Monday, November 16, 2009

Suatu Malam yang Sepi



Matanya sembab. Merah. Bengkak. Sisa air mata masih terlihat. Baru saja dia menutup ponsel sederhananya. Kemudian meletakkannya begitu saja. Tanpa pernah mempedulikannya lagi. Terlihat waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Suasana sepi, senyap, tak terdengar suara sedikitpun. Terlihat pancaran mata penuh kesedihan. Entah apa yang dialaminya. Dia tidak terbiasa bercerita. Tidak pernah sedikitpun menceritakan masalah yang dihadapinya. Semua dia simpan rapat sendiri. Seorang diri.

Sepanjang malam dia menangis, menangkupkan kepalanya di atas bantal di sudut pembaringan. Tiada teman. Bermain dengan pikirannya sendiri. Berbincang dengan nuraninya. Percakapan batin. Matanya menerawang. Ntah kemana. Ditatapnya tembok putih di hadapannya. Juga foto-foto kenangan manisnya. Bibirnya bergetar. Mencoba tersenyum.

Tak lama dibentangkannya selembar sajadah. Dibasuhnya wajahnya dengan air. Namun mata itu, masih saja menyisakan kesedihan. Perlahan ditutupnya aurat. Masih dengan suara tangis tertahan. Perlahan mengangkat kedua tangannya, takbiratul ihram. Allahu Akbar. Lamat terdengar bacaan al fatihah dan surah Al Insyiroh. Dia meresapi ayat tiap ayat.

Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu?
dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
yang memberatkan punggungmu?
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu,
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.


Dia berhenti sejenak. Tangisnya kian menjadi. Sesudah kesulitan ada kemudahan. Janji Tuhannya, telah tersebut. Apa yang harus ditakutkan?? Dia melanjutkan ayat berikutnya.


Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.


Hanya pada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Bukan pada makhluk. Bukan pada manusia. Bukan pada siapapun. Dia begitu meresapi ayat terakhir. Suara sesenggukan masih terdengar.

Dia sadar, selama ini dia terlalu menggantungkan harapan pada manusia. Berharap yang muluk-muluk. Harap yang berlebihan terhadap sesuatu. 

Kecewa. Kemungkinan itulah yang dia dapatkan.

Dalam sujud panjangnya malam itu, dia mengadukan segala kegalauan dan kegundahan hatinya pada Tuhannya. Masih dengan isak tangis. Menahan semua kesedihan dalam hatinya. Wajahnya basah. Air mata telah menganaksungai.

Hanya dia, dia yang di sana dan Tuhannya yang tahu permasalahan itu. Tuhan menjadi tempat curahan hati atas setiap masalah. Dia lah jawaban. Bukan yang lain. Tidak juga orang terdekat mereka. Tapi Dia. Allah azza wa jalla.


Jakarta, 14 Nov 09

(Saat tak berdaya)



19 comments:

  1. tetap semangat mba des!!
    Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hambaNya...

    Caiyo!!

    ReplyDelete
  2. @ lestari, anggraeni, nisa, mas suga : sipp....seberat apapun masalah ada solusinya ya? tapi knp seringkali dalam setiap masalah yg pertama dilakukan adalah menangis??

    @ uli : gpp li....hanya ada sedikit yg mengganjal perasaan...I m ok kok...dont worry

    ReplyDelete
  3. Tetap senyum ya Dess.. :) semua manusia diuji kok, don't worry.. :)

    ReplyDelete
  4. yup mba desy... hanya Allah Swt satu2nya penolong kita, dan hanya kepdanya lah kita berserah diri dan memohn pertolongan.Manusia hanya perantara, jadi jgn pernah berharap lebih banyak ke pada manusia....

    ReplyDelete
  5. @ uniq : berusaha utk tetap tarik bibir ke pinggir yaa....he..he..he..makasih niq...
    @ gina : ya...pelajaran itu tdk juga nerap ke aku...bhw kita ga blh berharap lbh pd manusia...susah ya ternyataa
    @ genkeis : insya Allah....syamsul jg ya....

    ReplyDelete
  6. sabar.. pasti ada waktunya kecewa ada waktunya bahagia.. semua ada jalannya..

    ReplyDelete
  7. iya mba tin2...makasi atas semangatnya...apa kabar mba? kok ndak nulis???

    ReplyDelete
  8. Ada kalanya seucap kata tidak terkatakan pada sesama
    tapi akan lebih terbuka pada Allah SWT
    jadi biarkan mengalir dengan sendirinya apa yang di niatkannya

    ReplyDelete
  9. aaah... mbak dessy, tulisannya bagus :)

    ReplyDelete
  10. @ mrdjm : rasanya lebih leluasa kalau curhat ama Allah....walaupun solusi itu tidak langsung ada, namun batin akan tenang rasanya
    @ lia : makasi lia...sekalian mengasah terus neh.....

    ReplyDelete
  11. lama gak baca, tulisannya tambah bagus... gak hrs nunggu sedih kan buat nulis sebagus ini... smile...

    ReplyDelete
  12. Yaaa betul jawabannya melalui situasi yang lain dan selalu bermanfaat buat menyelesaikan permasalahan yang lainnya

    ReplyDelete
  13. @ mba murti : matur nuwun mba...makasih yoo...jadi GR neh tulisanku dibilang tambah bagus...xixixi...
    iya nih...kadang emosi ketika sedih itu membuat kepala dan tangan lebih kreatif menulis dibandingkan ketika emosi datar2 aja. Nyata banget bedanya. Itu aku rasain sendiri....
    @ mrdjm : sip....makasi pak charles...gmn sehat kan?

    ReplyDelete
  14. Makasih kembali Deeeeessss
    Alhamdulillah sehat , bagamana sebaliknya ????????

    ReplyDelete