Monday, February 2, 2009

ArchitecTOUR yang seru!!


Pengembangan kawasan pesisir pantai di utara kota Serang dengan konsep eco village yang mnggunakan pendekatan pada visi energi, ekonomi dan lingkungan yang kemudian diberi nama Kampung Tapak Bumi (tapak bumi village). Area ini merupakan proyek percontohan wisata bahari, eco tourism, aplikasi energi terbarukan, dan sebagai wujud tanggung jawab dalam rangka mengurangi dampak pemanasan global.
Yang ditawarkan dalam kawasan ini adalah :
1. pemanfaatan energi listrik tenaga angin dan tenaga matahari
2. hunting photo
3. sunset
4. kehidupan nelayan
5. makan sea food segar
6. hutan bakau
7. pengamatan burung
8. home stay
9. budi daya ikan bandeng
10. budi daya kepiting
11. wisata benteng-benteng peninggalan belanda
12. wisata kesultanan banten lama
13. wisata bahari
Untuk peta dan video nya bisa dilihat di blog www.indonesianvillage.com
Pada tahap awal sudah terbangun satu home stay bertenaga surya, penangkaran ikan dan budidaya kepiting. Secara bertahap pembangunan fasilitas lain diharapkan selesai terbangun di tahun 2009

Perjalananku selama Januari 2009 berakhir di Banten. Lagi-lagi dengan suasana khas pedesaan. Itung2 pulang ke tanah leluhur, karena nenek dari ibuku emang berasal dari Banten.

Perjalanan dimulai menuju kota Banten Lama, yang merupakan bekas peninggalan Kesultanan Banten, Serang. Tapi sangat disayangkan...karena peningggalannya hanya berupa situs2 yang nyaris punah, dan yang tersisa secara utuh hanya bentengnya saja, yang dinamakan Benteng Surosowan.

Untuk lebih jelas mengenai tempat tsb, aku kutip dari Wikipedia berikut ini :

Keraton Surosowan adalah sebuah keraton di Banten. Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Sultan pertama Banten, Sultan Maulana Hasanudin dan konon juga melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memeluk Islam yang bergelar Pangeran Wiraguna . Dinding pembatas setinggi 2 meter mengitari area keraton sekitar kurang lebih 3 hektar. Surowowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan.

Keraton Surosowan ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing terletak di sisi utara, timur, dan selatan. Namun, pintu selatan telah ditutup dengan tembok, tidak diketahui apa sebabnya. Pada bagian tengah keraton terdapat sebuah bangunan kolam berisi air berwarna hijau, yang dipenuhi oleh ganggang dan lumut. Di keraton ini juga banyak ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi (petirtaan). Salah satu yang terkenal adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok. Ada pula pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas”.

Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter. Ada dua sumber air di Surosowan yaitu sumur dan Danau Tasikardi yang terletak sekitar dua kilometer dari Surosowan. (Wikipedia)
-----------------

Dekat dengan benteng tadi, juga ada museum yang menyimpan benda2 purbakala yang terkait dengan kesultanan Banten, juga mesjid Banten yang masih utuh dan masih dipergunakan hingga kini.
Ingin mengetahui lebih jauh?? silakan kunjungi kawasan Banten Lama yg cukup eksotis...dengan pemandangan persawahan di sana sini, dan yang lebih penting, kita dapat belajar sejarah dengan berkunjung ke sana.

--------
Ok...selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju tujuan utama yaitu wisata ecovillage yang dekat dengan pelabuhan Karangantu yang masih berada beberapa kilometer dari Banten Lama.

silakan intip di http://indonesianvillage.com/

Wah...bener2 mengesankan. Mengapa??

Menuju lokasi harus berjuang menjaga keseimbangan tubuh agar tidak terpeleset ke empang di kiri dan kanan. Maklum, cuaca saat itu baru saja selesai diguyur hujan. Sehingga jalan yang dilalui sangat lengket, becek...dan ngga ada ojyeekk.....terpaksa lah harus nyeker pulang dan pergi. Tampang kaki udah ngga karu2an bentuknya....tapi aku begitu menikmati...jadi ingat jaman kuliah ketika ada kegiatan Lintas Desa....

Kegiatan hari itu ditutup dengan makan seafood di De Coast BSD...

Thanks utk temen2 IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) cab. Banten, yang udah membawaku menuju perjalanan tak terlupakan....

Banten, penghujung Januari 2009
310109

61 comments:

  1. ini bandeng lagi dilulurin kayak cleopatra

    ReplyDelete
  2. aku bukan dari arsitektur....tapi dari Landscape Architecture....ini bareng2 temen di FB...linknya dari si bos...gitu loh...

    ReplyDelete
  3. secatik yang punya blog kah??? ^___^
    amiin

    ReplyDelete
  4. amin...amin...*khusyu*
    Pa kabar punk?? kapan kasi undangannya??

    ReplyDelete
  5. tadinya sih gitu....tapi apa daya...tanganku jadi terkilir yang ada....ya udah deh...akhirnya poto2 doang....

    ReplyDelete
  6. Klo aku suka bantennya tapi ga suka gubernurnya... ^^

    ReplyDelete
  7. Mentang ya arsitektur landscape... Qeqe

    ReplyDelete
  8. sentimen ma atut ya? gara2 beli ijasah??

    ReplyDelete
  9. ya dong...landscape itu kan artinya bentang alam muse....

    ReplyDelete
  10. Jembatannya emg keren, tapi yang diatasnya..... ^^

    ReplyDelete
  11. Kan deket banget ya dari sini... Selemparan air ludah *evelina setiawan mode on*

    ReplyDelete
  12. iya...deket pisan...tapi dirimu kok ngga nyusul??

    ReplyDelete
  13. Iyyah.. Aku lho butuh 5 tahun 8 bulan baru dapat ijasa D4.. Lah dia 15 bulan S1 ajah.,... Hmmm

    ReplyDelete
  14. Kirain ikatan akuntan indonesia... Makanya kok tak ada yang aku kenal ya...

    ReplyDelete
  15. yup...apalagi aku...butuh waktu 4.5 tahun utk dapat S1...BAYANGKAN....betapa tidak adilnya DUNIAA......!!!!

    ReplyDelete
  16. Ya sudahlah itu sudah jadi takdirnya dia.. Toh masih ada pengadilan akhirat mbak ^^

    ReplyDelete
  17. aku yang bilang muse...bukan kamu kok...kan narsis....

    ReplyDelete
  18. jalan2 muluuuuuuuuuuuuuuuu
    pantesan ga pulang2
    banyak duit yah?

    ReplyDelete
  19. mari bersama kita tuntut...seperti yang dilakukan oleh Marissa HAque....!!

    ReplyDelete
  20. iya..ya...ngga diajak...pantesaaannn.....ngga muncul2.....

    ReplyDelete
  21. bukan ga bisa masuk..
    emang kamuh lagi di dalam kan
    terpenjaraaaaaaaaaa...:-)

    ReplyDelete
  22. masa sih sen?? tapi iya sih...selama januari aku keluar kota teruss....
    lagi ada yg kasi rejeki...bukan akunya yg banyak duit...kalo aku bnyk duit ntar km minta lagiihh.....

    ReplyDelete
  23. yeee....itu di luar tauuuuu.....!!
    payah nih sennoo...sok tau pisaannnn....cape deehhh

    ReplyDelete
  24. Setuju.. Hidup marissa.. Aku dibelakangmu.. qeqe

    ReplyDelete
  25. sama2 mas yayan...moga manfaat infonya....

    ReplyDelete
  26. ya tau lah...secara dirimu gitu loh
    heheh...ga adi ahhh ntar dia penasaran lgeee

    ReplyDelete
  27. biarin ajah
    matak balik...ngarah teu penasaran deui
    :-)

    ReplyDelete
  28. ini mesjid tempat yudi minggat des..trus dia disuruh pulang ama ustadz nya..

    ReplyDelete
  29. emang benr enak ya des..habis itu dibakarkan?

    ReplyDelete
  30. ok deh...ntar balik...biar ngga mati penasaraaannnnn

    ReplyDelete
  31. yudi minggat kenapa?? sampe kabur berguru ke banten???

    ReplyDelete
  32. yup...dibakar...dan dimakan...ENAK BANGET....rasa lumpur empangnya hilang boooo

    ReplyDelete
  33. pantesan enggak pernah muncul :)
    have a nice holiday ya say ...

    ReplyDelete
  34. ngga muncul ke permukaan?? sori...lagi tenggelam dalam dunia travelling....

    ReplyDelete
  35. hmmm...
    tahun lalu dari bandung bronis belum nyampe..
    trus ke jogja belum nyampe juga oleh2nya
    sekarang dari banten, bandengnya juga gak nyampe... :D

    ReplyDelete
  36. wah, keren-keren... jadi pengen jalan-jalan ke sana

    ReplyDelete
  37. mbak,, itu bandengnya ga dibersihin dulu? maksudnya dibakar ama lumpur-lumpurnya..? baru tahu saya.. emang enak gitu ?

    ReplyDelete
  38. Sejarah tinggal sejarah , pemkot dinas pariwisata banyak yang tidak memeliharanya , berarti banyak situs yang sudah menghilang lagi

    ReplyDelete
  39. Alhamdulillah pernah kesini..
    Kolam hijaunya ga difoto..kalo menurut aku, itu yang keren..:)

    ReplyDelete
  40. waduh...pada ngga nyampe semua ya...
    nyangkut di mana ya?? *belagak bego*

    ReplyDelete
  41. yuk...belajar sejarah dengan travelling....sangat menyenangkaannnnnnn!!

    ReplyDelete
  42. bandengnya dibersihin...trus dibalurin lumpur...dibakar sampe kering...rasannyyyaaaa...ENAAAAKKKK BANGET...cobain dehhh

    ReplyDelete
  43. sejarah...jgn sampe punah...mari kita jaga dan lestarikan bersama

    ReplyDelete
  44. iya...ngga bisa masuk ke dalam...tau tuh kuncen pada kemana...sebel bangett

    ReplyDelete
  45. Sulitnya sudah banyak yang di perjual belikan , padahal melewati bea cukai mengapa bisa lolos keluar negri yaaaaa ?????? , cukup aneh juga katanya cinta negri sendiri tapi kok di jual keluar negri , dulu masih banyak patung patung di sekitar pintu utama tapi sekarang dah menghilang dengan sukses

    ReplyDelete