaminan. Salah satu pihak harus mengikhlaskan. Karena masalah jodoh tidak bisa dipaksakan. 

Ketika Hari H itu tiba....

Dengan berbekal ketegaran dan kebesaran hati, akhirnya Vina datang ke resepsi pernikahan Andi. Aku tidak menduga sama sekali bahwa Vina akan memenuhi undangannya. Dari awal aku tidak berani mengajaknya, khawatir sesuatu yang tidak enak terjadi lagi. Namun ketika Vina mengajakku untuk menemaninya, dengan senang hati aku iyakan. Dan aku memang sudah janji ke Andi bahwa aku akan datang ke pestanya.

Vina butuh teman-teman untuk membantunya tetap tegar. Dan aku yakinkan dia, bahwa dia bisa lewati itu semua. Hanya masalah waktu. Dan dia juga harus lihat langsung bahwa Andi telah memilih wanita lain sebagai pendampingnya. Juga untuk menepis semua kenangan yang pernah mereka rangkai bersama. Biarlah Vina yang mengubur semua rasanya pada Andi.


Aku perhatikan Vina....tetap dengan senyum yang mengembang....dia menyapa semua saudara-saudara Andi yang dia kenal dalam pesta itu. Dengan ketegaran...dan mudah-mudahan seperti itu, dia dapat menyembunyikan perasaannya yang terdalam. Pun ketika dia memberi ucapan selamat pada Andi dan istrinya, juga orang tua Andi yang sudah begitu ia kenal dekat.

Aku belajar banyak pada Vina malam itu. Dia dapat mengatasi perasaan hatinya. Justru aku lihat Andi yang tampak tegang ketika melihat kehadiran Vina dalam pestanya. Tapi syukurlah...di akhir acara Andi sudah dapat tersenyum lepas. Mungkin dia kaget karena tidak menduga bahwa Vina akan hadir dalam pernikahannya.

Walau mereka berdua tidak menjadi sepasang suami istri, namun bukan berarti mereka harus putus hubungan sebagai teman, sahabat, dan saudara. Tetaplah menjadi teman yang baik tanpa harus ada kebencian atau dendam di dalam hati. Sungguh Allah maha tau apa yang terbaik untuk kita. Kadangkala Allah mengambil sesuatu yang kita sayangi dari genggaman agar kita kembali mesra denganNYA. Mungkin juga kita terlalu sibuk dengan cinta makhluk yang kemudian mengabaikan cinta sejati sesungguhnya pada Yang Maha Rahiim.

Cerita itu telah usai Vin....

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS.
Al-Baqarah [2] : 216)
Bila Alloh cepat mengabulkan Doamu, Maka DIA Menyayangimu
Bila DIA Lambat mengabulkan doamu, Maka DIA Ingin Mengujimu
Bila DIA Tidak mengabulkan Doamu, Maka Dia merancang sesuatu yang lebih baik untukmu.
Oleh karena itu, sentiasalah berprasangka baik pada Alloh dalam keadaan apapun.

Karena kasih sayang Alloh itu mendahului kemurkaanNya...

Jakarta, 24 Juni 2008
(Plis....jangan nangis lagi ya....)





6 comments:

  1. sekian bulan lalu, sahabat saya mengalami hal yang sama mbak..leleki yang dia harapkan, menikah dengan perempuan lain dan hebatnya dia jadi panitianya mbak bahkan jadi panitia yang paling sibuk. saya sampai bingung melihatnya...
    Terus sahabat saya itu bilang ke saya, bahwa tali persaudaraan dia dan lelaki itu tidak akan putus hanya karena lelaki itu memilih perempuan lain, justru dia senang karena itu berarti saudaranya bertambah lagi..saya jadi terharu...
    Ya, berlapang dada..sabar, ikhlas memang kunci kehidupan, dengan ketiganya insya Allah apapun bisa kita lalui...
    Salam buat temannya ya, mbak...

    ReplyDelete
  2. Insya Allah...saya sampaikan....saya juga salut dengan teman mbak anni. Jarang ada wanita yang bisa seperti itu...berhasil mengalahkan perasaannya....

    ReplyDelete
  3. baca kisah ini jd ikut termehek-mehek ;)

    ReplyDelete
  4. jujur aja, gw sebenernya juga sempet bertanya2 akan kisahnya Andi dan Vina....kenapa sedah sejak lama gak pernah disinggung lagi diantara kita2 mantan temen2 sekelas....tapi gw gak berani nanya atopun berkomentar....

    Thanks a lot Des buat storynya....at least it´s clear now, hopefully for the others too......

    NB: Vina, i know you´re a strong woman...and i know that u can go through this "test of life"...so keep strong and never forget to smile :) no matter how hard and hurt it is...

    ReplyDelete
  5. Ya ...karena sebagian kita tau karena hubungan mereka udah berakhir sejak 2 tahun lalu...makanya ngga berani tanya2 lagi.....utk jaga perasaan lah....Semoga aja "VINA" jadi wanita kuat....amin...

    ReplyDelete